Pagi-pagi sekali kondisi rumah Maha sudah riweh maksimal.
Pulung dengan t***k bengek urusan dapur. Dan Maha yang sibuk total perkara baju untuk Baraja. Tidak itu saja. Lelaki yang bertelanjang d**a itu menyiapkan beberapa pakaian pengganti, popok, s**u dan camilan yang biasa Bara makan lekas di susun ke dalam tas khusus bayi.
Selesai dengan keribetan yang di ciptakan sendiri. Beralih pada Bara yang anteng ganyem biskuit susunya. Mukanya masih cemong dengan liurnya yang semalam banjir. Rambutnya juga awut-awutan tapi tawanya tak luntur. Menonton serial kartun kesukaannya Masha and The Bear—yang Maha tebak takkan balita dua tahun itu pahami.
“Ayo mandi.”
“Yeay.” Soraknya.
Asli! Cuma Baraja bocil yang suka dengan air. Mendengar ajakannya untuk mandi saja, semua biskuit yang ada di tangannya tercampak ke lantai. Sungguh ironis nasib camilannya.
“Ikut papa, oke.”
“Owkey.”
Gayanya sangat dewasa sekali. Jempol dan jarinya menyatu kala menjawab. Persis seperti orang dewasa.
“Paaa inta muuu?”
Pertanyaan paling estetik di pagi hari setelah kericuhan yang membelenggu. Maha hendak meninggoy di tempat.
“Gimana?” Ulang Maha. Mana tahu telinganya sedang tertutup jin ifrit yang lewat.
“Inta muuu?”
Begitu kira-kira ketika bayi terlalu gaul dan paham cinta-cintaan sebelum masanya. Maha speechless. Tak bisa menjawab. Sekadar mengerjap dan melakukan kegiatan mengukur suhu air.
“Yok mandi.” Ajaknya mengalihkan topik. Jantung Maha nggak pernah sehat kalau itu berhubungan dengan Pulung.
Sudah anteng. Maha lega hingga mengembuskan napasnya kasar-kasar. Beruntung tidak pendek-pendek seperti orang sakaratul maut. Melihat Bara sudah teralihkan dengan mainan bebeknya dan ocehan-ocehan khasnya. Maha mana paham selain yang ‘inta muuu’ sisanya ngambang.
“Paaa.”
Mata Maha langsung terbuka. Mulai horor kalau-kalau ada yang mau di sampaikan oleh Baraja terkait mumunya. Ah sialan. Damage nggak tanggung-tanggung. Padahal Maha sudah tua untuk bisa merasakan dugun-dugun.
“Ya?” Setenang mungkin dalam menjawab. Terlihat Bara yang menyengirkan bibirnya. Gigi-giginya terlihat dan menggeleng pelan. Di dalam buth up ini, sudah biasa terjadi pertempuran Bara dan Maha jika sedang mandi.
“Pipis,” ucapnya. “Ara pipis.”
Lalu?
Alis Maha mengerut heran. Kenapa bocah ini sangat menggemaskan. Segala sesuatunya di laporkan ke Maha bahkan perkara buang air kecil sekali pun. Heran.
“Nanti airnya di buang.” Maha tinggal membuka tutup saluran dan semua air akan turun ke luar.
“Auuu.” Bau katanya. Tapi Maha acuh dan menggosok punggung kecil Bara dengan tangannya.
“Wangi kok.” Maha cium kepala Bara sebagai tanda bahwa itu benar. Memang wangi. Air pipis tidak akan membuat baunya menempel di kulit. “Sudah. Ke sana.” Maha membawa Bara ke bawah kucuran shower dan membilas tubuhnya. “Anak papa sudah ganteng. Tinggal cusss.”
***
Yang berdecak kagum banyak. Tak ayal para pegawai—terutama perempuan—yang sangat memuja Maha. Seketika patah hati dan di tandai sebagai patah hati nasional. Beberapa dari mereka ada yang mengeluarkan tangis dan sesenggukan tanpa malu. Tanpa peduli bahwa make upnya berantakan.
“Anaknya ganteng banget.”
“Nggak nyangka sudah punya buntut.”
“Sia-sia selama ini gue puja-puja itu bos.”
Sepenggal isi yang mampir di rungu Maha. Sedang Bara anteng di gendongannya yang mengeratkan tangan pada lehernya. Kepala bocah dua tahun itu sibuk menelisik setiap bangunan yang mewah dalam pandangannya. Terbukti dari liurnya yang menetes menandakan kekaguman tengah terlukis di kepalanya.
“Ara mo di cini elus paaa,” ujarnya penuh minat.
“Bara suka?” Maha ajukan tanya guna memastikan. Pun sudah terencana di otak Maha bahwa Bara akan menjadi senjatanya di hari ini maupun masa depan.
Dan semua itu berkaitan dengan kehadiran Dante di ruangannya. Info yang di sampaikan dari sekretarisnya, perempuan itu sudah menunggu. Maka, Maha kian santai dalam memijakkan kakinya di lantai bermarmer dan mengoceh sepanjang jalan menimpali Bara.
“Jalan ya?” Di turunkannya tubuh mungil dari gendongan Maha. Tangan besarnya menggandeng tangan mungil Bara yang tingginya hanya sebatas pahanya.
“Mo di cini paaa.” Sekali lagi Bara mengutarakan.
Maha oke-oke saja jika bocah dalam gandengannya merasa suka. Toh takkan menjadi perkara serius apabila pekerjaannya bertambah dengan menjaga Bara.
“Ke sini sayang.” Yang panas pipinya bukan Baraja melainkan sekretarisnya. Aira namanya. Perempuan berumur 28 tahun itu diam-diam penggemar berat Maharaja. Jadi patut saja Aira merasa retak hatinya melihat tingkah Maha dengan membawa balita ke kantornya. “Ini. s**u Bara di dalam sini.” Serahnya mengulurkan tas di pundaknya ke Aira.
Aira terima dengan senyum malu-malunya. Membiarkan Maha memasuki ruangannya dan di sambut berisik oleh suara bayi lainnya. Tentunya bukan Bara karena bocah itu sudah lebih dulu memeluk kaki panjangnya.
“Anak lo?” Dante tidak menunggu dengan sabar. Langsung mengajukan tanya dan menatapi postur wajah Bara. Matanya melotot di detik berikutnya. Menyipit merasa tidak percaya dengan penglihatannya.
“Saingan anak lo,” kata Maha terus terang.
“Gimana bisa?”
“Mereka bereproduksi, btw.”
“Maksud gue… kenapa bisa Pulung hamil dan sampai ngelahirin. Lo… jangan bilang selama ini. Berengsek!” Umpat Dante. “Lo benar-benar b******n Maha.”
“Nggak kebalik?” Wajah Maha kentara menghina. “Lo lupa sama tindakan lo yang nggak lebih manusiawi dari gue? Jangan lupa…” Maha melihat bayi perempuan yang sedang memainkan bonekanya. “Siapa dia dan dari mana asalnya.”
“Armani—”
“Oh Armani namanya.” Potong Maha cepat. “Aksara?” Licik sekali, kan Dante ini? “Yang bukan anak kandungnya bisa mendapat nama belakangnya sedang darah dagingnya harus kosong melompong. Dunia selucu itu, Nte.”
Dante diam. Merasa tersudut. Dan itu jelas menyenangkan di mata Maha. Permainan baru saja dirinya mulai. Tapi Dante sudah sangat putus asa di sebelum gemaan CUT terdengar.
“Gue nggak nyangka lo bakal bertindak sejauh ini.”
“Bagian mana yang terlalu jauh?”
“Lo pura-pura ngebantu semua rencana ini tapi nyatanya lo ambil posisi untuk keuntungan lo sendiri.”
“Hei!” Tegur Maha. Seringai di wajahnya begitu menakutkan. Dan tungkai kakinya menghampiri di mana keberadaan Dante dan putrinya. “Gue selalu cinta sama Pulung. Karena dia obsesi terbesar dalam hidup gue. Sama halnya dengan lo yang tergila-gila sama Ardika. Nilai kita sama. Skornya nggak pernah berkurang.”
“Seenggaknya, lo singkirin bayinya.”
“Kenapa harus gue lakuin? Ini senjata gue. Ini yang gue tunggu-tunggu. Yang lo pikir Pulung ke luar tanpa membawa apa-apa tapi dia bawa bumerang mematikan buat Ardika. Lo tamat Dante. Kelar buat semua usaha lo selama ini. Percuma!”
Bagaimana bisa percuma?
Tak akan Dante biarkan kesempatan terbaik yang sudah di dapatnya. Ardika miliknya. Semua yang sudah dirinya nikmati tidak bisa di tarik paksa untuk kembali terlepas.
“Kecuali—”
“Apa pun!” Berganti Dante yang memotong. “Gue lakuin asal nggak ada perpisahan.”
***