"Gitu ya sementang punya rumah sendiri.”
“Nggak tahu saja yang nunggu sampai keroncongan.”
“Ini sejak kapan tamu malah pesan delivery?”
“Heran Gusti heran!”
Sindiran demi sindiran yang tersentil ke rungu Maha maupun Pulung tak menjadi halangan bagi pasangan yang sedang menanti kelahiran sang buah hati terusik.
“Pasangan b***k cinta mah gitu.”
“Gaes … Sudah punya masing-masing jangan ngeledek.”
“Iri bilang bos!”
Kan maen! Jawaban Maha lebih estetik dari mulut tetangga yang di sumpal lombok setan sepuluh kilo.
“Ibu hamil apa kabar nih? Makin adem ayem saja kayaknya.” Adalah Ayana yang pertama kali menyapa.
Perempuan itu pun sedang hamil muda. Dan menurut cerita Maha, Rambe di buat kelimpungan habis-habisan. Mulai dari terpangkasnya jatah waktu untuk berduaan sampai harus rela memomong putra pertamanya. Salut dengan Rambe yang berbesar hati.
“Ih teteh mah jorok pisan. Masa tiga hari nggak mandi?” Dante ikut serta nimbrung. “Asli aku mau semaput di certain itu.”
Pada akhirnya hubungan mereka berakhir tragis dan penuh keanehan. Para mantan istri Ardika Aksara justru saling berkaitan dan akrab satu sama lain. Menutup luka lama serta kenangan yang pernah terukir. Layaknya tak terjadi apa-apa, para suami pun memberi dukungan untuk berdamai. Memulai kisah dari awal dengan lembaran baru. Lewat putihnya kertas yang telah di sediakan dan coretan tinta hitam yang menuliskan alurnya.
“Kamu bikin apa?” Pulung tidak mau menjawabnya karena hidungnya mencium aroma s**u hamil rasa vanilla kesukaannya. Dan itu amat menggiurkan di ujung lidahnya. “Buat teteh saja lah sini.” Padahal niatnya itu untuk Ayana.
“Oke.” Sodornya untuk Pulung yang langsung di tenggak habis. Ayana terbahak-bahak. “Aku buatin lagi buat kamu, Ay.”
“Biar papinya saja.”
Secepat kilat itu Rambe bergegas ke dapur bahkan sebelum Ayana berteriak. Makin endes saja ini jempol mengacungi hubungan Ayana-Rambe yang yahud.
Patut jika bab kali ini berjudul kaum b***k cinta karena semua personilnya ada di sini.
“Ini tuh murni keinginan si adek, Nte. Ke kamar mandi cuma buat pipis sisanya aku rebahan doang.” Pulung jelaskan dengan tangan mencomot bakwan sayur.
“Ini indomienya.” Maha datang bubar sudah pasukan Ayana-Dante yang hendak ngerumpi.
Kedua wanita itu pun tidak sadar jika suami-suaminya sangatlah bucin alias b***k cinta.
“Kok matang, sih? Kan aku minta setengah matang. Nggak mau lah.”
Ow salah. Padahal tadi Maha dengar matang bukan setengah matang.
“Mas ganti, ya.”
“Nggak usah. Sudah kenyang. Mau bobok aku.”
Hengkang dari sana. Maha susul dan mendapat siulan penuh ejekan.
Abaikan saja abaikan.
***
Dua puluh menit berlalu. Yang Maha lakukan hanyalah mengusapi perut Pulung sembari memeluknya dari belakang. Si empu? Bocan alias bobok cantik dengan watados (wajah tanpa dosa).
“Kepala aku pusing. Perutnya mual. Habis mandi kok malah kayak gini?” Keluh Pulung dengan mata terpejam.
“Mau mas pijit?” Hanya mengangguk.
Segera Maha beranjak bangun dan mencari minyak urut untuk membalurkan di punggung Pulung. GPU yahud gaess! Sekelas Maharaja GPU selalu jadi andalan buat kerokan dan gosok serta mengurut.
“Rambut mas. Taruh di kepala.”
“Serius?” Maha nggak bisa bayangin rasanya gimana. Ini loh Pulung yang selalu menjaga kebersihan. Sedang minyak urut walaupun baunya tidak menyengat tetap saja akan meninggalkan kesan jijik.
“Pusing.”
“Oke.” Maha kabulkan.
Di tuang sedikit minyak urut lekas kemudian Maha usapkan ke rambut dan kepala Pulung perlahan. Jari-jari Maha memijat kepala Pulung perlahan. Takut menyakiti sang istri.
“Abang tadi ngomong…” Ardika yang di maksud. Maha mulai membiasakan diri dengan panggilan tersebut. Agar Baraja dan Naomi tahu silsilahnya dan tidak terjadi kesalahpahaman di kemudian hari. “Mau ngajak Bara, Omi, sama Armi ke gunung.”
“Ke mana?”
Kaget sumpah! Pulung langsung bangun dan menyingkirkan tangan Maha yang sedang memijat kepalanya. Tatapan matanya masih sayu-sayu mengantuk. Maha meringis. Kasihan dengan kehamilan Pulung yang sekarang. Anaknya sungguh sangat-sangat-sangat ingin mendapatkan perhatian sepenuhnya dari tiap orang di rumah ini.
“Gunung Putri Garut katanya.”
Pikir Ardika simpel. Jika tidak bisa double date baiknya mengajak putra-putrinya hiking saja. Sudah Ardika kumpulkan informasi untuk bisa ke sana dan track paling aman untuk pemula atau sekadar piknik memang di Garut. Di samping itu, Ardika ingin naik paralayang. Itu kesukaannya sejak zaman kuliah dulu.
Tidak ada tanggapan apa pun dari mulut Pulung. Yang selanjutnya terjadi adalah beranjak dari tempatnya meninggalkan Maha dengan sejuta kerjapan mata bingung. Lah? Kok? Gitu doang yang Maha dengungkan dalam kepalanya.
“Kenapa ke Garut?”
Kegiatan Ardika yang sedang menyuap mie goreng buatan Dante terpaksa terhenti. Ada Pulung berdiri di hadapannya dengan ekspresi muka garang. Sehingga bulat-bulat Ardika telan saja mienya.
“Kenapa?”
“Jawab saja lah. Jangan tanya di balik tanya lagi. Kesal deh!”
Ibu hamil misuh-misuh memang tidak asik. Salah Ardika dulu tidak memperhatikan sewaktu kehamilan Dante. Jadi tidak tahu menahu apa yang sedang melanda Pulung.
“Sayang … tenang dulu dong.” Bujuk Maha yang sudah berdiri di samping Pulung.
“Diam! Jangan ikut-ikutan.”
Dan kiceup gengs! Maha pun terlalu sendiko dawuh dengan istrinya. Memang ya, kadar kebucinan seseorang nggak pernah tanggung-tanggung.
“Abang harusnya konfirmasinya ke aku kalau mau bawa anak-anak. Jangan ke papanya. Dia mah oke-oke saja. Aku mau ikut.”
Gusti, cobaan apalagi ini?
Otak istrinya sedag keblinger (keliru). Emot nangis mana? Masa orang hamil mau ikutan hiking.
“Jangan ngadi-ngadi lah, Yang.”
“Serius aku.”
Terjadi perdebatan jangka pendek dengan Pulung yang menghujam kejam ke manik Maha.
“Bentar, kenapa Garut, sih? Bogor kan ada.”
“Track paling aman dulu.” Jelas Ardika. “Kamu mending di rumah saja sama Maha. Ini kita nggak lama. Jumat sore berangkat, minggu sudah pulang.”
“Itu lama namanya. Aku tetap mau ikut.”
“Istri kamu ini …” Ardika menyerah dan beranjak dari sana.
Pasang mata yang menyaksikan juga keheranan. Tumben sekali Pulung berperilaku aneh.
“Pokoknya nggak aku izinin ya, Yang.”
“Aku tetap berangkat.”
“Kamu mau anak kita kenapa-napa. Yang … janganlah.”
Rambe geli sendiri melihatnya. Seorang Maharaja yang sangat di agungkan bisa-bisanya merayu istrinya sedemikian gigihnya. Mau ketawa takut kena karma tapi kok lucu maksimal. Mulai receh hidupnya lantaran di kelilingi orang-orang unik nan menarik.
“Pakai syarat?”
“Apa? Iya aku kabulin.”
Tangan Pulung mengelus dagunya. Kelereng hitamnya mulai menelisik satu per satu sudut ruangan dan berakhir dengan embusan napas pelan. Lebih kepada pasrah dan menyerah.
“Aku nggak mau mandi sama keramas lagi.” Hampir-hampir rahang Maha ingin terjatuh. Yang lainnya mendengar itu ingin mengiris telinganya. Ardika bahkan sudah menyemburkan kopi pahitnya. “Bikin kepala aku pusing. Badan aku lemas. Tulang aku pada rontok buat jalan dari kasur ke kamar mandi.”
Gewlaa pemirsa. Permintaan istrinya tidak ada yang lebih menarik dari ini?
***