Tiap orang punya rahasia yang tak bisa di ungkapkan secara gamblang. Dan tiap orang juga punya sisi lain yang disebut topeng untuk menutupi wujud keasliannya alih-alih yang terlihat di hari-harinya.
Begitu juga dengan Pulung yang paham betul akan makna itu. Bahkan mungkin keberadaan dirinya yang ada di rumah ini selama hampir sepuluh tahun belum mengetahui sampai bagian terdalamnya. Karena memang ada tempat lain yang belum bisa Pulung jamah.
Mungkin juga lewat sebuah rahasia yang tak bisa diucapkan lewat kata-kata, ada jiwa-jiwa lelah yang menghadapi sikap kekanak-kanakannya selama masa kehamilan ini. Bukan maunya Pulung, sungguh. Murni bawaan sang jabang bayi yang mengharuskan sikapnya berubah drastis. Mulai keluar dari jalur keaslian siapa dirinya sampai ke akar-akar sikapnya yang paling menyebalkan.
Namun di atas itu semua yang paling membuat Pulung terkesan adalah Maharaja Askara yang dua puluh empat jam penuh mau mengurusi dirinya dengan telaten. Penuh kesabaran tanpa mengeluh apa lagi menggerutu. Ini menyenangkan juga menegangkan.
Tapi jika barang saja memiliki kadar expired, sama halnya dengan Maha yang terang-terangan menunjukkan perubahannya. Lewat sikapnya yang perlahan berubah dan obrolan-obrolan hangat yang biasanya di bangun menjadi ada sekat tak terlihat untuk berujung pada sebuah rahasia.
Yang awalnya Pulung pikir ini hanya perasaannya sesaat. Tapi tidak demikian ketika di semua hari-harinya menjadi suram. Ketika kedinginan bukan pelukan hangat yang dirinya dapat, justru kesendirian dalam temaram yang melingkupinya.
Ah, mungkin Maha memang sudah lelah dengan kebisingan mulut Pulung dan hanya membuang-buang waktunya saja.
“Mama nggak mau rotinya?” Adalah Naomi yang duduk di seberangnya. Mengoleskan selai kacang pada roti milik Baraja lekas melungsurkan untuk putra gembulnya itu. “Papa pasti berangkat pagi-pagi lagi.” Ada jejak kecewa di wajah Naomi.
Senyum Pulung terukir. Kecewa. Tentu saja. Tidak hanya dirinya yang merasa kehilangan namun juga seisi rumah ini merasakan ada hal lain yang sedang di tutupi.
“Papa rapat, Sayang. Makanya berangkat pagi.”
“Harus sesering itu ya, ma?” Baraja ikut serta bersuara. “Abang ngerasa papa beda. Nggak kayak papa yang biasanya.”
Hendak Pulung jawab apa?
Kedua anaknya sudah merasakan hal yang tak jauh berbeda dengan dirinya. Bedanya hanya di cara mengungkapkan. Jika Pulung bisa lebih diam dan berpikir positif, maka lain halnya dengan Naomi dan Baraja.
Ah, baru saja Pulung mempunyai ide untuk membawakan masakan kesukaan Maha untuk siang nanti. Sejak Maha memberi jarak, Pulung seolah sadar harus memiliki tindakan. Kondisi tubuhnya tidak lagi malas-malasan meski sangat ingin di manja.
“Kita selesai mama.”
Seruan Baraja dan Naomi menyeret Pulung. Dan tersenyum setelah di salami keduanya.
***
Sekretaris Maha ganti.
Mata Pulung mengerjap sadar. Rasanya ini terlalu aneh. Biasanya Maha selalu membicarakan apa-apa saja walau kantor bukan ranah Pulung. Tapi serius, Maha selalu ngomong sama Pulung sekadar untuk mengganti sofa saja.
“Kok mas nggak bilang kalau—”
Kejutan!
Sia-sia sih tidak. Lebih banyak kecewanya.
“Oh mas sudah makan siang.” Dan ada perempuan muda yang duduk terlalu mepet di samping Maha. Tidak ada jarak dalam penglihatan Pulung. “Aku masakin kesukaan mas. Tapi oke nggak masalah.”
“Mas pikir kamu belum enak badan sayang. Jadi beli dari luar.”
“Nggak masalah.” Pulung duduk di sofa single dan hanya menatapi perempuan di samping Maha. Ini sopan banget, ya? Masalahnya Pulung adalah istri Maha dan butuh privasi. Maksudnya perempuan ini harus sadar diri untuk hengkang dari sana.
“Sayang tumben ke sini. Ada sesuatu yang mau di sampaikan?” Pulung mengangguk. “Apa Sayang?”
Cara bicara Maha memang tidak ada yang berubah. Semuanya masih sama dan halus seperti biasanya.
“Aku nggak tahu kalau April sudah resign.”
“Oh, iya, Sayang …” Tersadar dari apa yang seakan terlupakan. “Jadi dia cuti, Yang. Istrinya kan melahirkan. Nah ini yang di rekomendasiin sama papa. Aku sudah mau ngomong tapi lihat keadaan kamu takut ngasih beban nanti.”
“Mas berubah loh.” Pulung bertopang dagu. “Tumben hal sepribadi ini ngizinin orang asing dengar. Dia … tetap orang asing, kan? Terlepas dari sedekat apa hubungan kalian.”
Terkejut. Wajah Maha berubah pucat pasi. Tak ada aliran darah yang ingin naik ke permukaan makan Pulung simpulkan benar telah terjadi apa-apa di antara suami dan sekretarisnya. Kalau Maha yang nyeleweng, Pulung ragu. Maha terlampau bucin sekali dengan dirinya. Bukannya sombong namun bisa di tes drive.
“Ini nggak kayak yang kamu pikirin, Yang.” Baik, masih halus. Pulung beri toleransi untuk Maha yang tetap bersikap lembut. “Kamu bisa keluar dulu deh, Jun. Sekalian kopi saya.”
Wah, Pulung terkejut dengan ini. Biasanya, Maha selalu membuat kopinya sendiri. Ini sejak kapan meminta orang lain menakarkan kopinya?
Hebatnya lagi, hanya dengan suara Maha saja si perempuan yang di panggil ‘Jun’ itu pergi nyeruntul. Keluar ruangan tanpa ada basa-basi menyapa Pulung. Rasanya keberadaan Pulung tak kasat mata, Hyung.
“Jangan lupa buat pulang, mas. Kamu nggak pulang dua malam ini.” Sindir Pulung yang mengarah pada keingintahuan di mana suaminya itu tidur.
“Mas ada kerjaan, Sayang—”
“Dan bikin anak-anak curiga sama kelakuan papanya itu nggak asik, mas. Kamu belum lupa, kan sama janji yang selalu kamu gembar gemborkan?!” Tidak berkutik. Ekspresi wajah Maha penuh di liputi kebingungan. “Aku anggap mas paham. Jaga kesehatan, jangan sampai sakit.”
Jangan di tanya seperti apa kacaunya hati Pulung. Jangan pula di tanya apakah sakit? Tentu sakit. Pulung sampai harus menilai rendah dirinya sendiri karena Maha tidak ada di sisinya selama dua mala mini. Dan pulang ke rumah di waktu subuh buta bukanlah jawaban menenangkan.
Pulung juga sudah pasrah jika kali ini akan ada kegagalan untuk ketiga kalinya. Namun menyerah di awal bukan gaya Pulung. Sebisa dan sekuat hatinya akan mencari tahu apa penyebab dan sampai mana suaminya hendak bermain api.
Sudah hal lumrah di dalam rumah tangga terjadi pertengkaran entah untuk masalah kecil yang sepele atau pun masalah besar sekali pun. Hanya terkadang itu memang sangat di sukai oleh Pulung. Karena setelahnya ada banyak cara menyelesaikan dan kembali merajut benang-benang kedewasaan. Maaf dan pelukan yang sama-sama di salurkan membuat Pulung tahu sebesar apa Maha mencintainya.
“Ini yakin teh?” Dante menemui Pulung begitu mendapat telepon untuk bertemu. “Kok aku ragu kalau Maha bisa nyeleweng sampai sedrastis ini. Pasti ada pihak ketiga yang mainnya nggak sehat.”
Paham ke mana arahnya, Pulung terus bungkam.
Untuk setiap kerumitan di hidupnya, Pulung berani bertaruh, hanya Maha yang sanggup menghadapinya. Maka hal itu juga harus berlaku untuk Maha yang hanya mampu Pulung seorang menanganinya tanpa ada keluhan.
***