Membutuhkan waktu 3 jam 42 menit dengan jarak tempuh 217 km Jakarta-Garut via tol.
Ardika kemudikan mobilnya sendiri di dampingi Baraja dan Naomi serta Armani di kursi belakang. Kedua kakak adik perempuan itu anteng bersama tablet soal edukasi mendaki bagi pemula. Sesekali canda tawa akan terkuar dan berebut channel untuk di play lebih dulu.
Hati Ardika tenang melihatnya dan Baraja yang bermain rubrik di sampingnya kentara fokusnya. Anak ini persis dirinya di masa kecil dulu jika boleh Ardika katakan demikian. Pasti tidak akan adil bagi Maharaja kalau mendengar keegoisan hatinya tentang ini. Tapi memang kadang hati tak mau munafik juga enggan di tampik.
“Papa … Garut.” Rengek Baraja yang sudah lelah dengan permainannya. Menagih janji yang kemarin Ardika cetuskan.
“Oh, iya. Papa lupa.” Ardika tengok lewat spion tengahnya. Kedua putrinya sedang asik jadi tidak perlu di usik. “Kabupaten Garut. Ada tulisan Aksara Sundanya yang papa nggak tahu bacanya gimana. Adalah sebuah Kabupaten di provinsi Jawa Barat, Indonesia. Ibu kotanya adalah Kota Garut. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Sumedang di utara. Di timur berbatasan dengan Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Majalengka. Samudra Hindia di selatan serta Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Bandung di barat.”
“Abang belum pernah ke Bandung?”
“Next time kita liburan ke Bandung kalau abang mau.” Dan sorakan tidak hanya dari Baraja terdengar. Memekakkan rungu Ardika diikuti senyuman bahagia. “Ada logonya loh bang di Garut itu. Bunyinya gini: Tata Tengtrem Kerta Raharja artinya suatu keadaan wilayah yang tertib, tentram, serta sejahtera dan berkecukupan segala sesuatunya.”
Namun ada yang Ardika sembunyikan dari ketiga anak-anaknya terutama Baraja bahwa di Garut lah kakek serta nenek dari pihak mamanya berasal. Dan tujuan Ardika tentu tidak hanya sekadar ingin hiking semata. Ada yang ingin Ardika lakukan di sana. Ada yang harus Ardika luruskan permasalahannya meski itu sudah sangat lama dan basi. Pikirnya, jika bisa di beri penjelasan untuk bisa memperbaiki kenapa tidak kita lakukan saja.
“Kalau sejarahnya pa?” Naomi tak mau ketinggalan ambil bagian. Maka melihat Armani yang sudah tenang dengan tablet dan tontonannya. Naomi tertarik untuk mendengarkan cerita dari papanya.
“Panjang Sayang. Jadi, sejarah Garut nggak lepas dari Kabupaten Limbangan. Kabupaten Limbangan adalah Kabupaten lama yang ibu kotanya dipindahkan ke Garut karena seringnya terjadi bencana berupa banjir yang melanda daerah ibu kota. Selain itu adanya kurang berkembangnya pusat pemerintahan karena jauh dari sungai yang menjadi sarana transportasi dan irigasi areal pesawahan dan perkebunan.
“Bupatinya dari tahun 1813-1831 bernama Bupati Adiwijaya membentuk panitia survei lokasi untuk ibu kota kabupaten yang baru. Pilihan akhirnya jatuh di tempat yang dikelilingi gunung dan memiliki mata air yang mengalir ke Ci Manuk. Tempat tersebut berjarak kurang lebih 17 km dari pusat kota lama. Saat menemukan mata air, seorang panitia kakarut (bahasa sunda: tergoret) belukar.
“Orang Belanda yang ikut survei nggak bisa menirukan kata tadi, dan menyebutnya gagarut. Pada awalnya, nama kabupaten yang ibu kotanya telah dipindahkan tidak akan diubah, masih Kabupaten Limbangan. Namun, atas saran sesepuh hendaknya nama kabupaten diganti dengan nama baru sehingga tidak menimbulkan bencana dan malapetaka di kemudian hari seperti yang sering menimpa Kabupaten Limbangan. Dari kejadian kakarut tersebut, dilafalkan oleh orang Belanda dengan gagarut, muncullah nama kabupaten baru, Garut. Dan hari jadi Garut diperingati setiap tanggal 16 Februari.”
“Oh, jadi gitu asal-muasal Kota Garut ya papa. Unik banget.” Seruan Naomi antusias.
“Kalau kondisi geografinya pa?”
Aduh, ampun bang jago. Baraja sungguh tidak memberi jeda untuk Ardika. Baru selesai dengan cerita yang panjang, harus ada penjelasan lain yang mesti dirinya lakukan. Tapi demi sang buah hati, Ardika pasrah dan menuruti.
“Kabupaten Garut terletak di Provinsi Jawa Barat bagian Tenggara pada koordinat 6º56'49 – 7 º45'00 Lintang Selatan dan 107º25'8 – 108º7'30 Bujur Timur. Kabupaten Garut memiliki luas wilayah administratif sebesar 306.519 Ha (3.065,19 km²). Sebagian besar wilayah kabupaten ini adalah pegunungan, kecuali di sebagian pantai selatan berupa dataran rendah yang sempit. Di antara gunung-gunung di Garut adalah: Gunung Papandayan (2.262 m) dan Gunung Guntur (2.249 m), keduanya terletak di perbatasan dengan Kabupaten Bandung, serta Gunung Cikuray (2.821 m) di selatan kota Garut.
“Kabupaten Garut yang secara geografis berdekatan dengan Kota Bandung sebagai ibu kota provinsi Jawa Barat, merupakan daerah penyangga dan hinterland bagi pengembangan wilayah Bandung Raya. Karena itu, Kabupaten Garut mempunyai kedudukan strategis dalam memasok kebutuhan warga Kota dan Kabupaten Bandung, sekaligus berperan di dalam pengendalian keseimbangan lingkungan.”
Oke, sudah Ardika jelaskan semuanya dengan rinci. Baraja dan Naomi juga nampak semringah mendengarkan penuturan Ardika. Entah ini harus Ardika syukuri atau malah memang sepatutnya begini saja. Alih-alih searching ke Google, Baraja dan Naomi justru memintanya di ceritakan secara live. Sedikit susah memang. Tapi beruntungnya hal itu tidak menjadi penghalang baginya yang sudah memahami seluk beluk Jawa Barat.
“Nah Gunung yang mau kita kunjungi ini Gunung Putri. Ketinggiannya sekitar 1.450 meter di atas permukaan laut. Dan ini merupakan destinasi favorit banyak orang. Pertama mudah dijangkau. Kedua banyak wahana yang bisa dimainkan bersama keluarga. Tapi bang, kak, dek …” Ardika panggil ketiga putra-putrinya. “Ingin serendah apa pun sebuah puncak, itu tetap gunung namanya. Jadi nanti di sana jaga kesopanan, jangan ada yang ngeluh capek apalagi ngomong rusak. Janji sama papa, ya?”
Ya, Ardika perlu mewanti-wanti ketiga anaknya untuk selalu berhati-hati. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Bisa saja setelah kegiatan hiking ini, salah satu diantara ketiganya akan ada yang kepincut dengan aktivitas mendaki. Juga, musibah tidak pernah jauh dari diri kita. Hanya berdoa dan meminta perlindungan kepada Tuhan sudah sepatutnya selalu kita lakukan.
“Lokasinya di Desa Rancabango, kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Lihat papa!?” Armani berseru kencang dan menyodorkan penemuannya di mesin pencari Google.
“Pintar adek.” Itu yang selalu Armani tunggu kala menemukan sesuatu. Anaknya yang satu ini memang terbilang unik bin ajaib. Paling suka di puji ketika menemukan hal-hal baru yang menurutnya menarik.
“Kita kemah ya papa. Adek mau bobok sama teteh.”
“Semuanya sudah papa siapkan di dalam tas adek.”
“Bobok sama teteh.”
“Adek jangan ngompol tapi ya!” Naomi pun tak mau kalah untuk menggoda adiknya.
“Abang mau naik paralayang pa.” Baraja tunjukkan satu foto paralayang yang sedang berlangsung di Gunung Putri. Ardika setujui saja.
Sebentar lagi perjalanan akan sampai. Tinggal satu kali belokan dan akan memasuki kawasan desa di mana Gunung Putri berada.
Ah, ini momen pertamanya berlibur dengan ketiga anaknya. Dan seolah sudah sangat benar, beban di pundak Ardika melonggar. Tidak seberat seperti sebelumnya. Anak-anaknya memiliki ciri khas masing-masing untuk memberinya hiburan. Dan Ardika patut senang untuk itu.
Tidak ada kata seindah ucapan syukur di setiap harinya.
***