Sudah pernah Maharaja hentikan harapannya untuk bersama Pulung. Pikirnya, mungkin memang dirinya bukanlah yang terbaik sebagai pilihan untuk di sandingkan bersama Pulung. Dan Maha tidak marah. Tidak mengutuk sama sekali pada tiap-tiap keputusan Tuhan. Maha justru bersyukur. Dengan begitu, ada effort untuk dirinya berjuang. Membenahi dirinya, mengambil jeda waktu yang terbuang untuk menumpukan harapan atas nama cinta dan berhenti untuk mencari kebahagiaannya.
Faktanya?
Hasilnya?
Benar. Tuhan tidak pernah ingkar perihal janji-janjinya. Tuhan tidak pernah keliru pada benang merah takdirnya yang sudah di ulurkan. Pada akhirnya, usaha yang Maha lakukan membuahkan hasil pada proses kematangan.
Di mana kini Maha ceritakan teruntuk masa lalunya. Sebelum Maha lupakan secara benar kisah-kisah kelam yang tertuang di dalamnya. Sebelum Maha bersihkan seluruh sisanya untuk proses yang sebenar-benarnya. Untuk masa lalunya, izinkan Maha menyampaikan perasaannya lewat sebuah tulisan yang mana nantinya takkan terbaca lagi.
Akan Maha ucapkan terima kasih sebagai permbuka. Yang pertama kalinya sepanjang hidup ini telah bersabar menjalani semua hari-hari dalam perjuangannya. Terima kasih pada semua kasih sayang dan perhatian dari buah kesabaran yang terus beriringan, telah Maha temukan sebuah arti dari proses kenikmatan yang tiada tara dahsyatnya. Untuk doa-doa yang terus Maha panjatkan, telah terkabul secara apik meski tidak instan. Di waktu yang sama, ada rasa kehilangan yang menumbuhkan sebuah kehidupan baru.
Namun juga maaf. Untuk masa lalu yang terbilang kelam namun indah. Telah engkau hadirkan seorang bidadari cantik; Pulung Rinjani. Di mana sosoknya sangat eksotis di penglihatan Maha. Sangat menawan mencuri hati dan menyita seluruh perhatiannya. Yang di hari itu Maha deklarasikan perjuangannya demi mendapatkan hati Pulung. Maha senang. Bahagia, tentu saja. Semua terasa sia-sia pada awalnya. Bahkan menyerah sudah Maha lakukan. Berhenti, sudah Maha tekadkan. Dan mengubur seluruh harapannya, sudah Maha hempaskan.
Maaf karena selama proses dalam berjuang tidak ada rasa syukur yang terpanjat. Hanya merutuk, mengumpat dan menyalahkan takdir yang jelas-jelas amatlah adil—di hari ini. Maaf karena gagal menjadi seorang umat yang hingga hari ini ternyata menjadi kesayangan Tuhan. Yang memperjuangkan sebuah keinginan dengan kata-kata kotor terlontar terus-menerus dari mulutnya. Tapi Tuhan tunjukkan jalan secercah kebahagiaan.
Rasanya ini semua jika harus Maha tuliskan pun takkan cukup satu buku. Karena untuk mengenang masa lalunya yang buruk, Maha ingin menghujat dirinya sendiri. Sebagai pelajaran untuk masa depannya. Tanpa keluhan apalagi caci maki.
Namun ada satu kesimpulan yang ingin Maha tarik di sini. Bahwa tidak pernah satu kali pun dalam satu hari Maha menyesali semua keputusannya untuk berjuang. Untuk mencintai Pulung yang telah membuat dirinya berlaku kejam. Bahwa untuk merebut hatinya harus Maha saksikan kesakitan Pulung. Tak hanya sekali tapi berkali-kali.
Maha mengalah bukan untuk menerima kekalahannya. Hanya sedang memikirkan strategi yang tepat menangani rasa kekecewaannya. Menyiapkan amunisi ke depannya untuk berperang. Dan Maha hormati pilihan Pulung yang tak bisa memilihnya di hari itu.
“Nulis apa?”
Untuk Maha miliki hari ini.
“Ada, deh. Sudah?”
Adalah Pulung yang ujug-ujug berdiri tepat di samping tubuhnya. Beruntung, refleks Maha sangat cepat dan terbilang bagus. Sehingga buku dalam genggamannya lekas tersimpan ke dalam tas kerjanya.
“Besok aku masih ngajar lagi. Seminggu tiga kali selama satu jam.”
“Oke.”
Maha raih tangan Pulung untuk dirinya telusupkan ke sela-sela jarinya. Uhh, terasa pas. Telapak tangan Maha yang besar berada di bawah telapak tangan Pulung yang mungil nan imut.
Sekarang rasanya sangat membanggakan. Lantaran bisa Maha genggam Pulung dengan bebas. Dengan akses yang lebih normal. Tidak seperti dulu yang acap kali Maha gaungkan dalam benaknya: untuk apa menggenggam hatinya jika hati Pulung tak pernah mau menyentuh relung Maha. Atau cinta yang Maha kucurkan tak mampu membuat Pulung bisa berbalik melihatnya.
Maka, sebagai jalan terbaik hanya menghargai keputusan atas apa yang ingin Pulung jalani. Ikhlas, nyatanya tak semudah kita membalikkan tangan. Tidak juga semudah kita menjawab sedang hati berkedut sakit.
Kala itu … sengaja Maha lepaskan bukan karena tak cinta. Bukan juga karena ingin berhenti berjuang. Tapi untuk hari ini—dengan kepingan-kepingan hati yang berserakan—Maha raih cinta yang sesungguhnya. Sisa sakit pada cinta untuk Pulung di terdahulu masih terasa.
“Aneh,” ujar Pulung dengan mata menelisik.
“Apa?” jawaban Maha menyerupai tanya. Dengan kedua tangan yang sibuk menyetir dan fokus mata yang sesekali membalas tatapan Pulung.
“Kamu.” Kerutan di dahi Maha tercetak jelas. Yang di netra Pulung begitu menggemaskan. Membuat tangannya gatal ingin mengelusnya.
“Aku? Kenapa?”
Sampai sini ada yang paham? Ada yang seserver dengan Pulung? Maha terlalu banyak senyum hari ini. Dan itu tuh ganteng banget atau Pulung yang baru siuman?
“Nggak, deh! Dasar nggak pekaan.” Pulung menggerutu dengan nada misuh-misuhnya yang unik. “Cowok memang sama saja!”
Hei!
Kali ini Maha betulan tidak tahu kenapa sampai Pulung menghujatnya. Aturan, ya, tinggal ngomong saja dirinya ada salah apa. Jangan membuat kami kaum lelaki menebak-nebak. Itu sama saja kaya harus menentukan kapan tanggal haid pasangannya sedang siklusnya bisa maju mundur cantik.
Nah … dikarenakan Maha sedang amat-amat bahagia, senyum yang sudah terpasang di wajah gantengnya terus terukir. Dan itu membuat Pulung semakin mendengus kala matanya bersinggungan dengan hazel milik Maha.
Oh! Sekarang Maha tahu. Baru sadarnya juga saat melihat Pulung memasang ekspresi wajah yang kecut.
“Kamu dapat?” Apa ini!? Kenapa mulutnya lucknut sekali mengajukan tebakan seperti ini. “Soalnya…” Ragu-ragu hendak Maha ucapkan. “Kamu tumben loh agak marah-marah gitu.”
Nggak marah lagi Bambang! Ini tuh lebih dari marah.
Entah ke mana kewarasan Maha yang bisa-bisanya acuh di perhatikan oleh para ibu-ibu dengan bisikan-bisikan kekaguman. Manusia satu ini malah asik nulis—yang entah apa isinya—sambil terus senyum. Kan Pulung cemburu. Eh?
Ini benar, kan, ya yang baru saja berbicara Dewi batinnya yang kotor?
Duh! Pulung jadi merasa kaya apa gitu. Bisa-bisanya di umur yang ke dua enam merasakan cemburu yang nggak etis sama sekali. Tapi gimana dong? Memang Pulung sensi sekali melihat Maha di tatapi oleh para ibu-ibu tadi.
“Aku nggak lagi mens,” jawabnya acuh. “Besok lagi nggak usah ngantar ke sanggar lah. Darting aku.”
“Darting adalah?” tanya Maha.
“Entah!” Pulung ketus dan Maha tidak tahu apa kesalahannya.
“Oh ya sayang—”
“Nggak usah manggil sayang-sayang!”
Salahku apa?
Pertanyaan Maha hanya bersuara dalam hati.
“Sudah ketemu sama konsepnya? Baju-bajunya yang pengen kamu bikin mungkin. Dekorasinya? Cateringnya? Atau—”
“Aku mau yang sederhana saja.” Kembali di potong. “Ini ketiga kalinya buat aku. Dan terus terang aku malu.”
***