Ardika dan Dante bersitegang.
Mendengar bagaimana Dante mengatai putrinya ‘berengsek’ yang tak patut sama sekali untuk dilontarkan. Menyentil sebagian harga dirinya terinjak-injak. Entah Ardika yang sudah muak dengan hubungan ini atau memang sudah hampa sejak awal. Yang pasti tanpa keraguan dirinya gaungkan: PERPISAHAN. Itu saja.
Yang sayangnya di tolak mentah-mentah oleh Dante. Tidak tahu maunya perempuan itu apa. Setelah mengancam dengan cara membeberkan rahasia yang sejauh ini tersimpan apik. Toh itu sudah tidak berlaku bagi Ardika. Semuanya masa lalu. Jadi di sebarkan pun takkan memiliki pengaruh apapun.
“Kita nggak pernah cocok. Please, Dante. Ayo kita pisah.” Sudah sangat putus asa Ardika menyatakan keinginannya. Yang terus-terusan di tolak berupa gelengan oleh Dante. “Kamu maunya apa?”
“Kamu.”
Bajingan!
Orang gila mana yang telah mengenalkan Ardika pada perempuan semenjijikkan Dante. Yang dengan sadar pernah Ardika tunggangi. Mengerang nikmat dan mendesah hebat. Otaknya sangat panas saat ini. Tapi Dante mempersulit segalanya.
“Kita cuma perlu pisah dan kamu nggak usah khawatir soal hak asuh Armani. Dia tetap jadi anakku.” Tekan Ardika sekali lagi. Meski tahu hasilnya nihil. Hubungan ini sudah di ujung tanduk. Tak bisa di selamatkan sama sekali.
“Aku nggak mau apapun alasannya. Mau kamu kasih aku janji buat bisa sama Armani, aku tetap nggak mau!” Karena anak itu hanya senjata bagi Dante untuk bisa masuk ke dalam keluarga Aksara. Karena Armani yang membuatnya bisa menikah dengan Ardika secara resmi. Jadi tidak semudah itu Dante melepaskan segala pengorbanannya.
“Apa yang kamu cari?” Ardika tahu. Dante bukan perempuan baik-baik yang dengan sukarela bertahan. Tanpa alasan dan dasar cinta di dalam rumah tangga ini. Bagaimana bisa pondasinya akan kokoh?
“Aku nggak mau Armani kekurangan kasih sayang dari kedua orangtuanya.”
“Kita bisa merawatnya bareng-bareng. Aku masih bisa jenguk Armani seminggu sekali.”
Bohong sekali kedengarannya. Sehingga decihan Dante terdengar dan seringai di bibirnya tercetak jelas. Tanpa di tutup-tutupi agar Ardika bisa melihat seperti apa dirinya yang asli.
“Cukup Naomi yang kehilangan orangtuanya. Anakku nggak boleh cacat mentalnya.”
Baru saja Dante lemparkan bomnya. Menyulut sisi terdalam Ardika dengan mengungkit masa lalunya yang memang benar adanya.
“Dan kamu pikir aku mau? Karena siapa aku kembali bercerai? Kamu! Dan kamu nggak lebih dari seorang pengrusak rumah tangga orang.”
“Kalau gitu nggak perlu ada perpisahan. Kita tetap jalani apa yang sudah kita mulai. Kamu nggak bisa mengakhiri begitu saja. Ini semua ada karenamu. Aku berada di sini juga karenamu. Jangan lupa. Aku hancur untuk siapa.”
Benar-benar gila. Dan bodohnya Ardika baru melihat Dante yang asli. Yang Ardika pikir sangat polos dalam segala hal—dulu—faktanya tidak lebih dari iblis yang menyamar sebagai seorang perempuan.
“Bukan itu maksudku.”
“Apa lagi sekarang?” Teriakan Dante menyiratkan frustasi yang mendalam. Sudah tidak tahu lagi bagaimana cara menghadapi Ardika yang begitu kekeuh ingin berpisah. “Kamu pikir semua ini mudah, hah? Pernikahan buat kamu cuma mainan. Kamu bisa menikah sesukamu lantaran rasa bersalah. Dan bercerai ketika sudah muak. Aku benci bilang ini. Tapi kamu benar-benar biadab!”
Jujur. Sudah tidak ada alasan untuk Ardika menanggapi ocehan Dante. Yang lebih kepada seorang pasien butuh ruang isolasi guna menenangkan diri.
“Kamu?!” Dante lemparkan semua barang-barang di hadapannya. Yang bisa dijangkau dan berakhir mengenaskan di atas lantai. Tak butuh waktu lama. Ruang keluarga sudah mirip kapal pecah terombang-ambing badai.
Sedang kaki Ardika membeku di tempat. Apa sebegini sulit untuknya menggapai bahagia yang sebenar-benarnya tanpa sebuah drama. Apa sangat Tuhan benci segala tindakannya di masa lalu sehingga karma terus dirinya petik tanpa ada ujungnya. Dan kenapa semuanya harus berakhir sama di persidangan?
Semesta sangat mendukung cara kerjanya untuk tidak membiarkan Ardika bahagia. Ardika tahu dan bahkan sangat tahu dengan tabiat manusia yang selalu berbuat dosa. Dan menghalalkan segala cara layaknya iblis untuk bisa mencapai tujuannya.
“Aku tetap mau pisah.”
***
Pagi hari di ruang kerjanya adalah pemandangan terlangka yang tiba-tiba menjadi sangat mengesankan di mata Maharaja.
Bayangkan! Dua tahun tanpa kabar yang Maha pikir semuanya baik-baik saja atau mendekati bahagia katakanlah begitu. Kini nampaknya tidak demikian. Itu terlukis jelas dari rambutnya yang kusut masai dan raut wajahnya berantakan meski di poles bedak seapik apapun.
“Butuh sesuatu, kan, lo?” Tanpa tedeng aling-aling langsung Maha sodorkan tanya tepat sasaran. “Kenapa lagi sama kehidupan lo yang sudah adem ayem ini?” Melegut air mineral langsung dari botolnya hingga sisa setengah barulah Maha dudukkan bokongnya.
Dan telisikan tatapan dari lawan bicara di hadapannya menyeret sinyal ketidaknyamanan bagi Maha. Benci sekali rasanya di nilai sebegitu detailnya.
“Gue nggak banyak waktu.” Tegas Maha alih-alih untuk membalas tatapannya.
Jika boleh harus jujur, malas menjadi kesukaan Maha kala bersua dengan perempuan ini.
“Gue perlu bantuan lo,” jawabnya setelah diam melingkupi ruangan.
“Tahu! Makanya sudah gue tanya lebih dulu tadi. Apa lagi sekarang?”
Ekspresi wajah Maha sudah lebih ogah-ogahan untuk menghadapi masalah apa yang Dante pelikkan. Benar, itu Dante. Dan hanya perempuan tak tahu malu ini yang selalu mengganggu Maha.
“Ardika ngajak cerai.”
Waw. WAW! Ow. OWKEY!
Begitu saja yang terlintas di isi kepala Maha. Selain tersenyum tipis, dalam hatinya pun berucap ‘bahwa apa yang kita dapatkan secara tidak tulus, takkan bisa melanggengkan jalannya’ sama halnya perkara jodoh yang merupakan rahasia Tuhan. Dan kita sebagai manusia justru menumpasnya.
“Kaya ngajak kawin saja. Lurus banget mulutnya.” Ejek Maha.
“Gue serius!” Seru Dante tidak terima.
“Karena lo bukan jodoh Ardika. Makanya nggak kaget bakal bubar secepat ini. Dua tahun tuh nggak lama. Baru kemarin banget malahan. Ibaratnya lo lagi numpang tidur di jam sepuluh malam dan di paksa bangun jam empat subuh.”
Decihan Dante akan perumpamaan yang Maha jabarkan sangat tidak masuk akal. Apa hubungan perceraian dengan waktu yang terjalani dua tahun sebagai suami istri. Sedang ujungnya adalah perceraian.
“Nggak bisa lo bikin Ardika batalin rencananya?”
Ada. Maha selalu punya segala cara untuk mengambil semua jalan dan dijadikan pintasan mengambil alih kehidupan Ardika. Ada banyak langkah-langkah licik yang bisa Maha tempuh demi ambisinya yang membumbung.
“Hukum alam itu ada,” kata Maha sejenak mengalihkan pikiran buruknya. Tidak menampik kemungkinan bahwa semuanya juga percuma karena tahu tabiat Ardika yang sudah berucap A selamanya akan begitu. “Yang menyakiti bakal rasain kaya apa di sakiti. Lo sedang menjalani apa yang lo buat beberapa tahun lalu.”
“Dan gue nggak butuh apapun itu bentuknya karena gue cuma mau caranya. Gue nggak mau pisah dari Ardika. Paham?!”
***