Yang semalam tak bisa Ardika berikan jawaban.
Pagi ini semuanya berjalan seolah memang tidak pernah terjadi apa-apa. Tidak ada obrolan seputar perasaan Naomi Aksara dengan B.S Negara yang membuat Ardika penasaran setengah mati. Ingin searching pun rasanya belum sempat. Ardika betul-betul melupakan di mana letak ponselnya berada dan fokus menghabiskan waktu bersama ketiga anaknya.
Usai sarapan, agenda yang sangat di tunggu oleh Baraja pun terkabulkan. Paralayang yang sudah di incarnya sejak masih dalam perjalanan. Dan selesai dengan itu, mereka akan segera turun untuk Ardika bawa ke rumah orangtua Pulung.
Tentu yang bingung tidak hanya para krucil itu saja. Bahkan ibunya Pulung tertegun selama berdetik-detik sebelum memeluk Baraja seraya menghujani dengan ciuman.
“Ada milik Pulung di sini. Matanya punya Pulung. Hidungnya punya Pulung. Sisanya dia cetakanmu.”
Ardika tersenyum kikuk. Dan di persilakan untuk duduk di ruang tamu sederhananya. Sudah ada suguhan padahal Ardika tidak memberi kabar hendak mampir ke sini.
“Ibu pikir Pulung sekalian kamu bawa.”
“Dia … hamil …” Ragu-ragu untuk Ardika sampaikan namun sang mantan mertua sudah mengucurkan air matanya dengan deras.
Detik di mana semua penghuni rumah berhamburan keluar membuat Bara dan Armani beringsut memeluk kedua lengan Ardika. Hanya Naomi yang nampak tenang meski wajahnya memancarkan sejuta kebingungan.
“Ini salah kita yang sudah kemakan omongan orang asing.” Ardika tahu soal itu. Kisah lengkapnya sudah di jelaskan meski belum tertulis secara runtut. “Rasanya beban dan bertahun-tahun memendam sakit.”
“Itu sudah berlalu bu. Baik saya maupun Pulung sudah menemukan kehidupan yang sesungguhnya. Mestinya saya yang minta maaf karena membiarkan kesalahpahaman ini berlanjut hingga pemutusan hubungan darah. Tapi Pulung nggak pernah salah. Dia nggak salah meski orang-orang mengatakan demikian. Justru dia yang selalu melindungi saya dari segala keburukan.”
Tepatnya lingkaran setan yang Mija bentuk dan yang Maharaja ciptakan memberikan efek sedahsyat ini untuk hubungan sesakral keluarga. Harus ada yang terdepak untuk bisa bertahan hingga di titik akhir. Hukum rimba kehidupan hutan memang begitu; di makan atau memakan. Dan di mana pun tempatnya, orangtua selalu kalah dengan anak-anaknya.
Sedang Ayana terlalu keras berusaha untuk meraih hatinya dan Dante yang terus mendesak dengan kehamilan palsunya. Itu semua tak menjadi apa yang kedua perempuan itu harapkan. Namun Pulung menjadi korbannya.
“Yang sudah terjadi ya biarin saja.” Itu adik Pulung. Ardika lupa siapa namanya. Tapi lelaki itulah yang selalu Pulung perjuangkan dulu hingga membuatnya nekat mengadu nasib ke Jakarta. “Saya yakin teteh sudah bahagia dengan apa yang menjadi pilihannya dan kami… tetap berada di kehidupan yang sudah Tuhan gariskan.”
Kosong menjadi yang sangat Ardika lihat. Tatapan matanya mati tak menyimpan hasrat sama sekali.
“Jajan yuk sama om.” Jawilnya pada pipi Bara dan berganti di Armani. “Ada yang jualan cilor di ujung sana.”
“Cilor apa om?” Kerjapan mata polos Armani menularkan tawa untuk Ardika dan seisi pasang mata yang ada di ruangan.
“Apa ya bilangnya tapi enak.”
“Abang mau yang jagung manis ada om?”
“Ada dong. Semua rasa komplit.”
“Adek mau balado juga ada om?”
“Ada. Ayo jalan sebelum kehabisan.”
“Tapi om namanya siapa?” Yang ini Naomi. Bocah itu memang suka sekali keluar dari topik dan membuat tema sendiri. Membuat Ardika heran dengan pola pikirnya.
“Iwa. Omi ikut ya. Sini.”
Hengkang lah keempatnya. Dengan Iwa yang seperti bapaknya menggandeng tangan Bara dan Armani di kanan kiri sedang Naomi ngintil di belakangnya.
Lega menjadi yang Ardika tatapkan. Dan bahagia adalah gambaran kedua orangtua Pulung. Selepas ini. Tidak ada lagi perpisahan. Ardika ingin berjanji untuk itu. Entah bagaimana nanti dengan Tuhan. Karena sebagus apa pun rencana manusia, keikutsertaan Tuhan menjadi yang paling utama. Tuhanlah penentunya.
***
Maha ganti sekretarisnya. Tidak di ganti dalam artian yang sebenarnya. April Julian yang biasa membuatkan jadwal dan mengurus t***k bengek keperluan Maha dalam kantor sedang cuti menemani istrinya yang melahirkan. Sedang kandidat yang menyerupai kinerja April hingga kemarin sore tidak di temukan.
Pusing dan uring-uringan selalu Maha bawa ke rumah. Sayangnya, ketika sampai di rumah masih harus ada setumpuk pekerjaan di mana Pulung sangatlah sentimental. Maha tahu bukan maunya Pulung berbuat demikian. Tapi sungguh ini melelahkan.
“Yang, kopi dong.”
Maka sekali ini saja atau setidaknya mala mini saja Maha ingin berganti di manja oleh Pulung. Yang sialnya tidak di turutkan. Istrinya itu hanya bergumam dan bergelung malas manaikkan selimut sampai sebatas leher.
Mengembuskan napas kesal. Maha beranjak bangun. Suasana rumahnya temaram mengingat semua lampu telah di padamkan oleh para pekerja. Dapur adalah tujuan Maha. Menuang air secukupnya untuk di panaskan dan menakar kopi pahitnya. Pastilah lain rasanya karena bukan tangan Pulung yang meraciknya.
Keluhan demi keluhan mulai bergerumul dalam d**a Maha untuk seterusnya mampir di kepalanya. Dan rungsing adalah ujungnya.
Emosi Maha telah menguasai sehingga ingin meledakkan seluruh isinya.
“Sabar.” Begitu Maha tekan dadanya perlahan.
Untuk selanjutnya Maha keluarkan ponselnya setelah mematikan kompornya. Mendial nomor mamanya guna berkeluh kesah.
“Ma…” Rengeknya.
Pernah mendengar sedewasa apa pun kita, di mata orangtua tetaplah seorang anak. Maha pun bertindak yang demikian.
“Capek. Kerjaan kantor nggak ada yang handle. April cuti. Pulung nggak bisa urusin Maha. Capek ma. Mama ke sini dong.”
Di seberang sana bukannya Lira tidak bisa menghampiri sang putra semata wayangnya. Namun Jakarta-Palembang tidak sedekat Pasar Blok A dengan Lotte Mart Fatmawati yang sekedip mata dugi (sampai).
“Papa pun nggak mau pensiun. Sudah tua juga.”
Sahutan dari sambungan nirkabel di seberang juga Maha ketahui. Mamanya mengaktifkan mode loudspeaker sehingga papanya ikut nimbrung.
“Memang gitu kok. Ngaku pa.” Misuh Maha. “Papa pun kalau mau bikin aku mati muda jangan gini caranya. Masa ngasih orang bukannya cowok malah cewek. Pulung tahu bisa habis aku pa.”
Papanya sungguh keterlaluan memberi pengganti April sementara waktu dengan perempuan bernama… entahlah. Maha tidak begitu memperhatikan tadi. Fokusnya ada pada tumpukan dokumen dan perempuan itu tidak bergerak selayaknya professional yang telah berpengalaman.
“Nggak gitu mama. Pulung suka dengan estetik datang dan bawa makan. Tanpa ngasih kabar. Pokoknya ujug-ujug datang saja. Ini kebetulan saja karena bawaan bayi jadinya malas mau ke mana-mana. Kalau sudah bugar dan ke kantor tapi kau belum ngasih tahu soal sekretaris sementara, bisa kena omelan aku.”
Maha semarah apa pun dengan sikap Pulung, pada akhirnya akan menggantungkan hidupnya kepada perempuannya. Dan Pulung menjadi satu-satunya rumah di mana Maha harus pulang.
Semoga memang seperti itu selamanya. Karena kadang, Tuhan pun berbuat dengan memberi kejutan tak berkira dentumannya. Bahagia mau pun sedih selalu menjadi rahasianya tanpa kita ketahui sebagai umat-Nya.
***