Kata-katanya begini:
‘Dia yang tidak menghubungimu bukan karena alasan kesibukannya. Melainkan memang dia tidak menginginkanmu. Garis bawahi untuk kalimat ini adalah menghubungimu. Cetak tebal bila perlu. Jadi, konsep cinta yang sesungguhnya bukan membuat hati ini resah melainkan tidak adanya kerumitan dari kedua belah pihak. Cinta—kalau sadar—artinya bisa saling memperjuangkan bukan malah salah satunya yang meminta.
‘Dia menghubungimu bukan semata keinginannya sendiri. Melainkan kamu yang memintanya. Pun sama halnya dengan dia yang tidak memberimu apapun karena tidak takut kehilanganmu. Begitukah sikap seorang yang mencinta diri kita? Maka dari itu berhentilah. Jangan lagi mencari alasan sekadar untuk mendengar suaranya atau mencari tahu keadaannya. Kamu akan dinilai terlalu bodoh alih-alih menganggap dia yang jahat. Tidak begitu cinta. Kamu harus sadar tanpa perlu mengeraskan hati.’
Dante harus di pukul dengan ucapan-ucapan pedas untuk menyeret kewarasannya ke tepian. Karena Ardika bukan jodohnya dan bukan lelaki yang tepat untuk menerima kucuran cintanya. Semestinya tidak terjadi pengorbanan sebegini besarnya. Lepaskan saja. Itu solusi terbaik. Risiko mencinta satu pihak di samping penyiksaan yang tak berkesudahan ada dendam yang menaungi.
Dendam cintanya tak berbalas. Dendam usahanya tak dilihat. Dendam sakitnya tak di obati. Dendam di kucuri cuka dan garam di atas luka menganga. Jangan menjadi bodoh hanya untuk cinta.
Atau pernahkah kamu meyakinkan seseorang lewat percakapan hingga tetes air matamu mengalir? Ikut berbicara mewakilkan perasaan sesak yang sedang dirimu pikul? Hingga menangis ketakutan akan sebuah kehilangan dan dia tidak pernah sekalipun menoleh padamu?
Itu menjadi ciri khas orang yang takkan pernah ada dalam ukiran masa depanmu. Dia hanya akan menjadi bagian masa lalumu. Sebaik-baiknya pilihan hentikan sekarang juga apapun rasamu untuknya. Berhenti menangis dan memohon untuk dicinta. Tegakkan tubuhmu. Kuatkan kakimu. Busungkan dadamu. Jangan biarkan emosi melingkupi segala keputusanmu.
Maha baru saja menamparnya dengan serangkaian kalimat agar Dante mundur alon-alon dari segala rencananya. Ini tidak berbahaya tapi tetap saja menambah luka yang belum mengering. Sudah sangat hancur hati Ardika berpisah dengan Ayana. Belum mengering lukanya. Tidak menghilang bekasnya. Kembali merasakan kehilangan dengan kasus yang sama.
Bedanya kebodohannyalah yang membawa serta kepergian Pulung dari kehidupannya. Merenggut sumber udara yang sangat Ardika jadikan candu dan menerima dengan lapang bagaimanapun kondisinya.
Tidak pernah usai dengan ikhlas yang sebenar-benarnya arti merelakan. Harus Ardika dapati putrinya yang tidak baik-baik saja. Tidak bisakah bahagia itu Ardika genggam dengan tenang? Sekali saja tidak apa. Asal itu bisa langgeng dan tidak ada lagi kesakitan di kemudian hari.
Nyatanya tidak bisa. Seolah bahagia sudah muak dengan drama dalam hidup Ardika. Dan Dante hendak menambah kesakitan itu. Tidak peduli pada tohokan kata-kata yang Maha tuturkan. Benar pun bagi seorang yang sudah buta takkan merasuk ke dalam relungnya.
“Mending lo pikirin lagi, deh. Berabe kalau Ardika anak siapa itu.”
Dante berdecak tak suka sebagai jawaban. Maha terlalu bertele-tele dalam penilaiannya. Seharusnya yang perlu Maha lakukan hanyalah mendukung apa yang sudah menjadi keinginannya. Bukan malah memberi penghalang yang tak masuk akal sama sekali. Barangkali Maha lupa siapa Dante sebenarnya.
“Gue mau tahu rencana lo.” Tidak bisa diganggu gugat. Sama-sama ambisius kala menginginkan sesuatu. Apa yang sudah menjadi miliknya tak bisa di lepaskan ataupun di miliki orang lain. “Kasih tahu, buru!”
Praduga yang Maha serukan dalam pikirannya tak pernah melesat. Sangat membuang-buang tenaga mencegah Dante dan segala tujuannya.
“Lo pikir gue mau balik lagi jadi p*****r di kelab?!” Karena itu dasar utama Dante merayu Ardika. Sialnya, semua rencana yang Dante susun dengan menyodorkan Pulung pun sangat tepat. Dengan begitu Maha hancur. “Gue ngambil segala risiko bukan buat di nasihati dan di perintah berhenti. Nggak segampang itu.”
Duhhh! Rasanya Maha muak dengan pembicaraan ini yang tak menemukan titik terangnya. Atau hanya dirinya saja yang berbelas kasih dengan peduli pada Dante?
Bodohnya!
“Oke. Kita mulai. Lo bisa tetap jadi nyonya Ardika. Padahal lo baru saja menolak keuntungan yang nggak terhitung. Tapi gue bagi rencana demi lo.”
Memangnya apa lagi yang bisa Maha lakukan selain menuruti kemauan seorang pendendam macam Dante.
***
Ayana misuh-misuh. Tidak tahu kenapa.
Melihat wajah Rambe rasanya sangat memuakkan. Mencuatkan segala rasa benci yang tumbuh di hati. Mulutnya juga pedas maksimal ketika bertutur kata. Yang tentu kebingungan sudah pasti Rambe. Tanpa adanya konfirmasi, Ayana mengusung bantal dan selimut untuknya tidur di ruang keluarga.
“Jangan masuk kamar!” Gertak Ayana tak tanggung-tanggung. “Baju-baju kamu sudah aku siapin di ruang samping dapur. Ke sana saja kalau mau ganti pakaian.”
“Terus aku mandinya—”
“Mandi sendirilah! Kamu bukan bocah lima tahun yang mesti aku mandikan.” Entah kenapa kesalnya berkali-kali lipat mendengar Rambe berkata demikian.
Sedang raut wajah Rambe justru tak bisa di tebak. Ada binar-binar penuh seri kemerahan yang tercetak di pipinya. Bahkan seisi wajahnya memerah.
“Kamu minta banget di eksekusi.”
“Apa?” Vokal Ayana garang tapi Rambe tertawa. “Kamu apa?”
“Pengen makan kamu.”
“Mulut kamu!”
“Kenapa sama mulut aku?” Tantang Rambe.
“Nggak ada akhlak. Kamu pikir aku cewek apaan.”
“Yang aku cintalah.”
“Sudah pintar jawab kamu!?” Sinis Ayana melirikkan matanya. “Belajar dari mana?”
“Kamu. Kan pawang aku itu kamu.”
Eta bujang!
Belum pernah di getok kepalanya dengan batok kelapa, ya? Pacar—ah bukan—mereka hanya menjalani apa yang bisa dijalani. Melakoni selayaknya air mengalir dan membiarkan muara menunggu ke mana hendak di tepikan. Pastinya, Ayana ingin Rambe tidak mendebat ucapannya.
Semakin Rambe menjawab semakin terkuras energi Ayana untuk menahan. Memerahnya wajah Rambe terlihat begitu seksi di mata Ayana. Jadi alih-alih Rambe yang berkata ingin memakannya justru Ayana yang menggebu untuk mengeksekusi partnernya.
“Panas.” Teriak Ayana seraya mengipasi wajahnya. Seluruh keringat di tubuhnya bercucuran. Mengalir dengan deras di balik baju tidurnya. “Kamu apain aku, sih?!”
Kejutannya adalah sudah Rambe bubuhkan sesuatu yang menyenangkan di minuman Ayana.
“Kenapa? Buka baju kamu sajalah.”
“Enak di kamu dong.”
“Iyalah. Pasti!”
Yang bertindak lebih cepat ialah tangan Ayana. Menggeplak bahu Rambe kencang-kencang sampai sang empu kesakitan.
“Rasain kamu. Kamu, kan yang masukin perangsang ke minuman aku?! Kamu j*****m banget tahu, nggak?”
Rambe pun tidak tahu kenapa Ayana sangat menyebalkan akhir-akhir ini. Moodnya yang naik turun terus terang menyiksa Rambe. Sedetik begitu luluh, di detik selanjutnya sangat galak. Macam macan betina minta di kawinin. Tapi di hari berikutnya bisa sangat menyiksa Rambe yang tak di beri asupan ranjang.
“Aku kebelet. Kalau nggak gini kamu mana peka.”
***