Katanya—ada yang bilang—kalau pasangan yang seringnya bertengkar, kemungkinan besar lebih kuat daripada pasangan yang tidak bertengkar.
Tetapi bukan perkelahian yang membuat mereka lebih kuat. Melainkan yang terjadi setelah perkelahian; hikmah dan cara penyelesaiannya.
Garis bibir Pulung tersimpul tipis sekali.
Ingin memercayai pada apa yang masuk ke dalam rungunya. Namun … ah, apa iya?
Ingin menyangkalnya … rasanya itu patut untuk di coba pada pernikahannya bersama Maharaja Askara.
Dan ketika sudah terjadi. Tidak tahu kenapa bukan jalan dalam mencari penyelesaian untuk melerai apa yang telah mereka lakukan. Melainkan hatinya yang sangat kuat juga tangguh dalam menghadapi semua ini.
Ini menjadi kesadaran (bagi Pulung khususnya) bahwa hubungan lebih penting daripada perbedaan. Ini melibatkan kebesaran hati dalam menerima kesalahan seseorang.
Kamu bertengkar, lalu kamu belajar sesuatu yan baru tentang orang tersebut.
Begitu cara kerjanya.
Makanya untuk sekali lagi Pulung ingin mengeluh perihal keretakannya.
Bahwasannya: ‘Aku pernah percaya bahwa cintaku istimewa.’
Benar. Sewaktu Maha meminta dirinya untuk mau menjadi pendamping lelaki itu. Pulung melambungkan angan dan harapannya. Ini benar, terus seperti itu batin sucinya menggema. Tidak ada yang salah, keyakinannya sungguh tidak bisa di remehkan.
‘Sangat istimewa hingga bisa mengisi retakan potongan yang pecah ini.’
Karena saking sempurnanya itu lah. Ada yang datang untuk membuat rekatnya ubin menjadi retakan yang tak terkira kedalamannya. Cukup dengan satu kali pukulan … semuanya berserakan.
‘Aku tidak tahu sesuatu yang sudah retak bisa menyebabkan pecahan yang lebih besar.’
Mungkinkah ini akhir dari segalanya?
Apa Tuhan sedang menunjukkan jalan terbaik untuk Pulung ambil agar keretakan yang sudah menguar lebar tak merembet ke bagian lainnya?
Entahlah.
Ini cukup melelahkan sampai hati Pulung teremas sakit meski tak ada tangan yang meremasnya.
Dunia sekejam ini. Hanya perlu satu retakan maka akan membawa keretakan lainnya.
Hanya butuh satu kali pukulan maka akan mengikutsertakan yang lainnya dalam memberi pukulan.
Ah … Pulung pasti sangat bersalah sudah terlalu percaya diri akan cintanya yang sempurna.
Pada faktanya, tak ubahnya sebuah sandiwara belaka.
“Kamu harusnya memandangi pasanganmu baik-baik.” Perkataan Juni terkesan sarkas dengan wajah yang terlihat mengejek. “Kamu harusnya pergi dari dia karena nggak tahan dengan sikapmu yang manja dan terlalu malas untuk mengurusinya. Tidak salah Maha dating padaku.”
Oh, ini lucu sekali. Jika boleh Pulung berkata demikian.
“Kamu menyuruh saya pergi?” Pulung santai dalam membalas. “Sebelum itu, kamu pernah punya pasangan?” Juni menggeleng. “Pantas. Kamu nggak pernah tahu rasanya menggenggam dan di genggam.”
Apa yang Pulung sampaikan benar adanya. Karena sudah pernah menggenggam dan di genggam, tidak mudah bagi Pulung untuk memutuskan pergi begitu saja. Masih ada banyak pertimbangan yang Pulung lakukan meski sikap Maha sudah tidak bisa di tolerir lagi.
Lagi pula, apa hak Juni menyuruhnya untuk pergi?
Pergi atau tidaknya adalah keputusan Pulung. Bahkan ketika nanti Maha mendorongnya untuk hengkang dari sini. Tidak semudah itu cara kerjanya.
“Saya … belum menemukan seseorang yang kesabarannya lebih baik dari seorang Maharaja Askara. Jadi percuma kamu memprovokator saya karena itu nggak berlaku sama sekali.”
Alih-alih bersuara dalam hati, yang membuat kepalanya rungsing, ada baiknya Pulung jujurkan saja dalam berkata. Toh Juni tanpa adanya Maha, sangat mudah untuk di intimidasi.
Ekspresi Pulung puas maksimal. Menyaksikan wajah Juni yang merah padam. Satu tangannya terkepal kuat. Dan napasnya yang memburu, pertanda gejolak amarah mulai menguasai.
“Saat sebuah hubungan, yang susah payah saya bangun dengan banyaknya pengorbanan serta impian. Lalu kandas seketika hanya orang ketiga. Menurut kamu, saya bakal lakuin apa?”
Kalau ‘pergi’ menjadi suara Juni sebagai jawaban … sudah Pulung tuliskan di atas; TIDAK.
Vokal Juni tenggelam. Tidak langsung memberikan jawaban. Otaknya justru terkontaminasi dengan pertanyaan yang Pulung ajukan. Iya, benar … apa yang akan dirinya lakukan semisal posisi itu ada pada dirinya?
“Bukan bermaksud sombong.” Masih Pulung yang mendominasi. “Ketika saya dan bahkan jutaan wanita di luar sana yang mengetahui perselingkuhan prianya. Cukup dengan tersenyum. Percaya bahwa dirinya adalah wanita baik yang penuh dengan pengorbanan. Jadi, saya nggak akan maksa Maha untuk melihat dan cepat-cepat menyadari hal itu. Toh Maha kok yang rugi. Bukan saya apa lagi keluarga saya. Itu jika sampai Maha nggak sadar.”
Sialan!
Kenapa Juni merasa di pukul mundur, sih?
“Wajar. Namanya juga hidup. Penuh dengan penyesalan. Karena yang aku dengar, hidup berhubungan dengan pilihan yang nggak kamu buat.”
Sama halnya dengan apa yang kamu tanam, itu yang akan kamu panen nantinya.
Pilihanmu baik, akan kamu petik hasil dari ‘baiknya’ itu. Keluarga yang harmonis bukan tak pernah mendapat ujian. Justru cobaannya silih berganti.
Mungkin, pendidikan Pulung hanyalah seorang lulusan SMA. Dan Juni merasa bodoh sudah menganggap enteng lawannya.
Hanya karena latar belakang pendidikannya yang rendah, bukan artinya seseorang itu bisa dengan mudah di rendahkan.
Hanya karena miskin, tidak serta merta mudah menginjak-injak harga diri seseorang.
Serius … Juni di pukul teratur untuk segera memutuskan semuanya.
Sedang egonya terus menggerogoti … Juni tidak mau kalah dari seorang Pulung Rinjani.
Tidak peduli seperti apa Pulung dan bagaimana kondisinya.
Juni hanya peduli dengan dirinya sendiri.
Itu saja.
“Ini nggak jadi pengaruh buat aku tetap bareng sama pak Maha. Percuma—”
“Terserah!” Potong Pulung. “Saya nggak peduli.”
“Karena sebelum bahagia, mungkin aku bakal nemuin yang namanya kekecewaan, rasa sakit dan semacamnya.” Sudut bibir Pulung terangkat mendengar kata-kata Juni. “Memang gitu, kan? Ibaratnya pelangi nggak bakal muncul sebelum hujan.
“Kalau mbak capek …” Juni ajukan untuk Pulung. “Bisa istirahat. Tapi kalau bisa nyerah saja lah.”
Tidak ada yang tahu jika Juni bisa sangat percaya diri mengatakan hal yang demikian. Namun di balik tembok, saksi bisu percakapan kedua perempuan itu bisa dijadikan sebuah penilaian.
Ardika hanya mengembuskan napasnya. Sedikit ada sesal yang mendadak menyerang jantungnya. Hampir ingin meledak dan apa yang Pulung ucapkan perihal pilihan … benar seperti itu.
Bukan bermaksud menyesalkan apa yang telah Ardika tanam sebelumnya. Bukan artinya Dante tak baik untuknya. Justru karena Dante yang sangat dan teramat begitu baik, Ardika malu.
“Kalau Allah ngasih kamu dan Maha berjodoh, besok kalian bisa nikah.” Serangan kegirangan menyambangi relung hati Juni. Lain halnya dengan Pulung yang tersenyum sembari menyesap jusnya. “Tapi kalau enggak, kamu jangan maksa. Konsep jodoh nggak memaksa soalnya.”
“Aku maunya Maha,” jawab Juni mantap. “Aku sudah memperbaiki diri—”
“Jadi kamu memang sengaja bikin rencana kayak gini?” Pulung tidak lagi punya reaksi apa lagi yang harus di pasangkan untuk wajahnya. “Saya … sebelum menyukai Maha dan memutuskan untuk menerima lamarannya. Telah lebih dulu sadar. Pertama; banyak yang mengagumi dirinya. Dan saya punya pertanyaan ‘kenapa dia mengejar saya?’. Lalu kedua; yang lebih baik dariku juga banyak. Kenapa dia masih mengejarku.”
Kepala Pulung menoleh dan menatap intens Juni. Kali ini sorot matanya yang kelam menggelap. Ardika bahkan merinding di buatnya.
“Pernah Maha memintamu seperti apa yang dilakukannya ke saya?”
***