Bangun-bangun dari tidurnya, yang Ardika rasakan pertama kali adalah hampa. Bersama hujan yang sejak sore mengguyur, menghadirkan kenangan masa lalu tanpa kata-kata dalam sekejap lantas menguap.
Yang menarik kesadaran Ardika hanyalah satu: masih sangat mencintai Pulung. Masih sadar memiliki cinta untuk Pulung. Diam-diam merindukan Pulung. Begitu menginginkannya. Yang sayangnya, Ardika merasakan itu semua saat Pulung tak ada di sampingnya. Yang mana—mungkin saja—sudah Pulung dapatkan kebahagiaannya. Dan itu bukan dengan dirinya.
Bukankah hidup dalam penyesalan itu amatlah tidak mengenakkan?
Ya. Walaupun terlihat tidak menyenangkan. Ardika coba bangkit dari asanya. Yang terluka bukan hanya dirinya. Pulung juga. Yang sakit bukan hanya dirinya. Pulung juga. Kini bertambah daftarnya: Naomi.
Bicara-bicara soal Naomi, Ardika merutuki kebodohannya. Belum habis dengan sesalnya—seperti sebuah kesialan yang memang di gariskan untuknya. Apa lagi yang bisa Ardika lakukan untuk putrinya sekarang?
Memberikan dukungan juga sudah sangat tidak mungkin. Secara blak-blakan Naomi menjauhinya. Secara sadar bahwa bocah tujuh tahun itu tidak lagi membutuhkan dirinya. Entah sebagai orangtua, papa, maupun sahabatnya. Tidak ada lagi canda tawa yang seperti dulu keduanya lakukan.
Napas Ardika memberat. Kepalanya pening sisa dari kegiatannya menenggal alkohol. Dan yang menempati otaknya ialah nasihat mamanya yang mengatakan bahwa rasa sakit mengajarkan kita untuk tumbuh sekali lagi.
Tumbuh yang bagaimana belum Ardika pahami. Karena alih-alih untuk meresapi kalimat tersebut, Ardika lebih memilih berkubang dengan posisinya yang serba kesulitan. Salah satunya, apakah kehadirannya telah dikutuk Tuhan? Meski secara paksa Ardika coba menyadari perubahan buah dari perbuatannya.
Secara bertahap Ardika ingin merubahnya. Pada tatanan hidupnya yang berantakan dan memulai hubungan yang baru dengan Naomi. Ardika ingin melihat—sekali lagi saja—seperti apa dirinya di dalam kegelapan. Apakah masih sama sewaktu ditinggalkan oleh Ayana dulu atau lebih parah dari itu. Dan yang terlihat di sana hanyalah sebuah kekuatan baru dalam memunahkan kehampaannya. Yang Ardika peluk setiap bagian lembut terpilu dalam hidupnya.
Ingatan Ardika kembali melayang pada kelamnya dulu. Di mana ada narasi lama yang dirinya baca saat pertama kali hidupnya di ciptakan. Dan sadar bahwa dirinya takkan hidup tanpa sebuah perjalanan yang sulit. Karena itulah proses sebuah pertumbuhan. Meski amat berat dan tidak indah sama sekali. Dari sana Ardika mencoba menerima. Jadi, kali ini tak ingin bersikeras lagi untuk kehidupannya apalagi egonya. Ardika takkan lagi menentang proses yang sedang Tuhan limpahkan. Mana tahu, usai ini ada pelangi indah di penghujung jalan sedang menantinya.
Mengutuk kehadirannya, Ardika tahu itu kesalahan. Diam-diam menyalahkan Tuhan yang mana itu sebuah kebenaran. Hadirnya di dunia ini telah Tuhan gariskan. Terlepas dari rasa hampa yang terus menyambangi, Ardika dituntut untuk lebih mensyukuri apa yang telah dirinya miliki.
Termasuk kalimat: seorang lelaki baik takkan pergi meninggalkan perempuan yang baik. Pun sebaliknya perempuan yang baik takkan membuang lelaki baik untuk pergi.
Ardika sadar ini titik berat kesalahannya. Orang-orang yang gagal dan bodoh yang meninggalkan orang-orang yang baik demi kebahagiaan dan kebutuhannya semata. Ardika akui itu. Rumus diatas tak sepenuhnya salah. Semua yang ada di dunia ini memiliki imbal balik yang sepadan. Karena Ardika merasa kehilangan Ayana di masa lalu, di masa sekarang dirinya lah yang berbuat demikian terhadap Pulung.
***
“Opa mau cerita,” ucap Aksara yang menyetir. Sedang Naomi asik menelengkan kepalanya ke luar jendela. Jalanan yang ramai dan lalu lalang mobil lebih menarik perhatian cucu kesayangannya ketimbang dirinya yang di diamkan layaknya patung. “Omi mau dengar?” Hanya ada anggukan samar.
Miris bagi Aksara menyaksikan kehampaan di mata sang cucu. Tapi yang bisa dirinya lakukan hanyalah sewajarnya. Bukan dengan memaksa apalagi memojokkan segala keluh kesah putranya.
“Opa pernah punya pacar—dulu.” Cerita Aksara sedikit menarik perhatian Naomi sehingga kepalanya langsung tertoleh sepenuhnya ke arahnya. “Dia cantik, baik, dan anggun. Omi tahu?” Menggeleng dan cengiran yang Naomi tunjukkan membuat Aksara terkekeh. “Opa menjadi bagian terpenting dari hidupnya. Begitu juga sebaliknya. Kita saling melengkapi. Saling bersatu dan membantu. Katakanlah kita kompak.”
“Terus dia di mana?”
Aigoo. Aksara mengencangkan tawanya. Kenapa yang menjadi pertanyaan cucunya justru keberadaan wanita yang telah raib dalam kesehariannya. Itu juga murni kesalahannya. Masuk ke dalam daftar kejahatan yang tertutupi selama bertahun-tahun.
“Kita selesai. Opa bukan jodohnya dan dia juga bukan jodoh opa.” Ada mendung di wajah Aksara yang menggelayuti. Gemuruh dadanya terasa sangat meremas jantungnya.
“Opa sedih?”
Lagi dan lagi pertanyaan Naomi sangat menunjukkan keantusiasisme. Tidak bisa menjegal tawa Aksara untuk terus menguar.
“Awalnya—” bahkan sampai hari ini jika boleh Aksara akui. Karena wanita itu amatlah berarti dan berharga. Karena kenangan yang ditinggalkan tak bisa Aksara sentuh secara sembarangan. Menjaga, menjadi alternatif terbaik untuk Aksara lakukan demi keberlangsungan bersama. “Tapi oma juga sama berartinya buat opa.” Itu mungkin sedikit. Persentasinya tak bisa dikatakan full kala wanita lain sudah menempati posisi teratas hatinya.
“Opa cinta sama oma?”
“Tentu.” Aksara berdosa sekali sudah membohongi Naomi. Hanya karena enggan di nilai buruk dan demi menjadi yang terbaik.
Di sini … tak banyak harapan Aksara. Satu saja, sekali dalam seumur hidupnya. Aksara tak ingin memiliki kenangan yang sia-sia tentang cinta terlarangnya. Aksara ingin mengenangnya di sisa usianya. Bahwa wanita itu adalah dosa dan kesalahan terbaiknya. Bahwa dengan mencintai wanita itu, lengkap sudah kekurangan Aksara. Bahwa mungkin meminta di sandingkan bersama dalam sebuah takdir yang lainnya sangatlah mustahil. Maka cukup dalam hatinya saja yang terus tertera namanya. Cukup dengan mengalir dalam darahnya, kehidupan yang Aksara jalani menjadi sangat bermakna.
“Omi pengen punya suami kaya opa.” Perkataan Naomi menceloskan sisi terdasar hati Aksara. “Yang sayang sama oma. Cinta sama oma. Peduli sama Omi. Nggak ngelihat gimana nakalnya Omi. Opa tetap sayang sama Omi.”
Tidak bisa! Begitu raungan Aksara.
Cucunya tidak boleh menapaki jejak yang sama seperti dirinya. Atau karma ini takkan pernah ada ujungnya. Tidak bisa! Naomi harus memiliki kehidupan yang layak bersama lelaki terbaiknya. Yang tidak menjadi pengecut dan berengsek. Cukup dirinya dan Ardika saja yang merasakan lingkaran setan ini.
“Omi …” Panggil Aksara lirih. “Sendiri nggak pernah menjadi pilihan paling baik. Sakit dan nggak ada yang peduli juga bukan jalan yang mesti kita ambil. Tapi, Omi punya pandangan luas soal kehidupan dan pilihannya. Jadi, hidup dengan baik sampai waktunya tiba. Bisa janji gitu ke opa?”
Paham tidaknya Naomi tetap mengangguk. Bocah tujuh tahun itu tak seharusnya di bebani masalah orang dewasa.
***