Maha yang kesal maksimal. Ingin melakukan aksi akrobatik jika bisa. Tapi Pulung terlalu acuh dengan ekspresi mukanya yang alih-alih garang justru gemoy—bahasa gaulnya sekarang begitu.
Sekarang siapa coba yang tidak kesal kalau di sandingkan dengan berbagai jenis trauma masa lalunya. Kalau gagal di yang terdahulu apakah menjudge kegagalan di masa yang sekarang wajib dilakukan? Agaknya Maha tersinggung berat dengan itu. Baiknya jika Pulung menolak saja. Tapi hati Maha yang bakal menye-menye semisal itu sampai terjadi.
Duhhh! Sat! Urusan dengan hati kok seribet ini. Aturan Maha yang human anti ribet langsung saja ngegas tanpa peduli Pulung akan suka atau tidak.
“Kamu tahu?” Menahan langkahan Pulung yang setelah terdiam lama berharap Maha mau mengerti keputusannya. “Kenangan bahagia tiap orang berbeda-beda. Kenangan yang berharga akan aku artikan sebagai awal dalam aku mengambil langkah. Bagiku, itu kenangan di mana aku bisa mengucapkan ‘papa’ kala memanggil beliau. Tapi bagi papa, kenangan aku bisa merangkak pertama kali adalah yang paling manis. Dan aku bertahan hidup dari pembully-an demi masa depan.”
Tidak ada suara yang bisa Pulung keluarkan selain helaan napasnya yang memberat. Sejauh mengenal Maharaja Askara, sebodoh itu sikapnya karena tidak mengetahui seperti apa Maha yang sesungguhnya. Dari mana asal-usulnya atau bagaimana kehidupannya sebelum ini. Dan mendengar soal kenangan berharga yang Maha tuturkan, Pulung yakin, ada sakit dan siksa yang bersemayan.
“Aku tidak mengerti apa itu cinta. Sebelum ini,” lanjut Maha. Kali ini tangannya terjulur menggapai gelas kopi dengan uap yang masih panas. Mneyeruput, melegut dalam diam yang penuh khidmat. “Aku juga nggak tahu makna bahagia itu apa—selain dari cinta itu sendiri—tapi luka dan perih yang tak terkira. Aku juga pernah merasa asing pada sebuah perasaan. Yang aku persembahkan untuk kamu. Dan setelah aku sadar itu cinta … baru aku meraba hatiku yang paling dalam: aku mau kamu.”
Ambyar sudah semua jawaban yang tersusun rapi di otak Pulung. Pernyataan Maha perihal cinta dan perasaannya sangat membuat jantungnya bekerja tidak sehat. Inginnya menimpali namun lidah kelu. Inginnya menjawab guna menghentikan apapun kalimat yang hendak Maha ucapkan. Tapi percuma jika hati dan otaknya bekerja tidak sinkron.
“Aku nggak bisa jauh dari kamu sekuat apa aku berusaha. Itu perasaan asing setelah aku tahu aku merasakan getaran cinta. Jujur … Pulung … ini bukan sekadar perasaan. Ini bukan sekadar aku ingin kamu dan membawa hubungan ini ke ranah pernikahan.” Ini adalah hasrat yang tak bisa Maha sampaikan di mana ada ambisi yang menggunung. Di mana benci dan dendam teraduk di dalamnya. Di mana amatlah sulit Maha posisikan makna cinta yang sebenarnya.
“Aku bahagia. Dan sumber bahagiaku hanyalah kamu. Ini versi asingku dalam fase jatuh dan cinta. Cuma bersama kamu.”
Maha hentikan ocehannya. Kopi pahitnya tanpa terasa sisa setengah dan legutan di mulutnya sangat terasa. Beruntung minuman favoritnya telah tersedia sehingga membantu ucapannya agar tidak bercecer.
“Kamu salah,” jawab Pulung. Ada cairan liquid di sana yang sudah menutup sebagian penglihatannya. Dan Maha enggan bergerak untuk menghapus. Ketimbang menghalangi, lebih baik Maha beri kesempatan untuk airnya meluruh. Jatuh bersama beban yang di pikul Pulung di hatinya.
“Tolong jangan begini.”
Kenapa Tuhan rasanya begitu tidak adil. Menciptakan manusia berbeda jenis dengan takaran rasa yang pas. Berharap porsinya bisa sama dengan caranya memberi rasa. Sayangnya tidak, kan? Tuhan menciptakan namun juga bebas untuk menumpasnya. Tuhan memberi perasaan agar mudah kita curahkan dan tentu ada dua jawaban; diterima atau ditolak. Karena dunia punya dua sisi dalam bekerja sedang malam dan siang juga tak bisa berdampingan.
“Jangan kaya gini di saat aku nggak bisa ngebalas semua yang kamu beri,” ucap Pulung. Pecah sudah air matanya yang berderai-derai membasahi pipi. “Aku pernah terluka. Kemungkinan besar untuk aku menabur luka untuk kamu bakalan ada. Aku pernah di buang karena terlalu membosankan. Dan tidak mungkin juga aku nggak ngebuang kamu suatu hari nanti. Aku—”
“Kamu akan lakuin itu tanpa harus menunggu suatu hari nanti.” Potong Maha. Ya lelaki itu mencoba membangun kepercayaan dirinya untuk merebut hati Pulung. Detik ini juga. Malam ini juga. Pulung harus jatuh ke tangannya. Tak masalah tanpa status yang jelas. Asal Pulung ada dalam genggamannya.
“Tolong … Maha.” Lirihan Pulung kentara sangat putus asa. Namun di beberapa kesempatan Maha ingin terus bersikap egois dengan mempertahankan keputusannya. “Aku ini penuh emosi. Kamu sudah melewati masa-masa sulit waktu aku ngandung Bara. Kamu—”
“Jadi kenapa aku mau bersusah payah untuk di siksa lagi. Begitu, menurutmu?” Lagi-lagi Maha memotongnya. Kali ini sinis sekali dan seringai di wajahnya muncul tanpa di duga-duga. “Serendah itukah aku dalam pandangan kamu, Pulung?”
Jika Ardika sudah sangat kotor di mata Pulung, apa tidak bisa Maha terlihat bersih dan suci? Tengsin sekali karena di nilai sama di mata perempuan yang mempunyai trauma buruk di masa lalu.
Kali ini Pulung diam. Apa yang sudah di pikirkan dalam benaknya di jawab tepat sasaran oleh Maha. Dan untuk itu, satu tanya kembali bersemayan dalam otaknya: apakah dirinya tidak keterlaluan menyamakan Maha dengan Ardika?
Tidak sampai hati kalau Pulung harus jujur. Maha sangat berbeda dengan Ardika. Maha—yang Pulung kenal sejauh ini—sekali pun seorang players dan pembuat onar, tetaplah lelaki baik penuh tanggungjawab. Buktinya, Maha rela menemani dirinya di masa-masa kelamnya yang terpuruk. Dan saat semuanya kembali tertata apik, Maha lah yang berdiri paling depan di garisnya untuk memberinya dukungan.
“Seenggaknya, kamu pikirin Bara. Aku tahu ini kelihatan konyol. Nggak mungkin bocah berumur dua tahun paham permasalahan orangtuanya atau orang sekitar.” Tapi jika tidak kamu ambil kesempatan ini, akan ada tokoh lain yang melanjutkan lingkaran setannya. Rantai itu takkan pernah putus sampai kapanpun.
Semakin tinggi posisi seseorang, semakin banyak orang yang ingin menjatuhkan.
Ini murni antisipasi Maha untuk mencari dukungan di mana Baraja yang akan menempati kedudukannya suatu saat kelak. Dan sabelum usia yang di tentukan tiba, Maha membutuhkan banyak suara untuk memilih Bara sebagai penerus.
“Kamu kekeuh banget.” Pertanyaan Pulung tak terdengar seperti tanya pada umumnya. Karena alih-alih bertanya, Pulung lebih kepada penasaran.
“Bara sudah kaya anakku. Masa kecilku nggak baik-baik saja waktu tumbuh nggak ada papa. Aku nggak tahu siapa mamaku, kaya apa wajahnya, gimana pelukannya. Dan aku nggak mau apa yang aku rasain jatuh ke Bara. Tolong … pikirin sekali lagi. Bukan buat kamu tapi Bara.”
***