"Tumben nenek datang.”
Eta mulut punya Maharaja memang nggak pernah punya rem! Sama orangtua saja mengajukan tanya yang selalu punya dua alasan: menjenguk kalau nggak kangen berarti sedang menaruhkan firasatnya apakah sang anak baik-baik saja atau tidak. Tapi memang dasarnya Maha itu selengekan, ya rasakan saja pukulan di punggungnya oleh sang nenek. Terbilang cukup keras. Karena Aira yang bertugas mengantarkan masuk ke dalam ruangan atasannya sembari membawakan barang bawaannya meringis ngilu.
“Aigoo nenek!” Dumel Maha mengusapi punggungnya yang menjadi sasaran empuk amarah. “Nenek kalau kangen cuma perlu telepon Maha dan Maha datang ke sana.”
Ya?
Ini betul-betul Maharaja Askara bos besar perusahaan di mana Aira menumpukan kehidupannya, kan? Bukan jelmaan atau jelema kajajaden, kan? Aduh Aira yang baper maksimal ini. Maha dengan panggilannya yang manja begitu terasa menggelitik hatinya.
“Nenek ke sini ngasih aku chicken,” bisik Maha terlampau pelan. Tubuhnya duduk di samping nenek yang sedang mengeluarkan semua bawaannya dan sesekali memandang wajah tua wanita penolongnya di masa kecilnya dulu. “Makasih, nek,” ucapnya.
“Tiba-tiba?” Maha mengangguk. “Kenapa? Merasa bersalah? Punya hutang? Aish anak ini.” Berganti nenek yang mengomel. Tapi begitu tetap nenek sayangi Maha layaknya cucunya sendiri. “Kamu sudah sebesar ini ternyata.”
“Apa?” sahutan Maha terdengar tidak sopan. Mulut mengganyem ayam dengan khidmat sedang nenek memperhatikannya penuh minat. “Aku ingat waktu nenek bilang: kalau aku punya kehidupan yang nggak baik, aku harus pulang ke rumah nenek,” kata Maha dan membalas tatapan nenek. “Tapi aku hidup dengan baik dan terus menemui nenek.”
“Kamu pikir itu dianggap ‘menemui’ setelah belasan tahun? Ck! Beruntung kamu nggak lupa arah jalannya karena sudah banyak pembangunan di berbagai sisi.”
“Nggak bakal Maha lupa.”
“Maha.” Panggil nenek. “Baik tidaknya kehidupanmu, kamu harus datang. Nenek nggak punya siapa-siapa yang bisa dijadikan keluarga selain kamu. Jadi kamu harus sering-sering datang sebaik apapun kondisimu. Bahkan kalau nggak punya bahan obrolan buat di omongin, kamu harus datang. Kamu harus pulang. Bisa? Janji?”
Astaga. Siapa yang menaruh bawang di dalam ayam kesukaan Maha? Sehingga melihat ratapan nenek yang memohonnya untuk terus datang sungguh mengalirkan air matanya.
“Bakalan aneh kalau datang tanpa membawa urusan.”
“Tubuhmu yang sudah terbujur kaku … baru mau datang?” Sarkas nenek menyindir.
“Nenek.”
“Ya makanya datang. Apa susahnya nurut sama permintaan orangtua? Ngomong ngelantur pun bakal nenek dengarin. Sudah nenek bilang, jangan sendirian. Jangan menahan sendirian. Jangan sakit sendirian. Atau kamu bakal lebih kesepian. Maha …” Nenek sengaja memberi jeda untuk mengatakan yang terakhir kali. “Aku sudah tua. Pergerakanku tidak lagi gesit seperti dulu. Pendengaranku bermasalah. Mungkin jika ada musuh yang memukulimu, nenek cuma bisa diam dan jadi penonton. Jadi, pulang oke.”
Tak banyak yang bisa Maha lakukan selain mengangguk setuju. Dirinya sudah banyak tertawa dan menangis selama bersama nenek. Maha sudah berbagi banyak rahasia sejak dulu tanpa harus merasa gengsi dengan apa yang di permasalahkan kehidupannya. Dan juga, nenek menjadi orang pertama yang selalu menjadi tujuannya selama ini untuk berlayar.
Yang kedatangan Maha penuh dengan masalah, namun tak pernah menanyai apa penyebabnya. Yang sudah melihat seberapa besar dendam dalam diri Maha, namun tak pernah menghalanginya. Diam-diam Maha tahu bahwa nenek yang telah mengajarkan banyak hal terhadap dirinya.
Maha sendiri tidak tahu apa yang membawa nenek untuk datang ke mari. Makanya pertanyaan pertama yang langsung diajukan adalah: tumben. Yang mendapat sambutan yahud di punggungnya.
Mungkin juga karena sudah saking dekatnya mereka, ikatan batin yang terajut kian menguat. Meski bukan berasal dari darahnya, karena sudah bersama lama, keduanya bisa merasakan satu sama lain.
Oh, Tuhan Maha merasa sangat fucek sebagai cucu dan lelaki. Sebagai cucu rasanya Maha sangat durhaka. Ini nggak kaleng-kaleng langsung ke neraka jalur eksklusif. Dan sebagai seorang lelaki, Maha merasa sangat kalah dalam berbagai hal. Alih-alih berani mengambil tongkat pemukul dan melempar bola sejauh mungkin, nyatanya perasaan takut terus menggelayuti.
Entah pada ketakutan bagian mana yang terus membayangi hidupnya. Pastinya … ketimbang sakit pada sebuah fakta, Maha lebih suka menghindari. Sehingga jelas dirinya amatlah payah dan jago menjadi seorang pengecut.
Padahal harapan Maha sudah sederhana. Bahkan mengubah alurnya dalam menentukan pilihan. Tidak perlu adanya ekspektasi guna mempertinggi kualifikasinya. Apalagi yang sempurna. Maha langsung saja berdecak kesal pada perasaannya yang menye-menye. Membuat nenek ikutan mendengus dan menatapnya bengis.
“Punya harapan baru?” tanya nenek seraya menyuapkan nasi kuning sandingan ayam goreng Maha. “Apa? Bilang? Cepat.”
Di buru-buru begitu Maha batuk-batuk. Nenek dan dirinya adalah dua kepribadian berbeda umur yang sangat bisa di sandingkan. Aslinya Maha kesal di buat demikian tapi ini, loh, nenek. Maka yang bisa dirinya lakukan hanya menelan bulat-bulat nasi serta ayamnya dan meneguk air dinginnya.
“Nikah tahun ini. Punya anak lagi,” jawab Maha lantang. “Yang penting cinta ke Maha dan kita saling cinta. Nerima Maha apa adanya dan bareng terus sampai tua. Jadi teman cerita.”
“Lagi?” beo nenek. “b******n ini?! Kamu ngehamilin siapa. Ngomong ayo ngomong!”
Maha memang definisi dari ketololon yang hakiki. Cuma ngomong doang bisa-bisanya keceplosan. Nenek mana tahu kalau ada Pulung dan anaknya yang Maha anggap… gitu lah, ya. Alhasil pukulan bertubi-tubi di punggungnya tak terhindarkan lagi. Kali ini lebih ganas. Jelas-jelas yang makan nasi dan ayam itu dirinya. Tapi yang tenaganya super Samsons justru nenek.
“Itu anak perempuan yang Maha suka.” Berhenti mendadak pergerakan tangan nenek. Ada keterkejutan yang kentara di wajahnya. “Maha mau nikah tapi cuma sama dia. Nggak mau sama yang lain.” Bahkan ketika nanti nenek menentangnya lantaran status Pulung yang janda.
“Jan—”
“Maha nggak peduli! Nggak peduli!” Potongnya cepat. Kedua tangannya menutupi telinganya sebagai tanda tak boleh ada komentar yang masuk ke dalam rungunya.
“Kenapa memangnya?” Eh! Maha nggak salah dengar, kan? “Nggak ada yang salah dengan janda. Kebanyakan dari mereka sering kali dianggap remeh di nilai sebelah mata. Tapi kamu harus tahu. Mereka yang berstatus janda adalah wanita paling kuat yang bertahan seorang diri. Berdiri sendiri tanpa punya sandaran. Mereka yang janda meski di remehkan keberadaannya … justru martabat mereka lebih tinggi daripada yang memiliki suami tapi bermain dengan lelaki lain.” Nenek tatapi Maha sekali lagi. Senyumnya timbul menular ke bibir Maha. “Mau kapan di bawa pulang.”
Ya karena ini temanya tumben datang maka pulang menjadi salah satu pengikutnya.
Tanpa pikir panjang Maha peluk sang nenek. Menyalurkan beribu-ribu kata syukur dan terima kasih yang tak ternilai harganya. Untuk kehidupannya di masa mendatang.
***