'Aku sudah melewati banyak waktu untuk sembuh. Banyak hari untuk pulih. Banyak memori yang terkikis. Aku sudah jauh berjalan dalam gelap. Menyingsing lengan dan menggulung panjangnya hampara. Dari tajam menyayat yang kurasakan sepanjang jalan. Namun aku bertahan hingga akhirnya sakit itu tumbuh sendiri. Tatapan kelam. Kernyitan dahi karena silaunya putih di depan. Haruskah tertawa? Atau menangis? Sudah tak tampak lagi bagian belakang. Aku lupa bagaimana rasanya tertusuk duri.’
Jadi begini para pemirsa dan saudara setanah air setumpah darah, ehm.
Ada cerita tersembunyi kenapa Maharaja Askara harus berpuisi di tengah semua orang yang berkumpul. Di ruang keluarganya di mana mestinya terjadi acara liburan karena ini weekend. Juga sebagai libur pertama kedua anak-anaknya; Baraja dan Naomi.
Tapi seolah nasib sial—boleh tidak mengatakan demikian?
Takutnya ada setan lewat terus mampir. Tercatat sudah itu omongan untuk di jadikan karma kemudian hari. Kan berabe, Hyung!
“Lagi, Sayang.”
Ini sumbernya. Asal-muasal masalah ini timbul ya ini. Perempuan kesayangan Maha yang super duper mengesalkan tapi tetap dicintai sepenuh hati, di rawat segenap jiwa. Kalau mau di sanggah pun ada jawaban lebih dahsyat nan syahdu. Yakni: ini juga ulah kamu.
Pasal pertama: Wanita selalu benar.
Pasal kedua: Jika wanita salah, kembali ke pasal satu.
Ketiga: Mengikuti sebagaimana bunyinya pasal kedua untuk bisa melihat pasal pertama.
Paham ya Bu-Ibu. Oke, sip!
“Mandi dong, Yang.”
Pulung menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Masih dengan daster hamilnya yang super unyu—barbie wahai para penghuni surge dan neraka. Maha sampai syok di buatnya.
“Aku mandi setelah satu puisi di bacakan.”
Dari tadi pun begitu. Satu puisi lagi. Maha turuti. Satu puisi lagi. Dan Maha terus menuruti sampai entah ke berapa puisi yang di bacakan pun istrinya masih asik bergelung dengan guling serta selimutnya.
‘Senandung rasa rinduku untukmu. Walau tak terdengar oleh telinga namun tersampaikan oleh angina. Tak nampak oleh mata namun tergambar oleh doa. Ada rasa saat terselip asa. Ada makna saat terkenang duka. Jauh itu kamu. Di sini aku dan rindu. Senyum, tawa, semua jadi satu.’
Ada respon yang Pulung berikan. Tapi horor. Karena lirikannya sungguh mematikan dan Maha tegang di tempatnya. Semua kumpulan puisi yang Maha bacakan pure dari sahabatnya. Dan itu memang suasana yang sedang tergambar. Maha pun tidak tahu pasti bagaimana maknanya. Nmaun ibu hamil dan segala hormonnya punya cara tersendiri untuk berpikiran negatif.
“Masih rindu sama mantan?”
Ya Allah. Untuk membayangkan saja Maha tidak terpikirakan. Apa lagi sampai merindukan. Maka hanya gelengan yang Maha berikan.
“Terus kenapa baca puisi kayak gitu?”
“Ini dari teman mas, Sayang. Lihat deh.”
Percuma. Sudah Maha lungsurkan ponselnya beserta isi pesan yang tertuang. Pulung tetap merajuk. Perempuan itu turun cepat-cepat dan bergegas masuk ke kamar mandi. Tidak ada suara apa pun selain air kran yang di putar.
Pikir Maha, ayukurlah. Terhitung sejak tiga hari yang lalu Pulung enggan mandi. Hanya menggosok gigi, mencuci muka dan mengganti bajunya saja. Itu pun tidak mau keramas. Kebiasaan ini sangat bertolak belakang dengan tabiat aslinya.
Tak lama berselang, Maha mendengar suara pintu terbuka dan tertutup. Yang pertama Maha lihat justru cengiran Pulung seakan tidak terjadi apa-apa. Maha mengerjapkan matanya. Berjalan menyusul sang istri ke ruang ganti dan melihatnya memilih pakaian.
“Mas pilihin, ya.” Pulung angguki. Dan fokus mengeringkan rambutnya dengan handuk. “Di bawah sudah pada nunggu kamu loh, Yang. Pakai ini gimana? Lucu kayaknya. Dedeknya bakal kelihatan gitu.”
Tidak ada protesan. Lekas Maha berikan pada Pulung untuk segera di kenakan. Dan kegiatan Maha berganti dengan menyisir rambut Pulung.
Oh satu lagi. Pulung merombak rambut panjangnya serta memberinya wakna silver yang kelam. Jadi perpaduan hitam legamnya tampak eksentrik dengan silvernya. Maha suka jujur saja. Ini perubahan pertama yang Pulung bawa setelah saling mengenal bertahun-tahun.
‘Cinta yang di tanam pada kewajiban luhur akan tumbuh meskipun kejelitaan berubah jadi uban dan keperkasaan berubah jadi renta.’
Sembari Maha rapikan rambut Pulung, entah sejak kapan ponselnya berpindah tangan ke Pulung.
“Teman mas pintar banget bikin puisinya.”
“Dia paling jado, Yang. Semasa sekolah dulu tiap ikut lomba pasti menang terus.”
“Aku lapar. Pengen di masakin indomie sama mas.”
“Nggak mau turun ke bawah?”
Lutut Maha berada di lantai dengan wajah yang sudah menghadap di perut besar Pulung. Maha kecupi dengan sayang. Dress floral yang Maha pilihkan memang paling cocok dengan keinginannya untuk melihat seberapa menonjolnya sang buah hati.
“Pakai telur nggak?” Turuti saja ketimbang istrinya ngamuk.
“Pakai tapi matang ya.”
“Nggak setengah matang?” Pulung menggeleng.
“Ayo turun. Aku kangen Bara sama Omi.”
Tidak ada sesal yang akan Pulung suarakan menikah dan di miliki oleh seorang Maharaja Askara. Lelaki ini sangat tepat untuknya dan paling tahu bagaimana kemauannya. Pulung bukan ingin bertindak egois dengan sikapnya yang terlalu manja selama kehamilan ini. Kondisi itu benar adanya.
Ada masa di mana jabang bayinya sangat sensitif berdekatan dengan Maha bahkan sekadar mencium bau keringatnya saja, Pulung bisa mual. Tapi ada saat-saat di mana kehadiran Maha sangat dirinya butuhkan.
Dan Maha tak pernah mengeluh untuk semua. Lelaki itu dengan telaten merawatnya dan mengurus seluruh keperluan Baraja serta Naomi.
“Aku ngerasa jahat banget sama mas,” kata Pulung kala menuruni tangga. Maha berjalan di sisinya dengan menuntun pelan tangan sang istri. “Aku semena-mena ke mas mentang-mentang lagi hamil.” Pulung edarkan kelereng maniknya. Nampak dari sini seluruh keluarganya berkumpul. Ada Ayana, Ardika dan Dante. Ini kondisi teraneh tapi senyum Pulung terbit.
“Nggak ada yang punya pikiran kayak gitu. Mas paham dan senang karena kamu mau ngeluh ke mas. Cukup dengan sendiri dan terlalu mandiri. Kalau ada mas dan kamu masih memikulnya sendiri, itu paling memukul sisi ego mas.”
“Jangan lelah ya, mas. Aku paling takut dengan titik lelah kamu buat cinta sama aku, ngurus aku, ngurus Bara dan Omi kemudian kamu memutuskan pergi.” Genggaman tangan Pulung di lengan Maha mengerat. Dan di balas sama eratnya oleh Maha. “Aku pernah lama nahan kamu buat pergi tapi kamu tetap bertahan. Dan nggak tahu kenapa aku takut kalau suatu saat nanti kamu pergi tapi aku nggak punya kesempatan untuk memulai. Jadi, bantu aku buat jaga ini semua.”
“Aku nggak mau itu terjadi.” Balas Maha. “Aku pernah di banggakan oleh seseorang tapi di tinggalkan. Jadi aku tahu rasanya di buang kayak apa. Sekarang, ketika aku sudah dapatin kamu, dan aku tinggalkan kamu cuma masalah sesepele ini, aku pasti lelaki terbodoh yang pernah di lahirin sama mama.”
“Makasih. Cinta kamu banyak-banyak.”
“Me too. Cinta kamu banyak-banyak-banyak dan banyak.”
***