Kehamilan anak Maharaja yang pertama ini memanglah luar biasa. Mulai dari sikap manja Pulung yang tiada duanya (menggemaskan bagi Maha) namun terlihat menyebalkan bagi orang sekitar. Sampai hal-hal aneh yang tak terduga.
Pagi ini misalnya.
Tumben-tumbenan Pulung mager (malas gerak). Dan hanya gegulingan di atas kasur. Biasanya, usai salah subuh dan mengaji, aktivitas Pulung langsung yoga karena memang itu olahraga teraman rekomendasi dari dokter. Di samping memudahkan untuk kelahiran nanti, yoga mengurangi stres.
Pulung tidak ke dapur. Memasak seperti biasanya. Tidak Maha hiraukan. Mencoba paham dengan kondisi sang istri yang di yakini bawaan anaknya.
“Nggak mau mandi?” Maha elusi rambut Pulung. Tidur menyamping dan memegang ponsel dengan asik. Entah video apa yang di tonton hingga asik tanpa merasa terganggu sedikit pun. “Mau mas masakin sesuatu nggak?”
Sejak Pulung hamil, Maha tidak bisa semena-mena. Urusan makan tak seleluasa request seperti saat awal-awal menikah. Meski dengan mudah akan di kabulkan oleh Pulung, Maha tahu bahwa kesehatan istri dan anaknya yang paling penting.
“Mas sana deh. Bau!”
Padahal Maha sudah mandi dan wangi. Parfumnya pun pilihan Pulung. Tidak ada yang Maha ganti meski wanginya tidak seperti biasanya. Kuarannya bukannya maskulin justru feminim. Sering kali Naomi mengejeknya dan Baraja memberi dukungan untuk kakaknya mencibir. Pun tetap Maha patuhi. Sebudak cinta itu memang Maha terhadap Pulung.
“Tapi mas sudah mandi loh, Yang.”
“Bau!”
OW-OWKEY! Maha diam dan tetap elusi kepala Pulung dengan sayang.
Hari masih pagi. Pukul setengah tujuh walau matahari sudah meninggi. Rasa panas yang menyengat melalui celah-celah gorden tidak membuat Pulung hendak beranjak.
“Sayang nggak mau mandi?”
Heran. Bahkan Baraja dan Naomi yang mendapati meja makan kosong—tidak dalam artian sepenuhnya—hanya ada roti bakar dengan selai. Tidak biasa juga bagi Baraja dan Naomi menyantap makanan selain masakan Pulung.
“Kakak sama abang nggak makan?”
“Mama mana?”
“Di kamar.” Maja giring kedua anaknya untuk duduk dan mulai menyantap yang ada di atas meja. “Mama nggak enak badan jadi nggak bisa masak buat kita. Kalian mau makan apa buat siang nanti.”
Bukan hal buruk juga bagi Baraja dan Naomi. Cara mama dan papanya mendidik selalu berbeda. Dalam segi apa pun bahkan makanan sekali pun terlalu banyak perbedaan yang menonjol. Jadi sesekali bukanlah hal yang buruk.
“King Burger pa.” Bara paling semangat.
“Mc. Donalas.” Naomi tak mau kalah.
“Oke. Nanti pulang langsung ke kantor papa. Biar di jemput sama mang Ipin.”
Sorakan keduanya sungguh sesuatu yang membahagiakan bagi Maha. Memang benar. Ada satu waktu di mana harus Maha temui kesedihan di hidupnya. Dan satu waktu lainnya menemukan kebahagiaan membuatnya tersenyum tanpa sebab. Karena berhasil berdamai dengan apa pun yang pernah melukai hatinya.
Semuanya menjadi indah di mana penantian Maha terbayar lunas.
***
Orang memang suka semena-mena.
Terlalu cepat dalam menyimpulkan sebuah masalah tanpa mau berpikir panjang. Mereka hanya berpikir bahwa apa yang sudah mereka lakukan adalah kebenaran dan patut di lanjutkan tanpa menengok sisi lain yang tersakiti.
Beberapa orang suka seenaknya dalam melakukan aksinya. Termasuk dalam hal mencintai dan memaafkan. Hanya karena di cintai, perilakunya jadi sesuka hati. Hanya karena mudah mendapatkan maaf, mengulang kesalahan yang sama adalah sebuah kebiasaan.
Padahal tidak seperti itu konsepnya. Tidak semua hal yang terlihat mudah di dapatkan, akan dengan mudah menggenggam dan menjaga. Karena terkadang, mendapatkan jauh lebih mudah ketimbang menjaganya.
Mija belum kapok. Wanita paruh baya itu masih terus menggunakan kekuasaannya. Meski namanya tak lagi terdengar, akar-akar atas nama dirinya masih ada. Dan kembali menciptakan lingkaran setan seperti hobinya.
“Kamu nggak capek?”
Ini pertanyaan seorang pria yang umurnya di atas Mija. Yang jika mau Mija salami ada pancaran cinta di manik si pria. Sayang, sudah terlalu keras maka sulit untuk di lunakkan.
“Kamu pernah pisah?” Mija ajukan tanya yang cukup membuat Laya mengerutkan keningnya. Jelas-jelas Mija tahu apa yang membuat dirinya duduk sembari menyesap kopinya di sini. Kenapa masih bertanya?
“Perpisahan paling menyakitkan seringkali justru tanpa kata ‘pamit’. Aku dapat kata-kata itu dari twitter. Hanya pergi menghilang tanpa kata dan meninggalkan beribu tanya.”
“Kamu mau lakuin apa lagi?”
Memang hanya Laya yang paling mengenal Mija luar dan dalam. Bahkan sebelum Mija ucapkan apa niatannya, Laya—Himalaya—sudah menebak dengan tepat sasaran.
“Aku di bikin kehilangan apa yang aku punya. Jadi wajib aku balas semuanya biar setimpal.”
“Dan nggak ada yang menang atau kalah?”
“Aku yang menang.”
Laya sesap kembali kopinya. Pahit dan manisnya gula rendah kalori bercampur jadi satu. Dan aroma khas kopi yang menguar juga merebakkan sensasi menenangkan.
“Aku suka kalau kita ngobrol kayak gini. Jadi ingat masa-masa kuliah dulu. Kamu nggak pernah berubah bahkan sampai hari ini; ambisi.”
Tawa Mija terdengar. “Dan caramu ngelihatin aku nggak pernah ada bedanya, dulu atau pun sekarang. Sebenarnya, kamu ngasih aku dukungan nggak, sih?”
“Tepatnya aku jatuh cinta samamu. Itu pasti dan murni tidak pernah bohong. Selalu kayak gitu.”
“Jangan gombal.”
“Aku serius.”
“Kita sama-sama sudah selesai.”
“Sejak kapan? Nggak pernah ada kata pisah atau aku yang lupa? Mija… Kamu harusnya berhenti sejak Aksara bareng sama wanita pilihannya. Kamu bertahan juga buat apa? Kamu nyia-nyiain diri sendiri kalau kayak gini caranya.”
‘Sekuat-kuatnya manusia, tidak ada yang tidak ingin pulang.’
Kata-kata itu sangat Mija mengerti maknanya.
‘Tapi, kan, tidak semua orang punya tujuan untuk pulang.’
Dan untuk ini pun Mija ketahui artinya.
Benar. Himalaya selalu menang. Tinggi wibawanya selalu menyampaikan kebenaran yang sejak dulu tak pernah meleset dari sumpahnya. Sejak dulu, Himalaya selalu bersumpah untuk semua hal yang akan Mija lakukan. Dan semuanya berakhir tak pernah baik-baik saja.
Pada akhirnya kepulangan yang sia-sia ini membawa maksud lain dari kabur dan sembunyi. Mija menjadi sangat pengecut dengan perilakunya.
“Kalau kamu masih mikir cara teraman dari kehidupan ini adalah soal hilang dan pergi tanpa pamit, kamu salah. Jangan jadi menyebalkan hanya untuk menutupi diri sendiri. Kamu sudah tua dan perlu mengambil waktu untuk menikmati. Kita punya sesuatu yang harus di urus. Kamu … jangan lupa soal Mandala. Dia butuh mamanya.”
Ini yang Mija takutkan. Kembali pulang pada Himalaya bukan solusi yang tepat. Tapi tidak mungkin dirinya habiskan waktunya di jeruji besi sedang dendamnya sangat menggunung. Dan bertemu putra tercintnya, Mija tidak pernah siap apa pun alasannya.
Mandala harus mendapatkan ibu yang lebih baik dari dirinya. Bukan malah mengharapkan kehadirannya yang sudah tidak berarti apa-apa ini.
“Kamu selalu menjadi idolanya. Dia sudah dewasa dan berpikiran matang. Dia sudah sangat cerdas sesuai kriteria yang kamu harapkan. Dia tidak akan mengecewakan mamanya. Perusahaan yang di embannya masuk daftar terhebat di setiap majalah bisnis. Jadi, lupakan yang lainnya dan kita mulai semuanya dari awal. Kita perlu memulai untuk mengawali kehidupan yang baru ini. Kita butuh Mandala untuk bersatu dan menyatukan. Dan Mandala butuh kamu untuk bimbingan yang mendalam.”
Kehilangan memang semenakutkan itu. Trauma menjadi problem yang tidak ada obatnya jika bukan datang ke psikiater. Hidup … apakah harus selalu rumit?
***