Pulung antarkan Naomi ke sekolahnya yang baru. Sebelum melepas untuk masuk ke dalam kelasnya yang baru, Pulung jajarkan lututnya di lantai. Menatapi wajah Naomi dengan kedua tangan meraba wajah mungilnya. Bibirnya tersenyum segaris. Dan bahagia melambung di dadanya. Entah bagaimana dengan Ayana yang sudah melahirkan Naomi kedunia ini. Satu saja bisikannya; terima kasih.
Ah, ya, bagaimana bisa Pulung mengenal Ayana?
Ingat soal pertemuan mereka ke Lombok dulu? Di mana mama Lira hendak menemui putra angkatnya. Itu Rambe dan Ayana calon istrinya—waktu itu. Pertemuan pertama setelah sekian tahun membuat Ayana menangis kencang sampai sesenggukan. Beruntungnya Naomi tidak terguncang dan tenang saja melihat tangisan wanita asing di hadapannya.
“Mama bangga banget kakak hadir di sini.”
“Kakak juga bangga punya mama.”
Keduanya saling tertawa dan Pulung sematkan kecupan di seluruh wajah Naomi.
“Bedak kakak hilang mama.” Keluh Naomi.
“Mama bawa kalau kakak mau pakai.”
“Bedak baby warna biru itu mama bawa? Ish!” Naomi melotot tak percaya dengan tindakan mamanya. Semakin ke sini mamanya semakin ribet. Benar dan bersyukur karena papa sangat-sangat-sangat legowo.
“Nanti makan siang bareng papa sama adek.”
“Di rumah?”
“Kantor papa. Nanti mama jemput.”
“Mama bolak balik jadinya.”
“Nggak apa-apa.”
“Kasihan dedeknya. Mending mang Ipin saja yang jemput.”
“Terkabul.”
Selesai. Pulung bangkit berdiri dengan susah payah dan melihat Naomi hilang di balik pintu cokelat ruang kelasnya. Rasanya sesuatu sekali melihat Naomi tumbuh dengan baik tanpa ada tangis seperti dulu. Dan usianya yang terus bertambah, membuat Pulung kian over dalam melindungi. Bukan dari kekerasan melainkan siksaan mental dari orang-orang sekitar.
Kehidupan memang sekonyol itu. Terlepas dari satu masalah akan tumbuh masalah baru. Hilang dari satu manusia, muncul manusia baru dengan problem yang berbeda-beda. Apa memang sudah begitu jalan hidup manusia?
Dulu, dengan Mija yang sudah beres masalahnya meski berujung pada perpisahan di usia papa mertuanya—Aksara—yang terbilang tidak lagi muda. Damai dan tentram selama beberapa tahun. Lalu kemarin muncul permasalahan lain yang menyerang putrinya. Pulung geleng-geleng kepala keheranan.
Trauma. Hanya itu yang menjadi ketakutan Pulung saat ini. Bukan untuk dirinya melainkan Naomi. Jika sejak kecil saja sudah banyak masalah yang menyambangi putrinya, bagaimana dengan tumbuh kembangnya kelak?
“Mikirin apa?”
Lupa jika tubuhnya sudah sampai di kantor sang suami, mata Pulung mengerjap. Kepalanya menggeleng dan kepalanya menyender di bahu Maha. Akhir-akhir ini manja menjadi sikap Pulung. Mengalahkan Baraja yang anteng bin yahud di tempatnya.
“Papa wangi,” balasnya sembari mengendus leher Maha. “Kenapa ganteng banget, sih?! Sudah tua juga!”
Maha tertawa. Satu tangannya yang bebas tugas mengelus kepala Pulung dan mengecup pucuknya.
“Mama kalau cemburu suka nggak punya akhlak.”
“Wajar dong!” Ngegasnya. “Nggak suka berbagi mama, tuh. Di kira enak kali, ya.”
“Yeuu papa juga nggak mau. Ya kali mama mau bertindak criminal dengan nyongkel mata mereka.”
“Amit-amit, Gusti. Amit-amit! Mulut papa memang nggak punya tandingan.”
Pulung akui, semakin hari semakin banyak tingkah suaminya. Maha jadi pintar menggoda dan membuat Pulung bersemu terus-terusan.
“Jadi mama Sayang, cintanya papa masak apa untuk siang ini?”
Nah ini salah satu contohnya. Maha nggak punya malu sedikit pun untuk mengumbar kata-kata sayangnya. Tidak peduli di mana pun tempatnya bahkan kadang di hadapan kedua anaknya sekali pun. Memang akhlakless sekali suaminya ini.
“Pecel terong sambal terasi, sayur bayam, ikan panggang, sama sop request Bara dan Omi.”
“Mama pasti capek, kan masak segitu banyaknya buat kita semua. Makasih banyak ma sudah ngurusin ketiga bayi besarnya.”
Bahagia tidak, sih punya suami macam Maharaja Askara ini?
Banget. Itu jawaban Pulung paling tegas sepanjang usia pernikahannya. Maha sama halnya dengan segala impian kemustahilan yang dapat Pulung sentuh hingga ke dasar. Pernah Pulung katakan bahwa memimpikan memiliki Maha saja tidak. Sekali dalam sekejap saja tidak. Tidak berani Pulung ambil risiko sedalam itu untuk mencintai seseorang yang berbeda strata dengan dirinya.
Kejamnya pernikahan pertamanya dulu yang hanya berjalan satu tahun, membuat Pulung enggan muluk-muluk. Menggantungkan hidup dan harapan kepada manusia sama halnya membuka peluang untuk tersakiti. Karena sejatinya, seseorang yang mencintai kita, akan tinggal tidak peduli semiskin dan seburuk apa keadaan kita.
Trauma yang Pulung miliki tidak hilang dalam sekejap. Hingga detik ini pun masih ada. Sering terngiang dan menyambangi tidur lelapnya. Dan Maha sangat tahu seberapa sulitnya bagi Pulung untuk kembali mencintai. Sulit memberi hati serta membuka kesempatan tapi dorongan dan dukungan yang Maha berikan tidak hanya bualan semata.
“Bangga punya kamu,” bisik Pulung. “Cinta kamu banget-banget-banget.”
Senyum Maha terkembang. Kerutannya sampai ke sudut matanya yang cantik. Kecupan di sematkan ke bibir Pulung tanpa ada tuntutan.
“Cinta kamu pakai kali-kali-kali,” balasnya. “Makasih sudah bertahan sampai sejauh ini. Aku harap nggak cuma hari ini saja. Ayo, kita sama-sama terus.”
“Sejak ada kamu, aku nggak takut buat melangkah. Buat hal-hal baru untuk Bara dan Omi. Makasih Sudha ngasih aku kebahgaiaan yang nggak sekadar bahagia. Ini lebih dari apa pun yang nggak bisa di tukar dengan nominal berapa pun.”
“Aku sudah janji soal rasa sakit. Sebisa aku buat nepatin. Ini sulit, tapi aku coba yakinin kalau kamu pantas aku perjuangin. Kamu juga ada di sisi aku sampai sejauh ini. Nggak ada yang sia-sia.”
Tidak ada yang percuma dalam hidup ini. Pulung tahu itu. Selama kita mau berjuang dan berusaha memperbaiki diri. Semuanya akan berubah bersama alur yang sudah Tuhan tentukan. Pulung melihat itu semua bahwa mereka yang datang dan memberi pelajaran pada hidupnya. Bahwa lewat ini semua, Pulung di haruskan mencintai hal-hal kecil di sekitarnya. Tidak lagi menyembunyikan senyum cantiknya. Bahwa semua yang terlihat datang ke dalam hidupnya adalah kenyataan.
“Kita pernah mengalami masa-masa sulit sebelum ini.” Maha peluk Pulung dengan erat. Aroma istrinya yang khas begitu melenakan dan mengalihkan kepenatan akan semua berkas di mejanya. “Kita pernah terpuruk dan aku—kita—bersama. Hari ini kita bangkit. Untuk masa laluku, terima kasih. Dan untuk kamu, bertahanlah. Aku mencintai kamu sampai ke bagian terdalamnya. Kesakitanmu, masa burukmu, dan kesusahan-kesusahan yang akan kamu jalani setelah ini. Jadi, tetap di sini.”
Tidak tahu mengapa Pulung senang untuk itu.
Sampai suara pintu yang terbuka dan tertutup di barengi perdebatan kecil kedua anaknya, mata Pulung berbinar.
“Kakak yang lelet!”
“Adek nggak sabaran. Resek kalau lapar.”
“Itu tahu. Kakak harusnya ngasih aku jajan.”
“Mama nggak pernah kasih izin kita jajan sembarangan. Adek mau sakit?”
Naomi selalu seprotektif itu jika menyangkut Baraja yang keras kepala dan tak mau di kalahkan.
***