"Kamu ngomong apa, sih?”
Nah baru kali ini suara Maha yang biasanya super duper lembut menjadi menggelegar dadakan. Pasalnya, lelaki berkemeja hitam yang sudah di gulung lengannya sampai ke siku, pulang-pulang dalam keadaan marah. Untung Pulung kebal hati.
“Apa?” jawab Pulung polos. Melepas kaca mata bacanya dan meletakkan majalah fashion di meja. “Duduk dulu.” Suruhnya santai kala matanya menatap manik milik Maha yang di liputi amarah.
Aih, pasti si ratu drama mengadu yang iya-iya. Pagi tadi tidak ada kehebohan apa-apa. Lantas siang-siang begini Maha ngamuk-ngamuk.
“Makan siangnya sudah aku siapin—”
“Jangan basa-basi deh.” OW … Pulung melipat kedua tangannya di d**a. Membalas tatapan Maha yang menantang. “Kamu pikir cuma karena jadi Nyonya di rumah ini tindakan kamu bisa semena-mena sama Juni?”
“Kalau iya kenapa?”
“Bara sama Omi patut malu punya mama kayak kamu.”
“Oh, ya?” Suduh Pulung katakan. Dirinya bukan Pulung Rinjani beberapa tahun lalu. Yang lemah dan hanya akan diam saja ketika di rendahkan untuk kemudian menangis gogoakan. “Aku punya hak di rumah ini. Sepenuhnya, nggak cuma sebagai istri dan ibu dari anak kamu yang akan aku lahirin. Siapa Juni? Cuma perusak rumah tangga orang yang—”
Tangan Maha sudah terangkat keatas dan mengambang di udara. Siap dilayangkan ukiran cantik untuk pipi Pulung yang tembam. Dan seolah tidak terintimidasi, Pulung menyeringai puas.
“Kenapa berhenti? Takut?” Pulung rekam baik-baik wajah Maha untuk dirinya simpan di memori kemarahan hari ini. Yang mana dalam bertahun-tahun bersama, ini adalah keburukan Maha yang sedang Pulung ukir. “Kamu mudah banget percaya sama orang yang bernotabene orang asing. Kamu pikir itu keren?
“Membantu dia yang kesusahan—itu bukan kamu banget, Sayang, bukan.” Puji Pulung halus. “Juni baru kamu kenal nggak dalam hitungan hari. Tapi dengan lancang kamu bawa pulang. Ini rumah bukan tampungan orang miskin. Ini keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak. Bukan malah kamu masukkan racun untuk saling menjauh. Di mana letak kesalahanku hanya karena mempertahankan apa yang sudah aku bangun!? Kamu mau kita cerai? Ayo silakan. Kita ke pengadilan sekarang juga. Urus berkasnya dan pergi dari rumah ini. Apartemen, perusahaan, dan semua aset kamu termasuk Bara, Naomi serta bayi ini jatuh ke tangan aku.”
Tercengan. Kata pertama yang menggambarkan suasana saat ini. Maha tidak menyangka akan serumit ini masalahnya. Apa mencintai orang lain sebuah dosa? Mungkin tidak jika Maha masih melajang tanpa adanya tanggungjawab. Otak Maha sudah keblinger (keliru). Bisa-bisanya jatuh cinta di saat rumah tangga yang menjadi impiannya sudah di bangun. Di saat dengan susah payah dirinya dapatkan untuk meraih Pulung dalam pelukan. Justru rusak begitu saja hanya karena sebuah aduan kehidupan.
Benar kata Pulung: sejak kapan hati Maha jadi selembek ini?
“Ingat?” Sarkas Pulung berucap. “Kamu kepala rumah tangga di sini. Kepala keluarga yang punya tanggungjawab serta dedikasi dalam membina seisi kepala yang kamu kepalai. Kamu nahkoda yang akan membawa ke mana lajunya kapal menuju dermaga. Nyatanya kamu sedang terdampar di dermaga yang bukan menjadi tujuan.”
Ada balok kayu yang memukul punggung Maha. Seketika merasa tersadar untuk bergegas berlutut dan memohon ampun kepada Pulung. Bersimpuh dengan sesenggukan di pangkuan sang istri.
“Maaf,” katanya lirih. “Aku salah. Aku patut mendapat hukuman. Aku nggak semestinya ngasih contoh yang buruk buat anak-anak. Aku bahkan lupa dengan janji yang aku ucapin.”
Itulah mantra dari janji. Yang mudah diucapkan namun sulit untuk di terapkan. Sehelai rambut yang berbeda saja bisa dengan mudah merubah haluan seseorang. Pulung sendiri tidak tahu alasan apa yang membawa Maha berbuat demikian. Jika itu hanya karena sikap manjanya selama hamil … bukankah itu wajar? Atau memang benar bahwa suaminya sudah merasakan kelelahan dengan menghadapi sikap manjanya?
Andai semua lelaki tahu seperti apa jungkir baliknya seorang perempuan hamil yang di pengaruhi hormon. Dan andai Maha tahu bagaimana cara Pulung menjaga semua perasaannya untuk tetap stabil. Sekali pun bersikap diam dan tenang, Pulung mempunyai kadar cemburu lebih tinggi dari Maha. Yang dengan pintar dirinya sembunyikan secara apik.
Tapi ya sudahlah. Memaafkan Maha pun bagian dari tugasnya. Suaminya hanya sedang lalai dan sedikit bermain-main. Meminjamkan miliknya—meski Pulung tipe posesif—berbagi bukan hal yang buruk.
***
“Tapi aku hamil,” kata Juni dengan manjanya pada Maha. Duduk nyaman di pangkuan Maha dengan tangan mengalung di leher Maha.
“Kita pernah main memang?” jawaban dan pertanyaan Maha tidak terlalu pedas. Tapi cukup menyentil harga diri Juni. Bisa-bisanya Maha lupa dengan kegiatan mereka yang sudah berjalan sebulan ini.
“Abang lupa?” Membalik pertanyaan. Raut Maha kebingungan. Hendak mengelak namun lebih serius berpikir. “Tiga kali nggak mungkin kelolosan bang. Kita nggak pakai pengaman sama sekali loh. Abang lupa? Tega!”
Kelemahan Maha adalah kala ada perempuan di sekitarnya merajuk dan menangis. Dan Juni sangat tahu betul untuk menyentuh bagian terdalam sang pria.
“Bang, aku nggak bisa diginin. Kalau abang serius sama aku, nikahin aku dong—”
“Dan kamu tahu kalau saya sudah beristri.”
“Aku nggak peduli. Aku nggak masalah cuma jadi yang kedua yang penting aku nikah sama abang.”
Dunia rumah tangga rusak berat dengan keinginan yang dilontarkan Juni. Pantas saja banyak FTV yang menayangkan tema demikian karena memang terjadi adanya. Di angkat dari kisah nyata dan sumbernya terpercaya.
“Akan saya bicarakan dengan Pulung. Dia masih sah istri saya dan meminta izin cara terbaik—”
“Apa nggak bisa diam-diam saja? Aku nggak yakin istri abang ngizinin. Secara dia gila kayak gitu.”
“Bagian mana yang menurut kamu gila?” Suara lain yang datang dari arah pintu masuk menyahut. Adalah Ardika Aksara yang sangat Juni kenal dengan baik. Pria paruh baya yang masih saja tampan nan bugar itu dulunya bekas atasannya. Karena memang Juni bekerja di bawah naungan perusahaan Ardika.
“Padahal yang gila itu kamu. Dulu, kamu goda para bawahan saya sekarang kamu goda adik saya.”
“Abang.” Tegur Maha.
Ya. Biarkan saja. Ardika acuh dengan layangan protes yang Maha pancarkan lewat sorot matanya. Bahwasannya menyembunyikan identitas dari publik kalau mereka saudara sebagai jalan teraman. Tidak mau saja anak-anak mereka terkena imbas.
“Itu masa lalu saya pak.” Menjawab begitu pun tidak ada kesopanan yang Juni lakukan. Masih anteng duduk di atas pangkuan Maha. Bergelayut manja macam koala. “Bapak pun tahu kalau saya serius.”
“Serius mau kaya dengan cara instan? Mau mundur sendiri atau saya pukul telak dengan berita yang disebar?” Ancaman Ardika tidak main-main.
Memilih jalan ini sebagai alternatif terakhir karena nampaknya Maha pun sudah semakin sulit di kendalikan. Tidak tahu apa yang memengaruhi adiknya itu. Bisa-bisanya lelaki itu berpaling dalam hitungan jam. Padahal dulu sangat menggilai Pulung sampai memisahkan dari dirinya.
“Bapak ngancam saya?”
“Oh enggak. Sama sekali bukan ancaman yang saya katakan. Tapi ini kebenaran. Bayi kamu bukan milik Maha dan saya bisa buktikan itu. Saya punya videonya dan siap BOOM … Kamu bakal jantungan. Keluarga kamu bakal di datangi wartawan. Di interogasi A-Z. Yakin sanggup?”
Kerlingan Ardika sungguh keterlaluan damagenya. Dan apa yang di sampaikan bukan isapan jempol semata. Juni lebih dari tahu apa yang sering Ardika lakukan untuk memukul mundur musuh-musuhnya.
***