Malamnya Maha pulang. Mengikuti pesan yang siang tadi Pulung ucapkan. Di sambut senang oleh kedua anak-anaknya, sedang Pulung duduk santai di meja makan. Dengan tangan menyuap berbagai jenis olahannya sendiri. Sore tadi Pulung memasak banyak. Tidak tahu mengapa semua yang tersaji di atas meja menjadi sangat menggugah selera Pulung.
Dan kecupan di pucuk kepala dengan si tersangka Maha, Pulung diam-diam bae. Acuh, lebih menghatamkan ganyemannya.
“Mama makan banyak?” Pertanyaan Maha sangat basi pemirsa. Karena sudah melihat nggak seharusnya mengajukan tanya begitu. Cukup dengan to the point saja. “Ambilin, ma.”
Mulut Pulung berhenti. Gerakan tangannya yang hendak memasukkan ceker jebret ke mulutnya tertunda selama beberapa detik. Untuk kemudian di ambilnya sodoran piring Maha. Mengisi dengan nasi secukupnya dan lauk pauk yang Maha katakan.
Asli, Pulung bersikap dingin tak sehangat biasanya. Tak berselang lama langsung hengkang tanpa permisi apa lagi suara yang menyebutkan nama Maha. Hanya kepada kedua krucilnya.
“Papa marahan sama mama?” tanya Naomi lirih.
“Orang dewasa suka banget berantem.” Imbuh Baraja.
Tidak tahu harus bagaimana Maha jawabi. Di otaknya terpukul keras bahwa ini salah dan tidak semestinya berbuat demikian. Namun hatinya merasakan sensasi lain yang tak pernah tersentuh kala melakukannya dan itu terasa sangat benar.
“Kakak sama abang kalau sudah selesai langsung bobok, ya.”
Tidak ada yang menjawab selain dengan anggukan.
***
“Yang …” Sekali pun hatinya tengah rungsing, tidak pernah Pulung lalaikan tugasnya (kecuali yang kemarin karena bawaan bayinya). “Ini cuma bentuk pedulinya mas sebagai sesama manusia.” Dan sejak kapan pula Maharaja Askara menjadi pemerhati kehidupan orang lain. “Boleh sekretaris mas tinggal di sini sementara waktu? Atau kalau kamu nggak nyaman, biar di apartemen kita yang dulu.”
Mendadak, gerakan Pulung yang ingin menaruh baju tidur di atas ranjang untuk Maha terhenti. Tatapan matanya tidak menyiratkan apa-apa selain keheranan dan berganti jengah setelahnya. Menyisir seluruh wajah sang suami dengan perlahan, kelereng matanya menemukan kejanggalan yang dahsyat di sana.
Ah, ini ujian. Batinnya.
Dalam rumah tangga prahara selalu ada. Tidak serta merta hanya bahagia yang menyambangi. Anggaplah ini sebagai kado selamat untuk kelahiran anaknya yang pertama bersama Maha.
“Terserah mas saja. Itu hak mas.” Pulung lengser dari hadapan Maha dan duduk di tepi sisi ranjang lainnya. Jarinya menggulir layar ponsel untuk sekadar mencari tahu. “Oh, ya. Barangkali mas lupa kalau kita adalah keluarga dan ada anak-anak yang harus di jaga perasaannya. Mungkin mereka akan diam dengan tanya: papanya pulang membawa perempuan lain. Bagi Naomi sepertinya biasa. Tapi tidak dengan Bara. Ingat, kan kayak gimana kamu didik bocah itu?”
Semakin ke sini, Pulung semakin matang dalam berpikir sekalian mengambil tindakan. Tidak akan Pulung permasalahkan jika suaminya ingin membawa perempuan lain tinggal di sini.
Pertama, Pulung sadar posisi. Kedatangannya di hidup Maharaja hanya datang (istilahnya menumpang). Kedua, karena memang lelaki itu yang mencintai dan memintanya untuk tinggal. Jadi wajar ketika sang suami hendak nyeleweng Pulung izinkan. Tapi bukan berarti Pulung rela di kalahkan.
Silakan saja kalau Maha ingin tinggal mau pun pergi bersama perempuan itu. Mungkin sedang di fase jenuh dan butuh pelarian. Akan Pulung buka lebar-lebar kesempatan bagi Maha bertingkah sesukanya. Asal tidak ada sesal setelahnya.
“Makasih, Yang. Kamu sepengertian ini.”
Bibir Pulung tersungging ke atas. Tidak bersuara apa lagi merespon dengan penuh kesopanan.
“Besok mulai pindah ke sini.”
Gila sekali memang. Secepat itu dan Pulung masih adem ayem anteng.
***
“Teteh yakin?”
“Kamu gila apa kerasukan?”
Ayana dan Dante memberondong pertanyaan terkait keputusan yang Pulung ambil. Di saat rumah tangga orang lain ingin tenang tanpa adanya orang ketiga, berbalik dengan Pulung yang membukakan pintu lebar-lebar untuk perempuan lain masuk.
“Jangan su’udzon ah. Nggak baik.”
Karena keluarga, jadi begitulah cara kerjanya. Tahu ada yang tidak beres dan berita membawa perempuan ke dalam rumah merebak bak virus corona pada masanya, baik Dante maupun Ayana cepat-cepat membagi kabar ke suami masing-masing. Tidak ada yang menyangka bahkan Ardika sekali pun. Jika soal kebejatan Maha, Ardika acungi jempol dan itu di masa tidak adanya ikatan serius semacam pernikahan. Namun ini sudah ada anak dan istri yang juga sedang di kandung.
“Ini nggak bisa di biarin.” Ayana maksimal sekali sampai harus mondar-mandir. Pulung anteng maksimal dengan setoples stik gurih dalam pelukan. “Kamu jangan diam saja dong!” Geram dan gemas menjadi cara Ayana menyalurkannya. “Bisa-bisanya kamu cuma duduk dan makan camilan. Aduh kamu mah gelonya nggak ada akhlak!”
Di cibir demikian tidak membuat hati Pulung tersentil. Gimana jelasinnya? Kalau Pulung paksa untuk Maha berhenti memuja perempuan bernama ‘Jun Jun’ itu pun percuma. Ketika seseorang sedang dalam masa suka dan cinta lalu di cegah yang ada hanya pemberontakan. Jujur saja Pulung malas untuk itu. Jadi ya biarkan saja lah. Bosan nanti akan pulang sendiri, kan?
“Teh ... ini serius teteh makin nggak waras! Suami lagi kasmaran sama cewek lain yang lebih muda dari teteh, kenapa malah sesantai ini. Ya aku tahu, teteh nggak mau stres menjelang melahirkan. Tapi harus ya kayak gini? Kalau Bara sama Omi tahu… mau teteh jawab apa?”
Berharap banyak nampaknya mustahil. Dante paham seperti apa Pulung ketika sudah mengambil tindakan. Jadi nasihat seperti ini pun terdengar sia-sia.
“Oh, ya. Bisa nggak sementara waktu Naomi sama Bara tinggal bareng kalian. Bukan apa-apa, aku nggak mau Omi kayak dulu lagi. Lagi pula Maha bukan bapak kandungnya jadi takutnya bikin Omi punya kadar benci yang lebih dari Ardika. Bisa berabe kalau anak-anakku pada sakit mental.”
Apa Dante bilang?
Sia-sia alias nothing artinya tidak ada hasil. Yang di pikirkan Pulung justru anak-anaknya. Seakan-akan membuka kesempatan untuk Maha dan perempuan itu berbuat sekenanya.
“Kalau Ardika ngelihat ini, bisa habis si Maha.” Ayana menajamkan matanya dengan penuh amarah dan dendam yang menggunung. “Ardika nggak suka pernikahan buat mainan. Kecuali dulu khilaf sekali. Sisanya dia nggak bakal ngasih ampun buat siapa pun yang main-main sama ikatan.”
“Sesadis itu?”
Capek, Bund! Respon Pulung nggak ada panik-paniknya.
“Tiga kali nikah bikin kamu kebal hati, ya? Iya, aku paham. Tapi jangan sampai ada prahara dahsyat dengan hadirnya orang ketiga. Aku sampai bingung mau ngasih omongan gimana lagi sedangkan kamu yang paling tahu gimana kondisi keluargamu.”
Senyum Pulung terbit. Di banding dengan memberi dukungan atau memojokkan dirinya untuk segera menumpas ketidakadilan Maha yang nyeleweng, jawaban Ayana sudah lebih dari cukup untuk melegakan hatinya. Yakin saja, ini takkan lama. Pulung menggenggam kelemahan Maha dan tahu di mana titik letaknya untu menyerang suaminya itu. Sekarang, jika Pulung membalas dengan emosi, hal tak diinginkan akan terjadi. Maka, memberi peluang untuk suaminya bersenang-senang sejenak, tidak menjadi masalah.
“Berbagi itu indah.”
Decakan kesal adalah milik Ayana dan Dante dengan kepala menggeleng dan tangan memasukkan potongan lunpia ke dalam mulut.
***