“Yang, bisa nggak sih kita pisah sementara waktu?” ucap Maha dengan entengnya. Wajahnya tidak menampilkan beban sama sekali kala melontarkan kalimat semenyakitkan itu. “Kita butuh waktu buat masing-masing.”
Pulung terlihat menimang. Dan setuju dengan anggukan. “Silakan saja.” Tidak ada yang mudah jika sudah masuk ke dalam perangkap Pulung. “Tapi kamu akan di bikin malu kalau nurutin jawaban aku.”
Kaki Maha yang sudah ingin beranjak dari kamarnya terhenti. Tangannya terkepal dan darahnya mendidih berkumpul di ubun-ubunnya. Pulung jelas-jelas sedang mengancamnya.
“Kamu bakal di cap buruk di mata orang lain, karyawan bahkan publik. Kamu nggak punya wewenang lain atas apa yang kamu punya karena itu sudah berpindah tangan ke Baraja dan ke bayi yang ada di perut aku. Terpenting, kamu nggak lagi diakui anak sama papa Aksara. Yakin masih mau pisah?”
Oh, Maha baru tahu kalau Pulung selicik ini dalam mengendalikan kehidupannya. Dan mendadak sesal bergumul di dadanya.
“Fine!” Begitu saja Maha langsung lunglai di tempat. Kembali bergelung bersama Pulung dan memeluk istrinya erat-erat. “Aku takut kehilangan kamu. Aku juga nggak mau jadi papa yang buruk buat Bara sama Omi. Terus si adek. Aku nggak mau.”
Apa Pulung harus percaya?
Tentu. Tapi tidak semudah itu. Yang dilakukannya hanyalah menepuk punggung Maha dengan perlahan dan melirik pintu di mana ada pasang mata memerhatikan disertai tatapan penuh amarah.
“Aku nggak cemburu semisal mas mau nikah sama Juni. Tapi aku nggak sanggup lihat mas kesusahan juga. Pasti berat banget ngulang semuanya dari nol sedang cewek itu maunya kehidupan yang instan. Aku juga nggak semudah itu kok buat dapatin hidup kayak gini.”
“Mas pasti durhaka banget, kan sudah main-main sama pernikahan kita sebulan ini.”
Ya, tanpa terasa sudah satu bulan prahara ini melanda. Dan Pulung rasa—di pikir-pikir lagi—kehidupan rumah tangganya tak pernah jauh dari datangnya orang ketiga. Dulu, pernikahan pertamanya berakhir tidak hanya masalah ekonomi namun juga hadirnya orang ketiga yang telah di pilihkan dari pihak keluarga lelaki untuk mantan suaminya. Pernikahan keduanya juga tidak jauh berbeda meskipun unsurnya ketidaksengajaan. Dan kini, bersama Maha yang Pulung pikir memang sudah adem ayem nyatanya tidak lepas dengan sosok pelakor (perebut laki orang).
“Gimana Juni?” Alih-alih membenarkan apa yang Maha ungkapkan, Pulung lebih penasaran dengan Juni yang dengan mudah memikat Maha. Jika bukan lewat jalur mistis mungkin memang sudah sangat lama mengincar suaminya.
“Nggak gimana-gimana, Yang. Mas bingung juga kenapa bisa naksir dia. Padahal tahu sendiri kayak gimana mas ke Sayang.”
“Papa Aksara sudah siapin berkas buat depak mas dari sini.”
Tindakan Maha yang menggila tidak hanya soal bermain-main dengan perempuan di saat Pulung tengah mengandung. Namun juga melawan perintah papa Aksara dan berakhir dengan pertengkaran hebat.
“Ah, papa pasti marah banget.”
“Gih minta maaf sama papa. Mama loh sudah nggak mau lihat muka mas kalau belum mas buang Juni dari rumah ini.”
“Gitu, ya?”
***
Juni merasa di permainkan. Padahal sudah jelas-jelas dirinya yang bersalah karena datang mengusik kehidupan rumah tangga orang lain. Namun menyangkal bahwa pesona Maharaja Askara—atasan sementaranya—terlalu di sayangkan. Lelaki itu memiliki daya pikat tersendiri bagi mata dan hati Juni dalam satu kali pandang.
Gila menjadi sematan pertama ketika semua orang melempar penilaian tersebut untuknya. Dan cuek menjadi jalan pintas terbaik yang Juni lakukan. Ini cinta, begitu pikirnya. Tidak peduli pada siapa akan jatuh dan bagaimana drama dalam mempertahankan. Juni tahunya hanya cinta dan ingin hidup bersama Maha.
Namun malam ini, semua itu tak berjalan lancar sesuai rencananya. Yang dirinya pikir selama satu bulan ini takkan ada pergerakan apa pun dari seorang Pulung Rinjani dan sudah tepat karena Maha mengajukan pisah. Ancaman layaknya bom justru di lemparkan. Dan seolah memang sangat ketakutan atau memang begitu lah cara kerja cinta, Maha memilih kembali pada keluarganya.
“Berengsek!” Itu u*****n pertama sepanjang Juni mengenal Maha. Dan selama itu pula yang sangat Juni benci adalah peran Pulung yang seharusnya Juni singkirkan sejak awal.
“Kamu masih muda dan cantik. Kenapa milih cara kayak gini buat dapatin apa yang kamu mau?” tanya itu datang dari arah belakang tubuhnya. “Mestinya kamu bisa merasakan apa yang di rasakan para istri di luar sana semisal suaminya direbut sama cewek kayak kamu. Atau kamu sendiri ada dendam soal rumah tangga?”
“Sok tahu!” Ketus Juni menjawab. Yang sialnya tidak di tanggapi amarah oleh Pulung melainkan senyuman. Ah, jadi ini sisi dalam seorang Pulung Rinjani yang sangat menghipnotis Maharaja Askara. “Kamu naif banget.”
“Saya melindungi apa yang saya punya.” Juni mencibir dengan sudut bibir menyeringai. “Kamu ada di jalur yang salah untuk sekadar bertahan.”
“Kamu yang harusnya mundur.” Alis Pulung menukik mendengarnya. “Kasihan Maha cuma dapatin bekas model kamu.” Oh, soal itu bukan kehendak Pulung. Tahukah bahwa Pulung pernah meminta Maha untuk mundur namun lelaki yang masih berstatus suaminya itu kekeuh bertahan? “Kamu nggak cantik-cantik amat—sebenarnya. Bisa dibilang kalah sama daun muda yang tiao hari Maha temui, aku contohnya. Tapi kamu ini memang nggak punya muka atau urat saraf kamu memang sudah putus?”
Sama sekali tidak ada jejak amarah di wajah Pulung. Perempuan hamil itu justru memberikan senyumnya lagi sehingga Juni merasa amblas di dasar jurang. Kalah telak dengan ketenangan yang Pulung miliki dan kontrol emosi yang terkendali dengan apiknya.
“Kamu nggak bisa memaksa seseorang buat milih kamu atau di pukul mundur untuk jangan ada di sisi kamu. Cinta nggak seegois itu cara kerjanya. Kamu salah makanya aku memberi teguran.”
Satu bulan ini, Juni sangat semena-mena berada di rumahnya. Mengatur setiap pekerjaan para pekerja yang Pulung acuhkan. Selama tidak ada gangguan untuk kenyamanan dirinya, maka Pulung anggap itu sebagai hadiah sambutan Juni ke dalam rumah ini.
“Saya nggak punya pesan apa pun buat kamu sih selain: tolong pergi dan lepaskan Maha. Kamu membuat suamiku jauh dari anak-anaknya alih-alih menyakiti hati saya. It’s oke kalau yang kamu serang adalah saya. Tapi kamu mengambil hak paten seorang anak terhadap ayahnya dan saya nggak suka itu.”
“Itu bukan urusanku.” Tatapan Pulung menghujam penuh kekejaman. Lewat kelereng matanya yang menggelap, ada satu rencana untuk membuat Juni jera. “Maha yang memilih untuk bersamaku—”
“Buktikan kalau gitu. Buktikan kalau yang kamu lakukan sebuah kemurnian tanpa ada permainan dalam tak kasat mata.” Tubuh Juni menegang. “See! Kamu bermain kotor di drama ini.”
Ini konyol dan terkesan menjijikkan. Di era modern seperti ini masih zaman perdukunan masih berlaku. Di samping tidak masuk akal, nalar manusia nyatanya kalah dengan hal-hal mistis. Angjim, Pulung sampai merinding di buatnya.
***