Tidak ada halangan apa pun untuk sampai ke puncak Gunung Putri. Suasana cukup ramai karena ini weekend. Dan semilir angin malam mulai menyapa. Sepoi-sepoi menerbangkan helaian rambut milik Naomi yang mencuat. Sejauh mata memandang, kerlipan lampu malam kota Garut tersaji dengan indah. Tidak ada suara bising di sini. Sunyi dan senyap namun menenangkan. Suara jangkrik malam menjadi pengiring semesta menunjukkan keunggulannya.
Embusan napas Naomi terhela dengan teratur. Seulas senyum terbit dengan jari menyelipkan anak-anak rambut.
“Kakak belum bobok?” Adalah Ardika yang menatapi putri sulungnya sejak 15 menit yang lalu. Ada gejolak aneh di dalam hatinya. Desirannya penuh kesakitan dan sesaknya kesakitan. Bergumul jadi satu menyumbat saluran pernapasannya.
“Mau ngelukis bentar lagi.”
“Malam-malam begini?” Naomi mengangguk. “Nggak bisa besok saja kak?”
“Papa lihat deh.” Ardika baru sadar bahwa anaknya yang satu ini tidak suka banyak bicara dan lebih menyukai tindakan. “Aku suka kerlipan lampunya. Itu indah dan sayang kalau di lewatkan. Aku nggak mau kehilangan momen ini.”
Baik, Ardika cukup menyetujui dan duduk di sampingnya dengan khidmat.
“Papa bikinin cokelat panas.” Hampir lupa akan tujuannya ke sini. Ardika sodorkan cangkir setenlis yang sudah di persiapkan. “Ada banyak yang mau papa ceritain ke kamu.” Ardika sesap kopi hitamnya. “Papa kelihatan kayak orangtua paling kejam di dunia.”
Itu semua sudah berlalu. Bahkan Naomi tak ingin mengingatnya jika bukan Ardika yang membahas. Sakit pun sudah Naomi relakan untu masa lalunya yang buruk. Semuanya harus berdamai untuk hidup yang lebih baik ke depannya.
“Sebelum itu, Omi pengen tahu cara papa mencintai Mama Dante.”
Berganti senyum Ardika yang terbit. Setelah terdiam kaku beberapa detik akan pertanyaan sang putri. Ah, Naomi sungguh sangat sesuatu sekali dengan tanya yang demikian.
“Anak papa sudah dewasa. Sudah tahu soal cinta.” Naomi menyengir. “Dengan sederhana. Untuk jangan sakit lagi, papa punya pilihan mencintai dengan sederhana.”
“Caranya?”
“Cukup saling bertahan dengan memiliki cinta. Kita, saling cinta dan percaya menjadi syarat untuk saling menggenggam. Kakak punya unek-unek yang mau di bagi ke papa?”
Jika ya, Ardika ingin menjadi telinga pertama untuk Naomi bercerita dan mencurahkan segala keluh kesahnya. Tindakan Ardika pasti terkesan egois. Tapi hidup terpisah dari Naomi setelah sebelumnya menjadi yang sangat di gantungkan. Sisi lain Ardika mencuat.
“Omi suka sama cowok sejak pindah sekolah.”
Ah, Ardika suka dengan cara Naomi memanggil dirinya sedemikian rupa. Mengingatkan pada masanya dulu saat Naomi secara utuh memang miliknya. Dan soal pindah sekolah, Ardika walau terkesan diam bukan berarti tidak memiliki usaha apa pun. Ardika sangat tahu dan paham dengan apa yang sudah terjadi pada putrinya. Itu sangat tidak patut dilakukan kala anak-anak seumurannya bermain dan bergaul dengan teman sebayanya justru di gelayuti oleh masalah keluarga yang bernotabene telah berlalu waktunya.
“Dia … Namanya B.S Negara. Unik, kan, pa? Anaknya ganteng banget dan baik ke Omi. Cuma ke Omi.”
“Oh, ya? B.S itu singkatan atau karena namanya panjang jadi di bikin simpel kayak gitu?” Keponya Ardika mulai merebakkan sel-sel darah di tubuhnya. Nama cowok yang di sukai putrinya tidak tanggung-tanggung. Gila!
“Bahtiar Samudra Negara. Omi manggilnya Gara. Papanya pengacara, mamanya ibu rumah tangga biasa. Tapi baik sama Omi.”
“Loh?” Terkejut menjadi ekspresi pertama yang Ardika lukiskan di wajahnya. “Kok kakak kayaknya sudah kenal dekat, ya? Papa ketinggalan info apa nih.”
“Mamanya pernah ketemu Omi di sekolah terus ngajak makan di rumahnya. Mereka orang punya tapi sederhana. Nggak neko-neko lah pokoknya.”
Oke, Ardika tidak akan mempermasalahkan karena ini masih tahap cinta monyet dan sama-sama masih bocah. Jadi wajar kenal cinta-cintaan.
“Papa it’s oke. Tapi pesan papa, jaga diri ya kak. Kakak sudah gede sekarang. Sudah paham artinya cewek dan cowok. Sudah pintar membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Satu saja papa bilang: jangan kecewakan mama, ya. Ajak mama ngobrol dan karena kakak tinggal sama mama, artinya kakak punya andil untuk lebih terbuka ke mama.”
“Nanti kakak cari waktu yang tepat. Habis liburan ini Gara mau main ke rumah. Biar nanti kenalan sama mama sendiri.”
“Tapi sebelum itu, kasih tahu mama dulu. Biar mama bisa siapin makanan dan lainnya. Kan nggak lucu kalau ada teman kakak yang main dan rumah dalam kondisi berantakan.”
Itu bohong. Mana pernah Ardika dapati rumah Maharaja Askara yang super duper megah itu kotor. Ini murni membujuk Naomi agar mau terbuka dengan Pulung. Tidak adil saja jika hanya Ardika yang tahu.
“Gara itu pa selalu bareng sama Omi. Sampai tempat duduk pun harus bareng sama aku.”
Sinaran cerah di manik putrinya Ardika dapati. Meski rangkaian kalimat yang terucap terkesan belepotan. Ardika sudah bisa menangkap sinyalnya. Bahwa putrinya sedang kasmaran alih-alih menyebutnya jatuh cinta.
“Selalu jagain aku kalau ada yang jahil.”
“Ada yang kurangajar sama kakak di sana?” Naomi angguki. “Siapa?” Ardika punya andil untuk sekolah Naomi yang baru. Dan kalau sampai membuat ketidaknyamanan untuk putrinya, Ardika bisa mencabut segala donasi dan fasilitas yang telah masuk ke sana. Ada dasar hukum yang mengaturnya dan itu tidak main-main; hitam putih menjadi saksinya.
“Biasa pa pada minta duwit jajan. Di tiap sekolah pasti ada. Omi juga heran kenapa kasus bully dan pemerasan nggak pernah ada habisnya.”
Akan Ardika pertimbangkan setelah mengutus salah satu anak buahnya mencari tahu. Nanti sekembalinya dari sini.
“Papa tenang kalau Gara bisa jagain kakak. Ada waktu nanti, papa mau ketemu sama Gara. Di kantor papa Maha.”
“Oke. Nanti Omi bilang ke Gara. Tapi papa suka nggak semisal Omi sama Gara?”
Inti dari cerita ini adalah restu. Putrinya sedang melakukan negoisasi. Jikalau Ardika setujui, akan ada restu lainnya yang berbuntut manis. Ini pun dilema terbesar bagi Ardika Aksara. Dan seperti tersadar dari tidur panjangnya. Mendadak wajah ayu Dante bersemayan di hadapannya dengan senyum yang mengembang.
Memberi restu hanya dengan berkata ‘ya’ mungkin mudah. Bagi sebagian orangtua jika anak-anaknya telah bisa menentukan sebuah pilihan maka memberi dukungan adalah jalan terakhirnya. Hal itu tidak berlaku bagi Ardika yang cukup terdiam lama dengan tatapan Naomi yang penuh harapan.
Bijaksana harus Ardika terapkan sebagai sikap dalam memberi suara.
“Kakak suka?” Naomi mengangguk. “Apa cita-cita kakak?” Ardika ingat jika putrinya ingin sekolah bisnis dan mengemban tanggungjawab untuk perusahaan. Padahal sudah banyak pilihan yang Ardika berikan mau pun Maha dukungkan semisal seni lukis menjadi passion hidupnya. Tapi Naomi menjawab jika itu sekadar hobi tidak untuk di seriusi.
Maka para tetua cukup mengangguk dan berkata oke.
“Sekolah bisnis pa. Oh, ya, SMA nanti Omi mau ikut opa. Mama setuju.”
“Gara gimana?”
“Nggak jadi masalah.”
Sepertinya mereka sudah sangat rapi menyiapkan ini semua. Dan nampaknya pun obrolan dalam tentang keduanya sudah sejauh tanpa bisa Ardika bayangkan bagaimana tanjakannya.
“Kita lihat ke depannya. Sekarang, kakak fokus dengan apa yang telah kakak jadikan tujuan dan Gara … Kalian cukup saling mendukung sebelum melanjutkan segala sesuatunya dengan serius. Jadi dewasa kadang nggak enak kak. Orang-orang dewasa punya masalah yang nggak bisa di setarakan dengan kebebasan.”
“Kayak mama sama papa yang milih pisah padahal saling sayang?”
***