Karena cerita ini tidak melulu fokus dengan kisah Ayana dan Rambe yang hanya pelengkap semata. Maka kita akan lengser ke jajaran lainnya yang masih kelabu. Akan kita kulik secara perlahan. Satu per satu. Bab per bab karena semuanya memiliki andil bagian masing-masing.
Ya gitu. Kalau Ayana dan Rambe sudah mulai keliatan bucin-bucinnya. Maka Ardika sedang galau-galaunya. Gimana nggak galau kalau status duda buat ketiga kalinya bakal di sabet? Ini nih semisal ada ajang MTV Awards dan ada nominasi Duda terbanyak sepanjang tahun, tolong masukkan nama Ardika Aksara ke dalamnya.
Lelaki berperawakan tinggi dengan khas rambut berantakan itu sungguh nggak punya tandingan. Label ‘Ampun Bang Jago’ sangat cocok melekat pada dirinya. Karena … ya Ardika itu magnet bagi para perempuan. Jadi nggak heran banyak yang nunggu buat di gilir masuk ke daftar bininya. Nggak peduli duda juga asal kaya dan mapan mah hayuk saja.
Tapi kini ada yang berbeda dengan paras tampannya. Setelah kemarin cek-cok adu mulut dengan sang istri—Dante—langkah untuk menjauh menjadi pilihannya. Dan kali ini Ardika percaya bahwa sesekali pergi tanpa tujuan sangatlah menyenangkan. Tanpa sadar jaga, hanya mengikuti instingnya untuk mencari ketenangan. Justru alamat ini yang menjadi tujuan akhirnya.
Sebuah gubuk sederhana yang diam-diam mengangakan mulutnya takjub. Hujan gerimis yang sejak kedatangannya tiada henti terus mengguyur. Di luar udara sangat dingin tapi di dalam sini kehangatan tercipta. Lewat senda gurau yang terbangun apik dan suguhan makanan khas perkampungan.
Tak masalah. Ardika suka. Ada sebakul nasi bersama jajaran lauk pauknya seperti; ikan goreng, ayam goreng, tahu dan tempe goreng serta lalapan yang tidak pernah ketinggalan di tanah pasundan. Ardika malu sebenarnya. Namun logikanya menyingkirkan semua perasaan itu untuk mengenal lebih dekat keluarga sederhana ini.
Yang baru Ardika sadari saat ini. Bahwa sesalnya bercokol di bumbungan dadanya paling tinggi. Bahwa kesalahannya takkan terbayar dengan apapun yang dirinya miliki bahkan nyawa sekalipun. Bahwa semua yang telah di korbankan perempuan kecintaannya untuk keluarga ini amatlah berdedikasi tinggi. Berengseknya Ardika rusak semua tatanan Takdir yang Tuhan gariskan. Yang mestinya dirinya jaga dengan baik. Hanya menjaga saja Ardika tidak becus melakukannya. b******n sekali, kan?
Kenapa baru sekarang?
Ya begitu pertanyaan awalnya. Mengenal dan bersama Pulung Rinjani dalam waktu sebentar yang Ardika pikir akan segera melupakannya. Seperti tak pernah ada kisah yang terajut. Faktanya setelah dua tahun berselang cinta itu masih utuh ada.
“Jadi kamu mantan suaminya?”
Makan malam bersama telah usai. Dalam diam mereka menikmati santapan penuh khidmat. Tak ada obrolan berat hanya sekadar harga sembako yang mulai melejit langit. Biasa, sudah masuk musim penghujan dan penghujung akhir tahun. Tidak heran harga pokok sering naik turun.
Hanya anggukan yang bisa Ardika jawabkan. Itupun kakunya ampun-ampunan. Ada rasa takut yang menaungi padahal semestinya bisa santai saja. Kedua orangtua di hadapannya amatlah ramah. Sesuai yang pernah Pulung ceritakan. Dan adik lelakinya telah berubah menjelma sesosok tampan matang di umurnya yang baru 23 tahun.
Lelaki itu sudah lulus kuliah. Dengan nilai terbaik dalam jajaran para mahasiswa lain. Dan sekarang, berkat ijazah yang di bawanya berkat perjuangan Pulung, kehidupan keluarga ini sudah sangat membaik.
Sayangnya … “Begitu saya tahu, penghapusan namanya dari daftar keluarga langsung saya lakukan. Rasanya malu punya anak di cap pelakor.” Tutur sang ibu. Bicaranya santai sekali seolah mengatakan: gula pasir naik lagi.
“Pelakor?” Kening Ardika berkerut-kerut. Tidak paham dengan apa yang di maksudkan. Tapi pelakor ya?
“Perebut laki orang.” Itu juga Ardika tahu. Yang tidak dirinya tahu siapa pelaku pelakor yang di tuduhkan.
“Di kota dia nikah sama mantan suaminya yang dulu dan cerai. Terus nikah lagi. Dan suami keduanya ini masih punya status sebagai suami orang. Apa namanya kalau bukan pelakor.” Si ibu masih sangat menggebu-gebu. Meski begitu, ada luapan emosi dan kerinduan yang bercampur menjadi satu.
“Maksud ibu … Pulung?” hati-hati sekali Ardika tanyakan. Dan setelah mendapat anggukan disertai derai air mata, percaya menjadi sangat jauh dari jangkauan Ardika. “Tapi Pulung nggak begitu.” Belanya.
Jika lelaki beristri yang dimaksudkan adalah dirinya, ini ada kesalahpahaman. Ardika duda dan melajang sewaktu menikahi Pulung. Jadi dari mana asalnya fitnah ‘pelakor’ untuk melabeli Pulung?
“Banyak yang sudah bilang. Ada juga yang datang—”
“Siapa bu?” Vokal Ardika berganti tegas. Giginya saling bergesekan dan tangannya mengepal kuat.
Pasangan di hadapannya terdiam. Sama-sama merapatkan mulutnya. Bedanya jika sang bapak bersikap legowo dengan apa yang sudah menjadi keputusannya. Sang ibu terlihat mengingat-ingat siapa yang membawa berita itu.
“Lupakan saja nak Ardika.” Tegur sang bapak. “Ini sudah berjalan memasuki tahun ketiga kami kehilangan putri sulung kami. Dan mungkin memang ini jalan terbaiknya.” Helaan napasnya memberat. Pun dengan senyum yang di lemparkan.
“Karena Pulung tidak berbuat demikian. Saya yang patut di salahkan. Saya yang patut untuk di hina sudah membuat Pulung kehilangan keluarganya.”
“Sekarang saatnya kamu berjalan di area masa depan. Jangan menoleh pada masa lalu.” Bukan itu yang ingin Ardika dengar. “Pulung sudah menemukan jalannya sendiri. Begitu juga kamu. Dan kamu harus melakukan hal yang sama. Saya tahu … Dante anak yang baik.”
Keheranan menjadi yang pertama Ardika tunjukkan. Ekspresi wajahnya tidak santai ketika nama Dante disebut dan dari mana keluarga ini tahu perihal pernikahannya bersama Dante?
Tiba-tiba Ardika tertawa sumbang. Jenis tawa yang menakutkan untuk di dengar. Bagi ukuran orang yang putus asa akan kehidupan, tawa yang Ardika kuarkan tidak memiliki dampak apapun selain kewaspadaan.
“Jadi karena itu?” katanya bertanya. “Dante dan saya menikah bukan karena cinta. Murni karena kesalahan saya dan kecerobohan yang saya perbuat. Seandainya Dante tidak mengajak saya ke pusat perbelanjaan yang ada Pulung di dalamnya … pastilah kami masih bersama. Aish, perempuan itu sungguh sundal.” Gerutu Ardika.
“Itu akan menyakiti kakak.” Sahut suara lain. “Akan sangat sakit baginya melihat itu semua jika terlambat satu hari saja. Karena di hari di mana kakak melihat kalian, pernikahan siri sudah terjalin.”
“Kalian tahu dengan detail?” Mata Ardika bergerak ke sana ke mari mencari kebenaran. Dan terdiam untuk kedua kalinya menjadi sangat menjengkelkan di mata Ardika. “Seperti sudah ada yang merencanakan.”
“Siapa?”
“Entah. Sebuah kebetulan nggak mungkin punya runtutan cerita yang mudah.”
Dan diam bersama rintik hujan yang sore ini sapa mengaburkan sejuta harapan. Ada kekecewaan juga keputus-asaan yang menggenang sekaligus menyesakkan. Bagi Ardika sendiri, semua ini bukan sebuah cerita yang masuk dalam angannya. Hancur untuk kesekian kalinya … hatinya tidak setangguh itu dalam bertahan.
***