Pulung sedang gabut di penghujung weekend ini. Pasalnya, waktu yang biasa dirinya habiskan bersama Baraja justru terambil alih oleh Maha yang membawa putranya berjalan-jalan. Janji melihat pinguin di kebun binatang benar-benar Maha kabulkan. Sedang Pulung tengah mengalami sindrom malas maksimal yang mengharuskan tubuhnya rebahan secara estetik.
Jadi ya gitu. Cuma guling sana guling sini dan ketika lelahnya gegoleran sudah mendera, Pulung akan beranjak ke dapur. Mencari-cari apa saja yang bisa mengganjal perut dan melepas dahaga kerongkongannya. Dan begitu usai dengan acara ganyemnya, Pulung akan kembali melaksanakan niatnya untuk hanya mencintai kasur sepanjang hari ini. Capek dengan kasurnya kembali kakinya bertandang menuju dapur. Kali ini memasak apa saja bahan-bahan yang ada dalam kulkas. Lalu memakannya sendiri.
Kerennya, bereksperimen sendiri untuk dinikmati diri sendiri. Fucek memang! Cringe jomblo nggak pernah ada baik-baiknya selain ngenes.
Dan hingga sore hari di mana tubuhnya telah bersih serta wangi. Sedang kedua makhluk yang sering muncul di hidupnya belum juga kembali, Pulung di landa sebal maksimal. Ya entah alasannya apa. Tapi ditinggal sendiri dalam kondisi tidak punya kegiatan sungguh tak mengenakkan.
Tapi menolak ajakan Maha yang selama seminggu penuh sudah menawarinya bukan jalan terbaik karena ya gini ini. Sok-sok’an mau di rumah padahal biasanya sibuk sama aktivitas pekerjaan.
Oh ya, sekadar info. Pulung berada di bawah naungan kantor Maha. Tidak dalam satu gedung memang. Karena Maha menempatkannya di kantor cabang. Bagian yang Pulung pegang cukup puas jika di lihat dari gasil gajinya: HRD II. Yang sebenarnya tidak benar-benar di butuhkan. Namun Maha memiliki dalih untuk menguatkan keputusannya.
Bahwa katanya, ‘kalau bisa dua dan sama-sama meringankan pekerjaan masing-masing, kenapa enggak?’
Barangkali memang benar pilihan Maha untuk membuat susunan kinerjanya begitu. Sepengamatan Pulung, satu tahun berada di sana tidak pernah terjadi masalah yang memelikkan. Semuanya teratasi secara apik dan rapi. Para pegawai juga tidak pernah mengeluhkan peraturan baru ketika di terapkan. Justru lebih terbantu dan meringankan bentuk tanggungjawab dari pekerjaan masing-masing.
Baik. Kembali pada agenda dirinya di sabtu sore. Kan tidak terasa matahari sudah tergelincir ke barat saja. Meski lembayung orange masih melukiskan eksistensinya dan semilir angin menerbangkan rambutnya yang tergerai. Secangkir kopi dengan kepulan uap panas di atasnya menjadi sangat Pulung nikmati bersama burung-burung gereja yang kembali menuju peristirahatannya.
Helaan napas Pulung terembus berat. Dalam hatinya ada sekelumit masalah yang kian hari terus memberontak ingin di lepaskan. Tapi kenyataan yang pernah dirinya temui menahan segala cara bahwa begini sudah lebih baik. Tanpanya sudah paling benar.
Maka hingga hari ini tak pernah ada perubahan signifikan yang bisa Pulung bawa apalagi di rasakannya. Kecuali rasa syukur untuk Baraja yang tumbuh dengan baik.
Pulung ingat sekali dengan rangkaian kalimat yang pernah tersusun rapi dalam draft buku hariannya. Isinya adalah:
‘Bersamamu banyak kekuranganku yang kamu tutupi. Aku yang mencintaimu dan kamu yang satu-satunya penuh cinta untuk aku sayangi. Kamu yang penyayang dan kamu yang penyabar dalam menghadapiku. Kamu yang pemaaf yang sering kali aku membuatmu marah. Itu kamu. Yang aku buat marah, kamu balas dengan senyuman terteduh sepanjang napasku berembus. Kamu yangs seringnya aku buat kesal namun tidak pernah mengeluh kecewa dengan sikapku. Kamu yang dewasa. Yang tahu cara mencintaiku tanpa perlu mengatakan ‘I love you’. Kamu yang aku buat kecewa namun terus menginginkanku tanpa melihat seberapa besar kesalahan yang aku buat. Aku seorang yang banyak sekali kurangnya. Tapi kamu lengkapi dengan kesempurnaan cinta meski tak selaras milik Adam dan Hawa. Dari sini untuk kamu yang sangat mencintai aku. Tak banyak pintaku. Lewat panjatan doa bahwa semoga Tuhan menggariskan takdir kita untuk kembali bersama suatu hari nanti. Bahwa semoga langit memberikan restunya untuk kita—terutama aku—kembali merajut kisah yang di paksa berhenti. Dan untuk para malaikat semoga turut serta menyerukan amin bagi doa-doa kita dan niat baik untuk diikat. Terakhir, terima kasih telah bersedia mendampingiku dengan segalanya. Aku mencintai kamu dengan seluruh hidupku.’
Itu yang pernah Pulung persembahkan hanya untuk Ardika. Bukankah kehadiran lelaki itu sangat intens di hidupnya? Sebentar namun berkesan. Sebentar namun mampu melejitkan kupu-kupu di perutnya. Sebentar yang rasanya mampu menghentikan pembuluh nadinya dalam sekejap. Sebentar… karena tak butuh waktu lama bagi Pulung untuk mencurahkan rasa cintanya.
Kedua. Dunia boleh menilai bahwa Pulung memiliki sisi sesal yang sampai detik ini bernaung. Hujat saja, tidak apa. Akan Pulung terima karena itu faktanya. Karena itu kebodohannya yang telah bertindak tanpa mau mendengarkan. Rasanya percuma punya dua telinga yang digunakan untuk mendengarkan dan menyaring lebih jeli. Tapi Pulung memilih percaya pada apa yang sudah meruntuhkan kepercayaannya.
‘Saat paling menenangkan bagi kita adalah kala berada dalam sebuah hubungan dengan seseorang yang sangat mencintai kita. Yang setia berada di sisi kita. Yang begitu menerima kita apa adanya tanpa melihat seperti apa masa lalunya. Serta di jaga dengan sangat hati-hati. Begitu kamu mendapatkan apa yang sudah sangat membuat hatimu nyaman, genggam, jangan lepaskan. Sebab, bukti otentik dari mencintai hanyalah rasa tenang.’
Sekarang semuanya telah usai. Tak ada yang bisa Pulung ambil selain sisa kenangan yang bercokol tercampur sesal. Yang Pulung kira hanya berjalan beberapa bulan bisa dengan mudah dirinya lupakan selayaknya membalikkan tangan.
Tidak. Ardika sangat berkesan. Melukiskan sejuta cerita yang hanya bisa Pulung genggam dalam memori otaknya. Dan siksaan terbesarnya adalah Baraja. Bocah dua tahun itu sangat menuruni Ardika. Konon katanya, anak yang terlampau mirip dengan ayahnya, cinta yang sangat besar dari ayahnya mengucur dengan deras.
“Muuu.”
“Lama.” Pulung bersungut-sungut bahkan sebelum putranya sampai di tempatnya. “Kamu suka?” Bara menganggukkan kepalanya. “Capek?”
“Apek. Cuka.”
Ini kenangan terbesar yang Ardika tinggalkan bersama dirinya. Yang Ardika berikan tanpa sekalipun Pulung memintanya.
“Ini apa?”
“Nya Ara.” Punya Bara, artinya begitu.
Putranya sungguh terlalu gaul karena mengidolakan Maha sebegitu dahsyatnya.
“Punya mama mana?” Tagih Pulung seraya menyodorkan tangan kanannya. Berharap mendapat oleh-oleh yang Bara bawa.
“Ndak auuu. Muuu ndak auuu.”
Kok rasanya Pulung tertohok sekali. Di tolak sendiri sama anak yang kini beralih ke dalam pangkuan Maha. Mengoceh dengan apik bersama liur yang menetes-netes.
“Besok aku bawa Maha ke kantor, ya?” Pinta Maha. “Baby sister dia lagi ada acara keluarga.”
“Jangan. Nggak usah. Biar aku saja.” Tolak Pulung. Penuh pertimbangan baginya jika harus Maha yang membawa Bara. Rasanya sudah cukup membuat lelaki 32 tahun itu repot karena dirinya.
“Aku nggak kerepotan. Sama sekali enggak. Aku ada rencana buat ngenalin Bara ke perusahaan. Biar dia cinta sama dunia bisnis.” Paling Maha ketahui arti dari tatapan Pulung.
Tentu. Ada rencana terselubung di dalamnya.
***