Sama halnya dengan harapan-harapan yang telah lalu. Naomi masih berada di tahap ‘ingin berdiri sendiri’ tanpa papanya dan menggenggam sejumput harapan dalam hatinya. Tidak ada yang tahu bagaimana angan sederhana dari seorang Naomi Aksara.
Sekalipun sudah berada di rumah oma opanya dan kucuran kasih sayang dari pasangan tua itu tak pernah putus, tetap saja ada yang hilang dari jiwanya. Gairah untuk melanjutkan hidup yang semestinya menggebu layaknya anak seumurannya meredup.
Yang Naomi lakukan hanyalah bersekolah, mengikuti les, ke sanggar tari dan setelahnya belajar. Ketika liburan menyapa, tak banyak yang bisa Naomi lakukan selain berada di rumah dengan kanvas dan alat-alat lukis lainnya. Atau paling banter Naomi akan bermalas-malasan menonton kartun seraya memakan cokelatnya.
Dan itu, tidak ada pelarangan dari oma maupun opanya. Jelas rasanya hambar. Itu yang membuat kesedihan Naomi berkali-kali lipat tingkatannya. Bukan tentang kesendiriannya yang merenggut sebagian semangat hidupnya. Tapi… sedih dan sendiri memang perpaduan yang tidak pernah tepat. Keduanya tidak bisa serasi. Karena itulah Naomi coba mengerti yang namanya kepercayaan.
“Nggak mau ikut opa?” Tawar Aksara yang sudah siap dengan pakaian olahraganya. Lengkap dengan stik golf dalam gendongannya.
“Ke mana?” jawaban Naomi juga ogah-ogahan. Tapi demi kesopanan tetap Naomi pasangkan senyum antusiasnya.
“Golf.” Naomi tahu tapi tetap bertanya. “Omi bisa ngelukis di sana. Biar nggak bosan di rumah terus. Kan minggu.”
Aksara agaknya paham bahwa cucunya sudah memasuki fase mager (malas gerak) yang kebanyakan orang-orang sebutkan. Itu terlihat dari caranya yang berpikir lalu berjalan masuk menuju kamarnya. Meski kata ‘Oke’ mencegah kehengkangan Aksara, cucunya lebih dari berharga untuk dirinya tunggui.
“Papa belum berangkat?” Adalah Mija yang baru selesai dari urusan pasarnya. Wanita paruh baya yang masih ayu di pertengahan usia abadnya. Meski kesalahan masa lalunya pernah Aksara lakukan, wanita ini menerimanya dengan lapang.
“Omi ikut. Belanja apa?”
“Dapur sama isi kulkas.” Terdiam setelah mendudukkan bokongnya di sofa tempat Naomi rebahan tadi. “Ardika nggak punya dosa atau lupa masih punya orangtua dan anak.”
Tawa Aksara menguar. Tahu betul ke mana arah olokan istrinya. Belum sadar saja bahwa Ardika sangat menuruni perilakunya. Semua yang ada di diri Mija ter-copy paste di Ardika.
“Mama mirip sama Ardika kalau lupa.”
“Ya nggak dong!” Ngegas langsung. Lirikan matanya juga menyorotkan ketidak terimaan. “Ardika anak kita. Kenapa cuma mama yang dianggap jeleknya tapi bagian papa yang baik-baiknya.”
Tidak bisa Aksara elakkan tawanya. Ekspresi istrinya selalu lucu sejak dulu hingga sekarang jika menyangkut perihal Ardika. “Terima saja lah ma,” ujar Aksara. “Nggak ada yang salah dengan sifat dan sikap mama. Pun dengan papa. Ardika cetakan kita yang paling sempurna.” Meski ada darah lain yang lebih sempurna—Maharaja Askara.
“Omi pasti sakit.” Tiba-tiba suasana kian melankolis. Sudah menyangkut ke putranya lalu ke cucunya. Aksara tak bisa menampik kesedihan hatinya tentang itu. “Mama pernah terluka, pernah juga sakit hati.” Tahu ke mana arahnya, Aksara usapi pundak sang istri. Berbisik kata maaf tidaklah penting untuk saat ini. “Kalau itu mama, nggak masalah. Tapi ini Omi. Satu-satunya cucu yang kita punya.”
Benar. Hanya Naomi Aksara yang Mija akui. Sampai setua ini, Mija amatlah egois untuk ukuran seorang ibu dan wanita. Mestinya, bertambahnya umur seseorang, melunturlah sikap kerasnya. Sayangnya, itu tak berlaku bagi Mija yang sudah membubuhkan benih kebencian sejak lama. Sejak Dante masuk ke dalam kehidupan putranya dan menerobos tatanan keluarga Aksara.
“Rasa sakit mengajarkan kita untuk tumbuh sekali lagi.” Respon Aksara tak bisa sama-sama melow. Mengingat strinya adalah ratu drama akut. Membubuhi aura kesedihan pastilah akan mengundang bawang. Bisa-bisa langit membanjiri hujan seperti kemarin sore. “Mama nggak bisa terus-terusan keras sama diri sendiri. Ma… Kita ini pasangan yang bukan berstatus sebagai suami istri. Namun juga telah menjadi orangtua dan panutan bagi putra-putrinya.”
Mija terima dengan lapang semua kesalahan suami di masa lalunya. Ada campur tangannya untuk menjadi sangat kejam namun Mija akui itu semua dilakukan demi melindungi keutuhan keluarganya. Mija terlalu gengsi untuk keluarganya yang hancur hanya karena terlahir dari keluarga yang sempurna. Maka seluruh ekspektasi dalam benaknya harus bisa terwujud bagaimana pun keadaannya.
“Oma sudah pulang?”
Cepat-cepat Mija tiupkan angin untuk wajahnya yang sudah panas menahan tangis dan mendongak guna menghilangkan liquid yang menggenang di matanya.
“Oma mau masak udang tepung kesukaan Omi.” Melihat bagaimana girangnya Naomi menanggapi, tak bisa menyurutkan rasa bangga di d**a Mija. Cucunya sudah besar. Sudah sangat cantik. Hanya perlu memberinya dukungan dan kasih sayang sepenuhnya. “Omi di sini terus, ya? Oma nggak mau sendiri. Opa suka sibuk sama kantor.”
“Ada syaratnya, ya.” Kira-kira apa? Naomi juga nampak berpikir dengan tangan mengelus dagunya. Gayanya sudah persis bos besar mau mecat bawahannya. “Opa harus kerja terus. Terus beliin Omi kuas dan cat banyak-banyak.”
“Setuju.”
“Gampil itu mah.”
“Betul, ya, opa.”
Sudah. Mija tidak ingin melambungkan angannya terlalu tinggi lagi. Begini sudah sangat benar. Tuhan sudah memberikan porsi yang tepat untuk senyum cucunya yang takkan pudar. Begini sudah pas untuk tumpuan harapan baru yang akan Mija pintakan.
***
Pulung berpikir keras. Pada semua keputusan yang akan dirinya ambil. Dalam ketiga kalinya, ingin Pulung coba sekali lagi peruntungannya. Berharap semuanya telah Tuhan berikan jalan.
Tawaran Maha tak bisa dirinya enyahkan dalam otaknya yang merekat bagai lem. Lelaki 32 tahun itu sangat tahu menyerang kelemahannya; Bara. Dan melihat Bara yang begitu menyukai Maha, aigoo, Pulung tidak bisa berkata tidak.
“Tapi ada syaratnya.”
“Apa?” Semangat 45 Maha dalam menjawab mengekehkan suara Pulung yang membuat kerja jantungnya dugun-dugun.
“Aku mau ngajar di sanggar tari lagi.” Nampak Maha berpikir keras. Di mana kira-kira letak sanggar tari yang paling dekat dari apartemennya. “Jaipong.”
“Itu saja?” Pulung angguki.
“Aku ada kemampuan di situ. Sebulan, deh, sebelum waktu kita nikah. Aku mau wujudkan mimpi jadi penari jaipong dengan status janda terakhir kalinya.”
Omoo. Maha tidak ingin melarang tapi cukup mengherankan. “Sesuka itu kamu sama tari jaipong.”
Lagi kepala Pulung mengangguk dan senyum melebar dari bibirnya. “Biar Bara juga tahu. Terus soal kerjaan aku di kantor—”
“Kamu bisa berhenti atau mau tetap lanjut, aku dukung. Yang penting jangan buat tubuh kamu capek.”
Maha sudah berubah. Bukan lagi lelaki egois yang keras kepala kala berhadapan dengan Pulung. Sikapnya otomatis melunak jika itu menyangkut tentang Pulung dan Bara. Tanpa di sadari, Maha menggantungkan hidupnya. Mengharapkan hari-harinya yang telah kelam menuju peradaban cerah. Karena Pulung dan Bara, Maha nikmati semua pemberian Tuhan.
***