“Kalian minum apa?” Pulung horor sendiri menatapi kedua anaknya. “Kok minum ini?! Siapa yang ajarin.”
“Papa.” Serentak di jawab. Dan tersangka utama dalam kasus sore ini muncul.
Wajahnya polos tanpa dosa membuat Pulung berang menatapnya.
“Apa?” Maha bertanya dan duduk di samping Baraja serta Naomi. “Mama baru pulang? Kok nggak ngabarin?”
“Papa yang ajarin mereka minum kopi?”
Salah tingkah Maha. Nyengir dan menggaruk tengkuknya. “Ini nggak banyak kok, ma. Ada krimnya jadi nggak kerasa kopinya.”
“Papa pikir sedikit itu nggak ada takarannya, ya? Pa… Kan sudah dibilang jangan samain minuman papa sama anak-anak. Kopi ada kafeinnya. Kalau mereka kecanduan—”
“Mama cerewet banget, ih,” seru Baraja. “Dedeknya nggak asik lah. Nggak like abang.”
Makin-makin menjadi pelototan di mata Pulung. Sejak kapan putranya bisa berkata demikian? Rasanya tidak pernah Pulung ajarkan untuk Baraja berlaku demikian.
“Abang nyebelin!” Entah pengaruh hormon kehamilan atau Pulung yang terlalu terbawa suasana. Moodnya sedang jelek dan mendengar perkataan Baraja sungguh menyentil ginjalnya. “Mas, anakmu tuh.”
Baraja dan Naom terkikik di sofanya. Fokus matanya ada di televisi namun rungunya mendengar drama mamanya yang kian hari semakin manja. Maha pun setuju dengan hal-hal baru yang ‘wah’ dan mengejutkan di kehamilan istrinya yang sekarang. Jika dulu, saat mengandung Baraja, Pulung benar-benar perempuan mandiri yang tak tersentuh. Meski ada Maha di sisinya, menolak bantuan masih sering terjadi. Lain dengan yang sekarang. Yang seakan-akan tahu bakal anak pertama bagi Maharaja Askara.
“Yang sekarang beda, ya, Yang. Nggak kayak waktu Baraja dulu. Ini dedeknya minta banget di kasih perhatian sepenuhnya lah.” Maha kejar Pulung yang memasuki kamarnya dan ikut duduk di pinggiran ranjang. “Mas senang kalau dia bisa dengar sekecil apa pun yang kita obrolkan. Lahir nanti, dia bakal jadi adek terbaik buat Bara sama Omi.”
“Mas nggak marah? Nggak cemburu?”
Terhenti usapan Maha di perut Pulung. Senyumnya merekah. Penuh ketidaksabaran menanti kelahiran di anak pertama.
“Kenapa?”
“Aku tanya mas! Suka banget ngebalik pertanyaan.”
Nah, kan. Sepertinya hal begini pun harus Maha kuat-kuatkan sampai menjelang lahiran nanti. Benar kata Bara, istrinya cerewet. Mungkin anaknya akan demikian ketika lahir nanti.
“Soal apa? Mas nggak ada perasaan apa-apa buat marah apalagi cemburu.”
“Bara sama Omi.”
“Mereka kenapa?” Maha sematkan kecupan kilat ke bibir merah istrinya. “Ada bikin salah sama kamu lagi, Yang?”
“Bukan anak-anak mas.”
Oh, itu. Maha terkekeh sebentar. Dan merengkuh Pulung untuk di tepuki punggungnya. Ini juga menjadi kesukaan Pulung. Pokoknya yang kali ini manjanya ampun-ampunan lah.
“Siapa yang bilang mereka bukan anak-anak mas? Mereka anak-anak mas, milik mas. Terlepas dari siapa yang memulai. Ardika—suka nggak suka—abang aku, kan, Yang?”
Tahu bahwa ini konten sensitif yang tidak harus diangkat ke permukaan, helaan napas Pulung lega maksimal. Artinya Maha tidak akan membuat perbedaan di antara ketiganya nantinya.
“Mereka bakal jadi anak-anak yang manis versi kita.” Pulung tertawa. Maha dengan segala isi pikirannya memang patut di katai gila. Dan Pulung lebih gila karena mencintai lelaki ini tanpa jeda atau pun niatan berhenti.
“Makasih buat cinta yang mas kasih selama ini. Aku mesti bersyukur banyak-banyak buat ini semua.”
“Cinta kamu banyak-banyak.”
“Sayang mama papa banyak-banyak.”
Tahu-tahu Baraja dan Naomi sudah ada di kamarnya. Ikut serta memeluk Pulung yang ada dalam rengkuhan Maha.
“Aigoo anak-anak mama paling tokcer (otak encer) perkara mincing mama buat kesal.”
“Bara mau orek telur mama sama sosis goreng.”
Perang time. Jadi karena itu sebab utamanya.
“Abang bisa minta langsung padahal.”
“Nggak seru. Bara suka mama marah-marah kayak tadi terus di rayu sama papa.”
“Durhaka adek!” Adalah Naomi yang masih menempelkan tubuhnya ke dalam pelukan Pulung. “Bocah tahu banget mesra-mesraan kayak gini masa.”
“Abang ih! Papa.”
“Yeuuu ngadu. Dasar!”
***
Tidak ada yang bisa Pulung lakukan selain mengucakan syukur sebanyak-banyaknya.
Tuhan sudah sangat adil dengan cara kerja lewat takdirnya yang tidak terduga-duga. Ada banyak kenangan buruk yang tergantikan dengan perjalanan baik. Rumah tangganya dengan Maharaja Askara di selingi tawa dan sesekali tangis. Dilalui dengan banyak rintangan dan saling menautkan tangan satu sama lain guna saling menguatkan.
Tidak ada yang bisa Pulung lakukan lebih dari ini karena Tuhan bukakan pintu kesempatan untuknya meraih bahagia. Tidak itu saja. Ada Maharaja yang selalu berseri-seri wajahnya kala menatapi kedua anaknya. Berdebat, saling adu argument dan berakhir dengan ungkapan kata sayang. Semuanya berjalan sesuai mestinya.
Sebelum pagi ini ada yang datang menyambangi rumahnya. Bersama wajah cerahnya dan genggaman tangan pada anak perempuan seumuran Baraja.
“Arma mau minum apa?” tanya Pulung gemas. Sudah sulit untuknya berjongkok mensejajarkan tinggi badannya dengan Armani. Maka hanya mengambil alih tautan jarinya yang semula ada pada Ardika. “Mas Maha ada di ruang makan. Abang di suruh ke sana langsung. Omi juga di sana.”
“s**u,” jawaban Armani setelah melihat interaksi papanya dengan tante yang menuntut jalannya.
“Oke. Ayo kita buat. Tante punya banyak s**u strawberry buat Arma.”
“Yeay. Strawberry.” Girang sekali sampai kedua tangannya merentang ke atas. Pulung tertawa.
Ini juga kejutan yang tak pernah terduga.
Usai insiden bersama Mija beberapa tahun lalu. Fakta-fakta baru terungkap. Ardika yang menerima kehadiran Maha dan begitu sebaliknya. Ardika yang mau mengakui Armani sebagai putrinya meski itu sulit pada awalnya. Dan Dante yang lebih legowo dengan pernikahannya yang hampir hancur. Hampir karena Lira—mama mertua Pulung—menjelaskan semengerikan apa kehidupan dalam perceraian dan sendiri adalah bukan sesuatu yang patut untuk di jalani.
Lalu tentang Baraja yang membuat Ardika menyesal berkepanjangan walau akhirnya bangkit. Memulai segalanya dari awal. Berdamai dengan apa yang telah Tuhan tegurkan lewat perpisahan. Ardika dan Maha lebih terbuka satu sama lain.
Siapa yang menyangka?
Tuhan memang paling tahu cara menyembuhkan luka-luka yang tertoreh dalam hati.
“Omi mau ini papa.” Naomi tidak lagi canggung dengan Ardika. Sudah Pulung beri penjelasan seperlahan mungkin. Dan kerasnya hati Naomi luntur. “Yang lama itu sudah habis.”
“Oke. Nanti papa kirim ke sini. Warna yang lainnya masih komplit atau mau sekalian papa tambah.”
Terlihat berpikir sebelum Omi putuskan untuk mengangguk.
“Bentar lagi liburan. Nanti Omi mau ke villa opa sama oma. Ngelukis di sana.”
“Bara ikut kak. Paaa, abang mau ikut kakak.”
“Kamu nakal.”
“Enggak. Bara baik tahu.”
“Prettt.”
Keduanya memang sangat tahu caranya masuk ke dalam obrolan orang dewasa. Perdebatan yang diangkat menularkan tawa untuk keluarga ini. Dengan harapan, untuk selalu seperti ini.
***