Sudah matang semua persiapan yang Ardika kumpulkan. Jadi satu di atas meja ruang tengah milik Maha. Ketiga anaknya sedang asik bercengkerama—lebih merecoki Naomi yang hendak membawa peralatan melukisnya. Ardika setujui. Memberi dukungan untuk putri sulungnya serta merta mengembangkan bakat di gunung.
“Tapi pemandangan gunung lebih cocok dengan ini teteh.” Suara Armani tak mau kalah dengan Baraja yang terus melengkingkan ketinggiannya. Kepala Ardika menggeleng dengan senyum yang tak pudar sedikit pun.
“Kan pepohonan hijau adek.” Naomi tetap kekeuh pada pendiriannya karena—yeah—menurutnya dia lah sang pelukis sejati. Aduh memang ya.
“Sentuhan cokelat juga bagus kakak. Kaka kapa nggak tahu? Nih abang kasih lihat ya.” Tablet Baraja sudah memutar sebuah video dengan pemandangan pegunungan-pegunungan berbagai pilihan. “Dari jauh iya biru. Pas dekat itu malah cokelat kayak gini tahu. Jadi kak, warna cokelat pun berguna untuk kakak bawa.”
Mulai dari sini terlihat wajah bimbang Naomi. Semula yang segala kebutuhan melukisnya telah siap hendak di bongkar lagi sebelum Dante datang dan mencegahnya.
“Di bawa nggak apa-apa kak. Semua warna ini nanti bisa kakak padu padankan. Mau cokelat atau hijau bahkan biru sekali pun bisa kakak pakai. Awan nanti bisa kakak lukiskan dengan aplikasi warna lainnya. Jadi ini penting.” Dante rapikan ke dalam kantongnya lagi. Dan helaan napasnya serta kedua tangan yang bersidekap d**a membuat Bara dan Arma menunduk dengan cengiran tanpa dosa.
“Abang sama adek jangan gitu dong sama kakak. Masa kakak mau lebih berkembang kalian rungsingkan?” Kepala beda jenis kelamin itu menggeleng bersamaan. “Uang jajannya di potong ya, pa.”
Oh, tidak bisa.
Tegak seketika baik milik Baraja atau pun milik Armani. Melirik ke arah papanya yang sedang fokus men-check list barang bawaan dengan jempol teracung setuju. Tidak boleh di biarkan atau Baraja akan kehilangan kesempatan membeli mainan barunya di akhir bulan ini. Dan Armani yang gagal membeli boneka Frozen.
Gawat.
Genting.
Meresahkan.
“Fine!”
“Oke!”
Tampaknya benar seratus persen kalau anak pertama selalu menduduki posisi paling benar. Tapi tidak ada kemarahan yang terpancar di mata Baraja maupun Armani. Kedua bocah itu dengan sayang memeluk Naomi dan di balas sama hangatnya oleh si kakak.
“Arma mau di lukis teteh.”
“Abang juga.”
“Ada paymentnya.”
“Siap bos.”
“Oke teteh.”
Ada yang lebih dari bahagia melihat semua interaksi ini. Yang diam-diam Pulung perhatikan lewat kelereng matanya yang mengembun. Rambutnya berantakan dan bajunya tercium aroma sedap bekas minyak GPU. Tapi jiwa malas ibu hamil itu memanglah sangat unggul memengaruhi.
Sehingga jadilah tubuhnya yang berdiri di ujung tangga rumahnya. Pasangan Ardika-Dante menginap setelah kemarin ada obrolan untuk pergi hiking ke Garut. Dan kejamnya Ardika adalah hanya membawa anak-anak saja tanpa ada orangtua lainnya. Dante bahkan akan menginap di rumahnya sampai suami dan putrinya kembali. Hitung-hitung menemani Pulung yang sedang males pol-polan.
“Sepatu hiking, oke. Gaiter, sudah. Tas gunung, siap. Sleeping bag, jaket gunung, jas hujan, tenda, peralatan masak, dan kotak obat. Semuanya beres.” Ardika tutup kertas notenya. Ia selipkan di antara bibirnya dan tangannya bergerak memasukkan semua barang bawaan ke dalam tas masing-masing yang sudah ada namanya.
Milik Naomi, Baraja dan Armani.
“Kenapa harus pakai sepatu ini pa?” Pertanyaan Baraja selalu lebih antusias di banding Armani. Tingkat keingintahuan Baraja sudah menyentil otak Ardika untuk di asah sejak dini. “Kaki abang bakal sakit ndak kalau pakai ini nanti?”
“Enggak dong. Abang wajib pakai sepatu hiking saat mau mendaki. Tahu nggak fungsinya apa?” Baraja menggeleng. Ardika tersenyum dan duduk menghadap putranya yang menatapnya polos. “Sepatu ini meminimalisir terjadinya risiko cedera pergelangann kaki saat tergelincir di medan berat. Seumpama nantinya abang mau jadi peserta Mapala (Mahasiswa pecinta alam).
“Bahannya juga aman karena punya alas empuk, waterproof dan grip tebal. Jadi di jamin kaki abang pun aman.”
Baraja mengangguk seakan sudah memahami betul apa yang Ardika sampaikan.
“Kalau ini pa?” Belum ada lima menit terdiam, sudah ada tanya yang diajukan lagi. Ardika sabar dan senang ketika Baraja mau lebih dekat da menanyakan segala sesuatunya kepada dirinya.
Tahukah kalian seberapa menggunungnya sesal Ardika Aksara?
“Gaiter namanya. Untuk melindungi kaki dari kotoran seperti lumpur, tanah, dan air saat mendaki. Namanya gunung pasti punya track yang kadang susah kadang lumayan enak bang. Tapi sepengalaman papa, pasti ada jalur yang berkelok dan rawan basah. Jadi pakai ini pun penting. Kalau abang nggak pakai ini bisa-bisa kesusahan dan kakinya lecet. Terutama di cuaca hujan dengan medan berat. Kakinya juga bisa melepuh karena kerikil atau kotoran lainnya yang masuk.
“Panjang gaiter bermacam-macam. Mulai dari 12 cm hingga 15 cm untuk melindungi engkel hingga lutut kaki. Nah punya abang, kakak dan adek sudah papa sesuaikan. Persiapan kita sudah matang.”
“Kenapa Garut?”
“Adek cerewet!” Serobot Naomi. “Tanya muluk perasaan.”
“Kakak resek!” Usirnya dan duduk menjauh dari jangkauan Naomi.
“Nanti papa jelasin pas di jalan. Sekarang bobok yuk. Besok kita bangun pagi.”
Ardika Aksara bukan orang yang ceroboh mengenai seluruh persiapan ini. Jauh-jauh hari sebelum semua rencana ini di langsungkan telah Ardika pesankan segala bawaan.
***
Yang tidak bisa tidur justru Pulung.
Tubuhnya sudah berbalik ke kanan dan ke kiri tanpa peduli kerutan di dahi Maha pertanda terusik lelapnya. Matanya mengerjap dan mendapati wajah sang istri yang menatapi langit-langit kamar dengan satu kedip, dua kedip lalu menjadi banyak kedipan.
Lima menit pertama masih Maha biarkan. Mungkin memang ada yang mengganggu pikirannya. Beranjak ke sepuluh menit, barulah tangan Maha nemplok di perut besarnya. Mengelusnya dengan sayang dan meletakkan kepalanya tepat di atas bahu Pulung.
“Kenapa?”
“Kangen.”
“Siapa?”
“Abang sama kakak.”
“Mereka bobok loh di kamar sebelah.”
“Kalau besok mereka ke luar kota, rumahnya sepi.”
“Ada Dante yang nemenin.”
“Nggak asik. Tetap sepi nggak ada yang ngoceh dan baku hantam.”
“Heh! Bisa-bisanya kamu ngomong kayak gitu.”
“Mau ikut.”
“Sayang …”
“Nggak mau tahu.” Tubuh Pulung kembali pada posisi awal. Membuat Maha menggaruk tengkuknya.
Masalahnya memang tidak semudah itu. Garut bukan jarak dekat seperti ke Grand Indonesia. Ini di Jawa Barat sana. Butuh waktu beberapa jam perjalanan ke sana. Bukan Maha tidak sayang istri. Sudah akut parah malahan.
“Mau ke rumah mama saja?” Tawaran Maha tidak berlaku. Gelengan Pulung sudah menjadi jawaban telak bahwa penolakan selalu istrinya berikan. “Aku ada kerjaan soalnya Sayang.”
“Memang aku minta kamu peduli?”
Kan salah lagi. Pulung dengan tingkat sentimennya memang sungguh aduhai, Hyung. Maha sampai harus mengelus d**a dan beristigfar berkali-kali.
“Cinta kamu, Yang.”
***