Maharaja Askara jadi punya hobi baru; nyanyi. Yang menurut Pulung, boleh juga. Suaranya berat dan serak-serak gimana gitu. Ketika di dengarkan—apa lagi ketika Pulung letakkan kepalanya di d**a Maha—uwah sensasinya nggak kaleng-kaleng.
Dugun-dugun di jantung Maha terdengar sangat jelas. Dan Pulung suka sekali mendengar detakannya. Iramanya selaras dengan nyanyian yang terlantun dari mulut Maha.
Malam ini, begitu Bara dan Naomi memasuki kamarnya masing-masing. Terlelap setelah berdebat mengenai tugas sekolah. Maha dan Pulung bergelung malas di depan ruang televisi. Ada kasur lipat yang biasa Maha gunakan untuk rebahan malas-malasan di sana. Pulung ikut saja. Dengan daster hamilnya, rambutnya yang tak berbentuk lagi dan manja-manja time bersama suami di mulai.
“Semua ini pasti akan musnah. Tetapi tidak cintaku padamu. Karena aku sang pangeran cinta.”
Lirik yang Maha senandungkan mengikuti penyanyi aslinya di televisi. Once Mekel masih saja tampan sejak Pulung duduk di bangku Sekolah Dasar hingga dirinya setua ini.
“Malam-malam diganti dengan pagi. Pagi pun jadi siang. Tahun-tahun pun berganti abad. Yang muda pun pasti menjadi tua. Musim-musim pun terus berganti. Hidup ini juga pasti mati. Tak akan ada yang abadi. Tak akan ada yang kekal.”
Merinding disko cui. Kata-katanya dalam banget sampai bawa-bawa mati segala. Padahal memang benar adanya. Tapi kok Pulung takut sendiri ya kalau itu bisa terjadi secepat meteor yang jatuh menghujani bumi. Pasti sedih dan tidak ikhlas menjadi yang paling awal dirinya rasai.
“Ganti lah. Lagunya nyeremin.” Protes Pulung. Tidak mau merasakan kehilangan yang sudah-sudah dan seperti yang dirinya rasakan dulu. Cukup di masa yang dulu saja. Saat ini dan sampai kapan pun jangan lagi.
“Cuma lagu, Yang. Ini enak lagi lagunya.”
Dengusan Pulung terdengar. Maha terkekeh kala Pulung menggigit dadanya dengan kuat.
“Kamu dendaman ih.”
“Bodo!”
“Aduh, anak papa tahu saja caranya bikin mamanya terpengaruh. Kan kalau kayak gini papa jadi lemah.”
“Lebay!” Hardik Pulung ketus.
“Kamu, Yang. Suami lagi ngeromantisin malah dikatai lebay.”
“Asli lebay kok. Lemah pula bahasanya.”
“Sakit lah hati aku, Yang.”
“Peduli amat!”
“Sayang mama banyak-banyak.”
Sulit pemirsa. Perkara cinta tidak semudah bayangannya. Maha pun jika boleh mengungkapkan punya rasa tersendiri dalam berjuang. Sudah dikata tidak mudah maka artinya ada banyak rintangan yang Maha lalui. Untuk sampai di titik ini. Untuk bisa menggapai apa yang menjadi keinginannya. Dan semua itu tidak serta merta tanpa dukungan.
“Beruntung punya kamu.” Maha peluk Pulung erat-erat.
Perempuan ini menjadi sangat berpengaruh untuk kehidupannya. Hari-harinya telah bergantung sepenuhnya terhadap Pulung Rinjani. Perempuan pertama yang menjungkir balikkan dunianya. Perempuan pertama yang mematahkan segala definisi cinta tanpa terkecuali.
Kalimat bahwa semakin dewasa seseorang, dalam memilih pasangan bukan hanya sebatas tentang rasa ingin atau harus sama seperti kriteria. Jauh lebih penting di atas itu semua, semakin ke sini, Maha semakin tahu, bahwa ternyata memilih pasangan itu tentang bagaimana kita benar-benar berhasil menemukan satu orang yang tepat, yang sanggup memberi rasa tenang, yang sanggup memberi definisi terbaik tentang kata cukup.
Dan ketika sudah menemukan—terkhusus Maha yang menemukan semua itu dalam diri Pulung—manusia tempatnya tidak pernah cukup akan satu satu. Ada lebih dan lebih lainnya yang terus beriringan. Tapi itu semua kembali pada diri kita yang memang mau menyadari arti sebuah memiliki.
Tapi, jika benar sudah jatuh hati, jika sudah benar-benar di jatuhkan oleh cinta, semua itu terlihat tak sekadar dari mata saja. Sekarang, Maha sudah bisa mengerti arti penantian panjangnya selama ini. Yang bisa Maha lakukan hanyalah berusaha semaksimal mungkin dalam menjaganya. Kecuali jika maut yang memisahkan, itu kehendak Tuhan yang tak bisa Maha cegah. Tak bisa Maha marahkan pada takdir Tuhan untuk satu itu.
“Aku juga sayang kamu banyak-banyak. Bersyukur punya kamu.”
***
Ardika nikmati banyak waktu pasca segala masalah yang menimpa. Keluarganya, kehidupannya dan bahkan masa depannya telah Ardika rancang ulang secara perlahan. Tidak mudah karena semuanya memiliki proses yang tidak sebentar. Tidak bisa sehari semalam langsung membaik. Tidak juga seminggu dua minggu dan semuanya stabil seperti semula.
Sama halnya dengan gelas kaca yang telah retak, di perbaiki dan di rekatkan kembali jelas akan mengurangi keasliannya. Ardika sadar itu. Paham dan mengerti segala aturan mainnya.
“Abang nggak bobok?” tanya Dante pelan.
“Kamu sudah selesai?”
Senyum Dante terbit. Tangannya bergerak lincah membereskan segala kerusuhan yang di perbuat Armani.
“Tinggal ini doang. Abang mau kopi?”
“Besok ke kantor enggak?”
Sudah menjadi kebiasaan. Ardika takkan menjawab tanya yang Dante ajukan.
“Kenapa?”
Sebaliknya pun begitu. Pasangan Ardika-Dante memang unik.
“Kamu abang tanya bukannya di jawab.”
“Aku nanya kea bang juga enggak di jawab.”
“Dendam gitu maksudnya?”
“Kesal, kan.”
Dante terkekeh. Lekas duduk di samping sang suami dan bergelayut manja di lengannya. Kepalanya Dante sandarkan di bahu Ardika.
“Abang nggak pernah berubah. Ngomong saja susah.”
“Nggak bisa bobok entar kalau minum kopi lagi.”
“Biasanya juga aku bobok’in.”
“Ini kode ngajak ibadah ya?”
“Armani sudah enam jalan tujuh, by the way.”
“Asik. Jadi mau nambah?”
“Semangat banget, sih, bang?”
“Sama istri sendiri kan nggak haram, Yang.”
“Satu saja tapi ya?”
“Kalau nambah kenapa memang?”
“Abang saja lah yang hamil.”
Sudah tidak ada pembahasan mengenai siapa Armani. Ardika sepenuhnya legowo menerima kehidupannya yang sekarang. Menyesal juga tidak ada gunanya. Daripada itu, lebih baik memulai semuanya dari nol. Dante bukan perempuan murahan seperti yang terlihat. Ada alasan kenapa harus berbuat demikian.
Ini rumit dan berkelit. Harus Ardika akui bahwa keluarga Pulung dan Dante tak bisa dianggap baik-baik saja. Mereka punya cerita kelam sehingga mengharuskan mencoret nama masing-masing keluarga untuk tidak melanjutkan keburukannya.
“Piknik yuk, Yang.”
“Tumben.”
Jawaban Dante bersamaan dengan baju tidurnya yang tersingkap ke atas. Tangan Ardika bergerak lincah tanpa mau memberi jeda untuk Dante menghela napas.
“Kayaknya sudah lama nggak pergi bareng-bareng. Double date boleh lah, Yang.”
“Sama teteh juga?” Pulung maksud Dante. “Tadi bukannya sudah ketemu juga?”
“Anak-anak sudah liburan loh. Jadi ketimbang bengong doang mending liburan.”
“Oke.”
Bagi Dante, meraih semua mimpinya untuk bisa terwujud, bukan perkara yang mudah. Rintangan yang harus dirinya lalui juga tidak sedangkal air di sungai. Penuh lika-liku kesakitan untuk berada di puncak ini.
Mungkin Dante sudah berubah. Dalam artian tertentu dan maksud yang tersembunyi. Layaknya perempuan di luaran sana. Rasa takut untuk kehilangan jelas selalu menaungi. Padahal kunci utama dalam menjalin sebuah hubungan, saling percaya dan yakin adakah kuncinya. Tapi Dante belum begitu.
***