I LOVE YOU
Beberapa hari ini Ardika hanya beraktivitas di dalam apartemennya. Alih-alih menyibukkan diri dengan pekerjaan kantornya yang menggunung dan sudah dirinya atasi di ruang kerjanya. Hasilnya belum memadai untuk bisa membuatnya move on.
Ya. Ardika menjadi sadboy dadakan dengan label gamon (gagal move on). Karena ternyata, setelah di raba lagi hatinya lebih dalam, dua tahun bersama Dante bukan berarti membawa serta nama perempuan yang telah memberinya satu putri cantik untuk menggeser nama Pulung dari sana. Yang ada justru bertahta paling tinggi. Paling mendalam dan Ardika serukan delapan huruf berlafal I LOVE YOU keras-keras. Sampai hatinya sesak dan penuh, baru Ardika akan terjatuh tidur.
Hujan di luar sana belum mau berpisah dari bumi. Selain memasuki musim penghujan yang menjadi latar belakang menuju akhir tahun. Bersamaan dengan itu kehidupan Ardika yang ‘baik-baik saja’ pun akan segera lebur.
Jari-jari Ardika menyentuh tuts-tuts piano dengan ogah-ogahan. Dentingannya terdengar sangat lirih dan memilukan—bagi hati Ardika yang sedang kesepian dan hampa. Satu lagu siap meluncur dari mulutnya. Dan air matanya sudah menggenang di pelupuk matanya. Bahkan sebelum satu kalimat pun keluar. Sebegitu hancur seorang Ardika Aksara.
“Itu tidaklah benar.”
Yang Ardika anggap sudah paling benar untuk hatinya. Yang dirinya kira paling tahu tentang apa yang hatinya inginkan. Nyatanya itu salah.
“Mengatakan padaku aku telah dibohongi.”
Pun dengan dirinya yang telah menuruti napsunya. Otaknya tak bisa berpikir jernih sehingga goyah dengan masa lalunya.
“Menangis tak seperti dirimu. Apa yang telah kulakukan?”
Hari itu Ardika menyesal dalam seumur hidupnya. Pernah mencinta satu kali dan gagal. Dan membuka lembaran baru dengan dirinya yang melakukan kesalahan. Tapi seolah semuanya tak menjadi masalah, dirinya yang berbuat onar dan harus menahan sakit melihat Pulung menangis. Di mana telah dirinya janjikan untuk jangan membuat perempuan tercintanya menitihkan air matanya. Ardika memang pembohong ulung!
“Tak pernah menjadi tipe yang membiarkan seseorang melihat kedalam.”
Malah Ardika berikan sebuah kesempatan bagi perempuan lain menyentuh dirinya. Membiarkan perempuan lain nikmati pada apa yang telah menjadi milik Pulung. Dengan suka rela dan sadar. Ardika lakukan semuanya denga sangat sempurna. Dan kini?
“Sayang, tak akankah mengambilnya kembali. Katakanlah kau sedang mencoba membuatku tertawa.”
Kekehan Ardika menyentak relung batinnya. Jadi yang dua tahun dirinya lihat memang terjadi. Di mana Pulung pergi dari rumahnya dengan tawa seolah-olah tengah melihat kehancurannya.
“Dan tak ada yang berubah hari ini. Kau tak bermaksud mengatakan aku mencintaimu. Aku mencintaimu dan kau tak mau.”
Bukan perubahan bagus untuk hidup Ardika. Jika dulu melihat Pulung pergi adalah awal kehancurannya. Maka hari ini waktu paling tepat untuk menenggelamkan Ardika dalam lautan sesal. Belum sempat dirinya katakan cinta atau mendengar Pulung mengungkapkan perasaannya. Semuanya habis tak bersisa.
“Sepanjang malam dengan mata yang merah.”
Sia-sia sudah. Menahan kantuk demi mencari solusi. Jalan keluar memang tak pernah berpihak pada Ardika. Seperti: berhenti saja! Tak ada lagi bagimu celah untuk memperbaiki.
“Kita berharap tak pernah belajar terbang tinggi.”
Namun angan terlalu tinggi sudah menjatuhkan Ardika di antara bebatuan runcing. Yang tepat mengenai jantungnya. Mengoyak dan menyerpihkan tanpa bisa merekat kembali.
“Mungkin sebaiknya kita coba saja.”
Tidak bisa. Tidak ada lagi waktu yang bisa di putar untuk menengok masa lalu. Hidup untuk hari ini dengan cinta yang terus bertumbuh. Tanpa balasan apalagi harapan.
Usai dengan lagunya, tangis Ardika tergugu. Terasa sangat menyayat hati bagi yang mendengarnya. Lingkup sunyi yang membelenggu mengelilingi. Dinding-dinding membisu. Lampu gantung mewah terdiam—redup. Desau gemuruh angin yang terdengar mengembuskan udara dingin. Mendekap Ardika dalam rasa sepinya.
Hidup sendiri. Sakit sendiri. Kesepian sendiri. Mungkin tak apa-apa. Tak terlalu buruk atau bisa dijadikan pilihan. Bersama tak menjamin kebahagiaan. Bersama tak memberi ruang untuk mencapai satu tujuan. Sempat Ardika berpikir demikian. Tapi hatinya sungguh egois. Ardika ingin memiliki apa yang sepatutnya menjadi miliknya.
***
Maha tak ingin banyak bertanya perihal ‘aku dan kamu’ yang ingin membawa hubungan ini ke arah mana. Dan untuk apa ‘kita’ ada jika memang saling mencintai menjadi jawaban paling benar. Awalnya, Maha pikir akan sulit. Namun setelah melihat bagaimana Pulung membukakan pintu kesempatan… di situ Maha ingin berjuang sekali lagi. Dengan sungguh-sungguh tanpa banyak cin-cong.
Mencintai apa yang ada. Bukan menunggu yang sempurna. Dan berusaha hidup sepenuhnya dalam setiap harinya, tidak berkecil hati—sesulit apapun jalannya—percaya pada kuasa serta masa depan yang telah Tuhan gariskan. Maha akan melakukan itu mulai sekarang.
Sehingga keresahan dalam hatinya mulai berkurang. Kedamaian dalam batinnya datang tepat saat dirinya mensyukuri semua pemberian Tuhan. Tidak lagi rewel apalagi berpikir: itu bisa lebih baik seandainya…
Tidak! Maha tidak ingin lagi berandai-andai yang semacam itu. Sudah cukup kikir syukurnya di masa lalu. Sudah cukup u*****n-umpatannya untuk pilihan Tuhan yang telah menjodohkannya di masa sekarang. Kehidupannya sedang berlangsung amat nyata sekarang ini. Bukan untuk berandai-andai.
“Ketemu?” tanya Maha membuntuti pergerakan kaki Pulung. Perempuan itu sedang mencari sesuatu yang katanya enak untuk di makan.
“Belum,” jawabnya acuh. Tangan dan matanya terus menyisir bagian rak-rak makanan dengan teliti.
Sejujurnya—sekali ini saja Maha hendak mengeluh—kedua kaki Maha sudah capek maksimal. Namun mendapati mood Pulung yang naik turun seperti masa ‘dekat’ tamunya akan datang, lebih baik Maha mengalah. Ketimbang amukan yang dirinya dapat dan bubar di jalan… tidak terima kasih. Lebih baik capek kaki daripada capek hati.
“Kamu pengin apa? Biar aku bantu cari.” Maha menawarkan bantuan. Pun diiringi dengan tindakannya yang memasukkan beberapa bungkus snack ke dalam troli belanjaannya.
“Yang pedas pokoknya. Aku lupa namanya.”
Cabe?
Alis Maha berjengit. Dongkol dan kesal bersalaman di dadanya. Kalau cuma mau yang pedas-pedas bisa beli lombok setan sekilo dan di goreng padahal. Nanti buat camilan di rumah.
“Mie? Seblak? Ceker jeletot? Sambel geledek?” Semuanya Maha sebutkan. Dan tak ada satu pun yang Pulung angguki. Embusan napasnya terdengar kasar. Pulung cuek bebek meski mendengarnya. Perempuan itu mulai menjadikan Maha b***k cintanya dan memperlakukannya semena-mena. “Mau aku bantu tanya ke pelayannya?”
“Kamu cerewet banget, tumben. Ada apa?”
Pulung juga tidak tahu apa yang dirinya ingin cari. Rasanya menguji Maha dengan kadar menyebalkannya bisa membaikkan moodnya. Di tambah Maha yang malah tersenyum dengan anteng… itu meresahkan Bund! Jantung Pulung nggak sehat. Membuat dirinya ingin gogoakan. Kan syalanddd!
“Kamu yang aneh, sih?”
“Kenapa aku?”
Keduanya terlibat adu pertanyaan tanpa ada jawaban satu sama lain. Wasalam saja!
***