Maha sudah mengurus Dante. Terbilang benar dan tidaknya yang penting perempuan itu sudah tidak mengganggu dirinya perihal rencana. Dan di penghujung hari yang senggang ini, Maha habiskan waktunya dengan menemani Bara bermain puzzle.
Bocah lelaki itu anteng. Sesekali mulutnya mencecap bekas ganyeman biskuit favoritnya. Dan Maha bertugas menyodorkan ketika di rasa mulut mungilnya mencari-cari.
“Kamu lucu banget, deh.” Seru Maha mengungkapkan ketertarikannya pada pipi gembul Bara yang mendukung keuwuan wajahnya.
“Ucu.” Ulang Bara sambil terus fokus menata susunan yang tak rapi. Menempel di sembarang tempat yang tidak lagi berbentuk seperti contoh. Pasti bagi Bara asal sudah dirinya tempel setelahnya akan di rusak dan kembali menyusun. Buang-buang waktu, memang. Namanya juga bocil, kan?
Sebagai orangtua, yang bisa Maha lakukan hanya membimbing dan mengawasi. Mengarahkan baginya tidak masuk ke dalam tatanan. Karena jika otak anak bisa berkembang dengan lebih baik maka itu suatu kemajuan yang fantastis. Kepintaran seorang anak bisa dilihat dari besarnya rasa ingin tahunya. Maka Maha terus membiarkan. Dan mengasah kemampuan anak lewat sebuah permainan menjadi alternatif terbaik yang Maha pilih. Sejatinya, anak-anak sangat suka bermain.
“Bara mau mobil-mobilan nggak?” tanya Maha.
“Mooo,” sahutnya tanpa menoleh sama sekali.
“Wait, oke.”
“KEY!”
Yasalam. Maha ingin jumpalitan dengan estetik. Melakukan akrobat paling apik tiap mendengar jawaban Bara yang luar biasa. Berjalan menuju ke kamarnya, Maha buka lemari pakaiannya. Ada bingkisan besar di dalamnya. Sengaja di masukkan ke lemari agar Pulung tidak banyak tanya dan melarang dirinya memberikan pada Bara.
Itu hanya bentuk lebih dari rasa syukur Maha terkait proyeknya yang berhasil. Terlalu bingung bagi Maha untuk menghamburkan ke mana lagi uangnya. Bermain ranjang dengan para p*****r bukan lagi hobinya. Pergi berlibur ke luar negeri juga bukan lagi ranahnya. Maha sudah bosan ke luar masuk negara. Semaunya sudah dirinya sambangi sejak duduk di bangku kuliah.
“Nah ini dia.”
Tubuh Maha kembali berada di sisi Bara. Dan balita itu antusias dengan pemberiannya. Terbukti dengan tubuhnya yang berjingkrak girang. Sampai liurnya menetes-netes.
“Uka paaa uka.” Permintaan Bara langsung Maha acc. Tak perlu menunggu lama, langsung Maha robek kertas pembungkusnya. Memperlihatkan kardus besar dengan gambar mobil keren. “Uka. Ara uka.”
“Punya Bara.” Maha angsurkan mobil yang sudah terbuka tepat di hadapan Bara. Ekspresinya sangat lucu. Membuat Maha tertawa lepas. Tapi detik berikutnya menghentikan tawanya menggantinya dengan mimik yang lebih serius. “Bara mau papa?”
Tidak semestinya pertanyaan itu Maha ajukan. Tapi jika tidak mengambil alih hati Bara terlebih dulu. Tidak mungkin ada kemauan Pulung dalam memulai. Perempuan itu terlampau trauma dan takut guna melangkah ke depan. Dalam benaknya, sebuah hubungan yang terikat komitmen akan memudahkan kehancuran. Jadi, bila bisa puas hanya dengan bersama—tanpa ikatan—itu lebih baik kenapa harus ada pernikahan.
Sedang Maha, tidak melihat atau menilai sebuah kebersamaan berlabel komitmen harus dengan ujung pernikahan. Tidak begitu cara pikir otaknya. Maha akan menjadi seorang lelaki yang sangat sabar untuk Pulung. Yang siap sedia menunggu sampai hatinya terbuka. Dan Maha akan maju di barisan paling depan kala kesempatan untuk memiliki telah hadir.
Maha sangat egois jika itu bersangkutan dengan Pulung. Berkali-kali lipat dari ambisinya merebut posisi Ardika.
Tahukah apa yang selalu Maha harapkan dalam doanya?
Maha ingin menjadi lelaki yang selama ini ada dalam pelukan doa-doa Pulung. Yang selalu ada di hadapan mata Pulung. Yang bisa Pulung panggil dan bisa memperlihatkan senyum terbaiknya untuk Pulung. Dan yang paling mendebarkan dalam khayalan Maha adalah tubuhnya yang sangat ingin menyatu bersama dalam dekapan Pulung. Bahkan saat tidak sedang rindu sekalipun.
Maha ingin menjadi lelaki luar biasa bagi Pulung. Yang mau menerima luka-luka Pulung dengan terbuka. Yang ingin menggapainya tanpa melihat dari mana asal usulnya atau dari mana masa lalunya yang membawanya pada status demikian.
Maha ingin menjadi lelaki yang luar biasa. Yang tidak pernah meminta apapun yang tidak Pulung miliki termasuk hatinya yang sudah habis oleh Ardika. Namun hari ini Maha ingin egois dengan meminta itu. Tidak peduli apakah itu sebuah penyiksaan atau apapun yang ingin Pulung lontarkan. Karena… sekali ini saja. Satu kali dalam seumur hidup Maha harus ada kehadiran Pulung.
Maha ingin menjadi lelaki penyabar yang tak pernah habis sedikit pun. Demi menghadapi Pulung dari segala sikap uniknya. Jangan lupakan tentang bagaimana Maha bersikap menerima perlakuan Pulung kala perempuan itu mengandung seorang Baraja. Itu—anggaplah—belum apa-apa. Dan untuk ke depannya, Maha telah menyiapkan stok kesabaran untuk mendapatkan apa yang lebih dari ini.
Maha ingin menjadi lelaki yang tegas namun bukan pemarah. Lelaki yang pandai menjaga kesetiaannya meski tidak sedang bersama Pulung atau ketika perempuan itu jauh dari jangkauannya. Lelaki yang tidak hanya menjunjung tinggi keagungan cintanya namun juga bersedia menggenapi seluruh jiwa Pulung.
Kepada Tuhan agar di sampaikan pada Pulung. Maha tidak meminta apa-apa. Hanya bisa berjanji yang akan di pegangnya erat-erat yang ingin terus menyayangi Pulung tanpa dusta apalagi kebohongan yang penuh kepura-puraan.
Dan harapan Maha hanyalah satu memiliki waktu yang tepat untuk bersyukur dan inilah saatnya. Maha bersyukur sebab serumit apapun kehidupannya, ia tahu akan hadir dukungan kekuatan dari Tuhan dan Pulung yang selalu mengiringi langkahnya.
“Yeee. Mo paaa.”
Lamunan Maha terseret ke dunia nyata. Teriakan Bara cukup mampu membuatnya tersadar dan mengawasi bocah lelaki itu dengan intens. Anggukan kepala yang entah memberikan jawaban atas pertanyaannya atau perihal mainan barunya.
Pastinya, Maha sudah melambungkan angannya bahwa satu pendukung terpenting dalam hidup Pulung memberikan restunya.
“Telepon mama yuk.” Maha angkat tubuh Bara. Menyaringkan suara mungilnya yang Maha balas dengan tawa. “Telepon mama dulu. Suruh pulang.”
“Lang. Muuu lang.”
Alah mboh lah. Maha suka pening sendiri menyoal omongan Bara yang cuma di pahami planet bayi. Namun itulah unsur kelebihan yang Bara miliki. Menarik semua orang ingin mencuil pipinya atau mengecup pipinya yang gembul.
“Muuu ngen. Lang muuu.”
Translete: Mama kangen. Pulang mama.
Yang lekas Maha imbuhi dengan, “Bara bilang mau papa. Dan aku mau ngelamar kamu.”
Asli. Angjim surangjim. Tidak tahu bagaimana ekspresi wajah Pulung di seberang. Sambungan nirkabel yang tercipta cukup menjadi jalan terbaik. Maharaja Askara nggak punya sisi romantis. Cuma Maha yang ngelamar lewat telepon, itu pertama. Kedua, tanpa tedeng aling-aling lebih-lebih salam.
“Kamu mau, ya?”
Ya Gusti. Boleh nggak Pulung pingsan dengan gaya apik di tempatnya sini. Maha sungguh ingin Pulung umpati. Makin tua bukannya makin berakhlak malah akhlakless.”
Sialan!
***