Ayana merasakan gejolak pada perutnya. Pagi-pagi sekali sebelum matahari menyapa bumi. Bolak-balik kamar mandi menjadi aktivitasnya. Sayangnya, tak ada satupun yang keluar dari mulutnya kecuali cairan bening pahit. Dan usai dengan kondisi lemahnya, tak banyak yang Ayana lakukan selain membaringkan tubuh lemasnya. Tulang-tulangnya serasa terlolosi. Sekadar duduk menerima air putih dari Rambe, harus ada penyangga di belakang tubuhnya.
“Kamu isi kali.” Rambe bukan bermaksud hendak menyinggung. Menduga-duga saja karena yang dirinya lihat pada tumpukan pembalut di lemari Ayana masih utuh.
“Belum tanggalnya,” jawab Ayana. Tapi sudah lewat dua hari. Dan tidak ada yang menyadari itu. “Ini murni masuk angin. Aku kemarin kehujanan.”
Aura gelap di wajah Rambe langsung terlukis. Padahal sinar mentari sangat terang benderang. Tapi Rambe mengeluarkan sensitifitasnya. Aigoo. Membuat Ayana berdecak saja.
“Ada sesuatu yang mau kamu makan?” Meski demikian, Rambe tetaplah Rambe yang sangat perhatian terhadap Ayana.
Terkadang, Ayana tidak tahu harus berkata apa jika itu sudah menyangkut tentang Rambe. Karena lelaki itu sangat mengerti dirinya. Begitu memujanya. Sangat paham apa-apa saja yang akan merusak moodnya. Sangat mengenal dirinya baik luar maupun dalam. Alih-alih dianggap sangat mencintai dirinya yang butuh kucuran banyak guna penyembuhan masa lalunya. Ayana menilai Rambe adalah sosok kakak, orangtua bahkan teman yang menjelma dalam berbagai kondisi.
Menyebalkan? Tiap-tiap manusia memiliki sisi lain yang belum tentu manusia lainnya mengerti. Bersahabat bertahun-tahun, bersama dalam suka duka belum tentu membuat mereka paham satu sama lain. Ada kalanya para manusia jika sudah menghadapi keadaan sekitar yang sudah tercemar kerumitan, pergi menjadi solusi pilihannya.
Namun Rambe tidak begitu. Sudah tahu sangatlah keras hati Ayana, Rambe mengambil seluruh risiko untuk menunggu. Rambe mengambil langkah besar untuk membuat Ayana luluh secara perlahan. Rambe mengisi kekosongan hati Ayana yang diam-diam sudah terisi tanpa ada paksaan di dalamnya. Entah sejak kapan rasa itu hadir. Pastinya, Ayana mulai takut untuk merasakan kehilangan.
“Nggak ada.” Gelengnya menolak. Disertai senyuman yang menular ke bibir Rambe, kedua pipi lelaki itu kembali normal. “Mau kamu cepat pulang saja.”
Daebak! Mata Rambe sampai melotot. Hampir mencuat keluar kalau tidak di tampar oleh Ayana.
“Aku jadi malas mau otw.” Sengaja Rambe tempatkan tubuhnya di samping Ayana dan memeluk dengan erat. “Duhhh kamu makin jago nih bikin jantung aku nggak selow.”
“Baju kamu kusut. Bangun!” Ayana dan sikap tegasnya takkan pernah menghilang. Tidak peduli apakah dalam fisik yang bugar maupun lemas sekalipun seperti saat ini. Mulut perempuan itu sudah tertakdir untuk terus mengomel. “Nggak perlu menggerutu. Dalam hati lagi. Cemen kamu!”
Ejekan Ayana langsung menjatuhkan harga diri Rambe. “Ya!?” Bentaknya kesal sembari berdiri. Kedua tangannya berkacak pinggang dengan mata menatap bengis tepat di netra bening Ayana. “Manusia punya sisi masing-masing buat membangun moodnya. Kamu harusnya ngejaga perasaan aku dong jangan asal jeplak saja. ETA MULUT!”
Kali ini Ayana tidak menahan tawanya. Rambe yang mengomel amatlah comel dalam pandangannya. Tiba-tiba saja kadar ketampanan yang melekat di wajah lelakinya bertambah. Berkali-kali lipat tidak seperti biasanya.
“Kamu ganti skincare, ya?” Pertanyaan Ayana seketika menghentikan ocehan Rambe. “Sumpah kulit kamu lebih glowing dari punya aku. Kamu ganti pakai apa sekarang? Kan, sudah aku bilang jangan ganti. Nurut apa nggak bisa, sih?!” Dengus Ayana. Tubuhnya berbalik membelakangi Rambe yang sudah cengo.
“Tapi Yang …” Dugun-dugun sudah jantung Rambe. Keringat dingin bercucuran. Tidak bisa lagi dirinya menahan. Langsung bertindak menyibak selimut Ayana. Membopong tubuh mungilnya untuk di bawa ke ruang ganti. “Aku nggak bisa nahan.” Tangan Rambe sibuk menyambar baju jenis apa saja untuk berganti melekat di tubuh Ayana.
Sedang perempuan itu menghentak-hentakkan kakinya. “Kamu mau mati?!”
“Aku nggak peduli. Kali ini … maaf sayang aku nggak bisa nurut sama kamu. Kali ini saja.”
“Kamu sudah nggak sayang nyawa?” Rambe sebenarnya ngeri kalau sudah masuk ke ‘nyawa’. Itu jatahnya tiap malam bisa melayang.
“Siapa yang peduli?” Balasan Rambe di luar dugaan yang membuat Ayana akan mengamuk. “Sekali ini saja.” Ciuman Rambe di bibirnya menghentikan aksi ngamuk yang ingin Ayana lakukan. “Jangan egois. Aku rela lakuin apa saja demi kamu.” Dan anak kita. Cuma itu yang bisa Rambe suarakan saat ini. Karena di banding itu menjadi nyata, kewaspadaan dirinya kian meningkat. “Ayo.”
“Aku belum make up. Muka aku—”
“Nggak perlu! Aku nggak mau kamu dilirik cowok lain. You’re mine.”
Yorobun! Perasaan macam apa ini?
Rasa-rasanya tidak baru kali ini Ayana mendengar Rambe mengungkapkan perasaannya. Tiap harinya lelaki itu akan selalu menunjukkan kadar cintanya. Tapi hari ini, di gandeng Rambe dengan sangat erat, yang mana bisa Ayana rasakan getaran gelisah tersalur lewat sentuhan kulitnya. Dan kucuran keringat dingin yang keluar dari dahinya—Ayana mulai takut untuk kehilangan. Seperti bahwa ini sudah sangat benar. Seperti ini memang yang hatinya inginkan.
“Aku mual.” Keluh Ayana. Cepat-cepat tangan Rambe mengambil tempat sampah kecil yang berada di kursi belakang mobilnya. “Pengharum mobilnya kenapa kamu ganti juga.”
Menjelaskan akan sangat percuma. Rambe tidak pernah mengganti apapun jika itu sudah sangat membuat Ayana nyaman. Sampai sini keyakinan Rambe berkali-kali lipat. Ayana isi. Tidak salah lagi.
“Apapun yang terjadi nanti—enggak—aku mau bilang makasih buat semuanya,” ujar Rambe. “Ayana … Kamu yang paling tahu tentang siapa aku dan gimana aku. Setelah ini, sekalipun kamu sudah kenal banget kaya gimana aku, tolong jangan bosan buat cinta sama aku. Itu mungkin mustahil. Tapi aku yang suka labil dan kurang layak dianggap pinta buat mengendalikan emosi … itu aku yang minta cinta tulus dari hati kamu.”
Belum bisa Ayana pahami ke mana arah Rambe membawa obrolannya bermuara. Sedang tadi yang sangat terburu dalam mengejar waktu, kini lelaki itu terlihat melow. Ada gurat takut yang tak bisa Ayana lihat secara detail karena apa tapi tahu bahwa itu tentang dirinya. Ada gelisah yang membuat wajahnya terus bercucuran keringat dan itu masih tentang dirinya. Sampai sini, patutkah Ayana untuk merasa berbangga diri dicintai tanpa menerima protes?
“Aku suka berbuat konyol yang sengaja bikin kamu darting. Tahu artinya?” Ayana menggeleng. Sekarang Rambe mengajaknya bercanda. Oh Ayana tidak tenang sekali rasanya. Ada apa? “Darah tinggi. Maaf, ya. Aku sengaja lakuin itu.
“Tapi aku minta banget. Aku mohon, tolong jangan pernah bosan sama aku. Tolong jangan dorong aku buat pergi dari kamu waktu kamu sudah nggak nyaman di sisi aku. Cukup dengan bercerita denganku dan mencari solusi sama-sama. Ayana … Kamu berharga buat aku.”
***