Tidak banyak yang bisa Pulung lakukan selain terdiam. Mulutnya menganga dengan ponsel yang masih menempel di telinga kanannya. Sedang suara di seberang sana terdengar menghela napas. Justru jantung Pulung dugun-dugunnya tidak karuan.
Ini masalahnya bukan pada apa yang dirinya dengar. Tapi cara Maharaja yang melamarnya tergolong unik. Jika semua lelaki akan melakukan hal seromantis mungkin guna membuat pasangannya tersipu bahkan tersanjung. Maha mengenyampingkan acara ribet itu dengan langsung menghubungi melalui sambungan nirkabel.
Pulung, kudu ottoke?
Maha sedang ningkah dan itu meresahkan. Pulung yang sudah biasa sendiri di tawari menuju halalnya sebuah ikatan membisu secara estetik. Sampai ingin duduk saja kedua kakinya gemetar. Lebay banget, kan?
Masalahnya … Pulung yang ceria. Pulung yang diam-diam menangis. Sejak hari di mana ia elukan harapan, menjadi hari di mana kelelahan terus menderanya. Jadi untuk yang baru saja masuk ke dalam rungunya, Pulung menyangkal habis-habisan. Ketimbang sakit menggantungkan harapan yang tak pasti lebih baik dirinya bergegas pulang.
Tapi … Pulung hentikan langkahan kakinya. Pulang ke rumah juga bukan solusi yang tepat. Seolah baru teringat jika dirinya dan Maha berada di satu atap yang sama. Kemungkinan untuk lelaki itu mengejarnya berkali-kali lipat terbayang di depan mata Pulung.
Meresahkan, ya, bund. Maha dengan segala ungkapannya membuat Pulung tak bisa berkata-kata.
“Kenapa mbak?”
“Ngh?!” Barulah Pulung kembali berpijak di atas tanah. “Oh enggak.”
“Ada yang kelupaan?”
Adalah Satria. Teman satu kubikel Pulung yang menjabat sebagai HRD III. Biasa dipanggil Bang Sat. Pisahkan jangan digabung. Bisa jadi delik perkara sampai menyambungnya nanti.
“Iya nih. Takut ada yang ketinggalan,” jawab Pulung kikuk. Bukan sok jual mahal atau apa. Pulung tahu, Bang Sat punya perasaan lebih yang kentara di perlihatkan lewat tingkah lakunya. Orang lain tidak akan menyadari kecuali beberapa yang sudah sangat mengenal. Pulung perempuan dan firasatnya sangat kuat.
“Mau aku tunggu?” tanyanya sekaligus menawarkan diri. Bagi Satria, kesempatan kapan lagi akan menghampiri. Jadi, selagi di beri waktu untuk menemani lebih baik Satria pergunakan.
“Nggak usah. Nggak perlu.” Tolak Pulung sehalus mungkin. Melihat dari ekspresi wajah Satria yang datar, Pulung tahu bahwa lelaki ini tak suka di tolak. Belum apa-apa saja sudah berani bertindak perihal raut wajah. Apalagi jika sudah bersama?
Alasan Pulung untuk lebih selektif dalam memilih selain pernah gagal dua kali ialah sikap dan sifat lelaki yang memilihnya. Contohnya Satria. Yang sebenarnya sangat tidak membuat Pulung nyaman. Lelaki itu jika ada kesempatan terus menempelinya tidak peduli tempat. Di kantin sekalipun kalau melihat Pulung makan sendiri ketika tidak sedang bersama kelompoknya, akan Satria hampiri. Menawarkan berbagai jenis makanan yang padahal sudah lelaki itu lihat ada piring beserta lauk dan jajarannya yang sudah Pulung santap. Dan jika Pulung menggeleng atau menjawab ‘terima kasih’ Satria bertingkah lebih mengesalkan dengan membawa serta menu-menu lainnya.
Pulung tidak suka paksaan. Itu saja. Apa yang sudah ada biarkan berjalan sesuai semestinya. Tidak perlu ada rangkaian rencana yang menggagalkan di pertengahan jalan. Karena Pulung pernah ada di posisi yang demikian. Dan itu merupakan trauma terbesar di hidupnya.
“Kamu selalu nolak aku,” kata Satria tanpa pernah Pulung duga. “Aku cuma mau jadi teman dan lebih dekat sama kamu.” Jujurnya melanjutkan.
Ya karena itulah Pulung ketakutan. Perlakuan Satria tak bisa dikatakan nyaman untuk diterima. Pulung hanya menghindari sesuatu yang sudah melibatkan hati untuk jangan memicu harapan lainnya.
“Kita sudah dekat dan menjadi teman,” jawab Pulung tenang. Jam pulangnya sudah lewat dan kondisi kantor sudah sangat sepi. Pulung khawatir pada hal-hal yang tidak diinginkan akan terjadi. Satria bukan seseorang yang bisa dinilai bagus melihat dari bagaimana matanya menatapi Pulung. “Makasih.”
Kaki Pulung cepat-cepat berjalan. Tanpa berani menoleh ke belakang. Dan begitu melihat pintu lobi sudah sangat dekat untuk dijangkau, perasaan lega tak bisa dirinya elakkan.
“Ya ampun.” Napasnya terengah-engah. Perpaduan takut dan tegang ketika menyatu sungguh dahsyat rasanya.
***
“Kamu kenapa? Kok ngos-ngosan banget?” Adalah Maha yang bertanya langsung. “Di kejar setan? Kamu punya hutang sama rentenir?!” Paniknya menyambung.
Aduh! Sejak kapan, sih, Maharaja jadi sangat cerewet begini? Tidak tahu juga kenapa Pulung merasa harus marah dengan pertanyaan Maha yang terdengar konyol. Namun lebih konyol lagi dengan sikapnya sendiri. Wajar saja kenapa Maha bertanya demikian tapi sisi sensitif Pulung sebagai perempuan berperiode merasa kesal maksimal.
Yowoh kenapa jadi ribet banget, sih?!
“Bawahan kamu nggak ada yang berakhlak baik.” Ya jelas wong Maha saja minus total kok. “Akunya jadi takut. Sumpah nyeremin banget.” Padahal Bang Sat nggak mengejarnya atau mencoba membawanya ke tempat-tempat yang sudah ada di pikiran Pulung.
“Siapa?” Sadar tidaknya Pulung berkata demikian, itu sudah memancing emosi di dalam diri Maha. Seorang penuh ambisi seperti Maha takkan pernah suka melihat miliknya di sentuh orang lain atau parahnya tindakannya akan memenggal kewarasannya sendiri.
“Lupain, deh. Aku sudah lega sekarang.” Pulung tenggak minumannya dari botol langsung
“NGGAK BISA!” Menyemburlah air dukun Pulung tepat mengenai wajah Maha. Ngegasnya nggak kaleng-kaleng, hyung. “KASIH TAHU SIAPA!?”
Yorobun. Pulung kalau boleh jujur pengennya jantungan. Alhamdulillahnya nggak ada riwayat jantung di keluarganya jadi sehat walafiat usai mendengar Maha yang ngegas sangatlah sesuatu sekali.
“Kamu kenapa, sih?” Balas Pulung tak kalah kencangnya. Dipikirnya cuma lelaki saja yang bisa kasar. Pulung lebih dari handal. “Kan sudah aku bilang lupain. Nurut!”
Maha akui. Damage mak-mak +62 memang nggak ada tandingan. Ini Pulung yang salah sudah memancing penasaran Maha justru dirinya yang kena sentak.
“Oke.” Maha setujui saja dulu untuk mak-mak satu ini agar mau anteng lagi. “Soal omongan aku tadi …” Jeda Maha sedikit menelisik raut Pulung yang terlihat terkejut.
“Kan sudah selesai.”
Selesai apanya Sumirah. Maha mendengus mendengar jawaban Pulung. Kentara sekali ibu satu anak ini akan menghindari ajakannya.
“Nggak bisa, ya. Jawab pokoknya.” Maha dalam mode tegas sangat meresahkan bund. Jantung Pulung diskonya jedag-jedug nggak karuan. Terlebih tangan besarnya mencekal lengan Pulung. “Ayo jawab jangan malah ngehindar.”
“Aku tuh nggak ngehindar.” Alasan Pulung. “Mau pipis.” Di pasangnya wajah yang sudah memelas dengan menahan. Padahal tidak sama sekali.
“Kita kenal nggak sehari dua kali. Kamu nggak jago bohong.”
Kalau gitu, nyanyian Pulung ialah: Ampun bang jago.
Dan tertunduk lesu.
“Jawaban aku ngambang.” Di kira taik ya ngambang. Maha lemas. Tapi memaksa juga bukan pilihan. “Pertama kamu bikin aku terdiam.” Kepala Maha langsung terangkat. “Kedua… tahu, kan kondisi aku kaya gimana?”
“Ya terus?”
“Ya gitu.”
“Gitu gimana?” Eta otak. Maha gemas sekali serius.
“Kamu bisa nyari yang lebih baik dari aku.”
“Kenapa harus aku turutin.”
Berganti Pulung yang menaikkan emosinya. “Kamu nggak bisa asal milih perempuan buat dijadikan istri. Ada banyak pertimbangan yang mesti kamu ambil termasuk bibit, bebet, dan bobot.”
Sejatinya, begitulah seseorang yang sudah trauma.
***