“Namanya hubungan, bertengkar nggak pernah ada habisnya.” Begitu kata Ardika sembari melegut kopi hitamnya.
Masih di kediaman Maha dan Pulung, sulung Aksara itu hanya sedang memberi hiburan kepada adik iparnya. Jika boleh di katakan begitu.
“Lakuin yang biasa kamu lakukan sebelum kamu putuskan untuk berpisah. Jika di rasa memang perlu untuk berpisah … mau gimana lagi, kan.”
Yang biasa dirinya lakukan. Pulung bahkan tidak tahu apa yang biasanya dirinya lakukan selain diam dan memendam rasanya sendiri. Pun sama halnya dengan pilihan. Ah… Pulung merasa terjebak di semua keadaan jika begini akhirnya.
“Nggak perlu risau. Pernah dengar nggak quote; apa pun yang kamu dapatkan dari apa yang kamu inginkan, itu adalah arahan dari Tuhan. Maka, anggap saja saat ini, apa yang sedang dilakukan Maha merupakan jalan yang Tuhan tunjukkan.”
Harus, ya dengan cara punya wanita lain di luar sana?
Lalu, apa artinya Pulung dan Baraja selama hampir sepuluh tahun ini?
“Lain halnya dengan ketika kamu nggak bisa meraih dan ngedapatin apa yang kamu mau. Berarti Tuhan sedang melakukan perlindungan untuk kamu. Paham sampai sini?”
Tidak. Pulung sama sekali tidah paham akan apa yang Ardika katakan.
Entah Pulung yang tidak sabaran atau terlalu memberi kesempatan untuk Maha dalam bertindak. Nyatanya, tak banyak perubahan yang Maha bawa untuk memperbaiki hubungan ini. Lelaki itu pun semakin hari kian acuh dengan keadaan keluarganya. Seolah-olah memang tidak ada yang terjadi.
“Makanya aku bilang; lakuin apa yang biasa kamu lakukan. Take your time. Jangan di bawa stres. Kasihan bayi kamu.”
Jika boleh jujur … sudah habis kata untuk Pulung gambarkan suasana ini. Sudah hancur lebur hatinya mengetahui seperti apa dan bagaimana cara Maha dalam bersikap. Semuanya menadi tidak sesuai meski tahu ini ujian semata. Semuanya menjadi kehampaan tak berkesudahan setelah hujan menyiram semua kekeringan di hatinya. Maha tak ubahnya seorang pengecut yang sama saja di hasil akhirnya.
“Walaupun ingatan itu menyakitkan. Tapi jangan pernah berdoa untuk bisa melupakan meskipun itu berkat. Kadang, hidup yang nggak adil ini, perlu kamu benahi sebagai ajang pembelajaran. Aku pamit, Dante ke sini sore nanti sama Arma.”
Ardika hengkang dari sana. Hanya senyum yang Pulung ulaskan. Tidak tahu lagi hendak berkata apa pada mantan suaminya yang berubah status sebagai abang iparnya.
Tahu tidak?
Bahkan Pulung merasa perputaran kehidupannya terlalu cepat. Sedetik yang lalu, dirinya ada di sini Bersama dengan ini. Namun di detik berikutnya, sudah berubah tempat dengan lain orang. Lompatan-lompatannya terlalu cepat. Sehingga sulit untuk Pulung salami maknanya.
***
“Masih ingat pulang?”
Pertanyaan yang Pulung lontarkan terlalu sarkas. Namun mulut dan matanya tidak ada di fokus objek si empu.
“Kamu makan apa?”
Maha mendekat. Merasa tidak enak entah karena apa. Melihat Pulung yang bersikap setenang ini, terkadang ada sisi kejengkelan dan ketakutan yang tak bisa Maha jabarkan. Alangkah lebih baiknya jika Pulung mengamuk dan mengeluarkan segala unek-uneknya. Atau damprat saja Maha.
“Tidur di mana?” Alih-alih menjawab apa yang Maha tanyakan. Pulung singkirkan mangkok sisa makanannya. Berdiri dan sigap melepas dasi di leher Maha. “Mas kurusan,” katanya. “Pipi mas juga tirus. Gimana? Juni nggak ngurusin mas?”
Mata Maha mengerjap sekali. Serius … tadi itu Pulung menyeringai?
“Mandi gih. Aku sudah siapin air panasnya. Mau makan di sini atau di tempat Juni?”
Kikuk. Tidak bisa Maha berkata-kata. Yang dirinya lakukan adalah menggaruk pelipisnya yang tidak gatasl.
“Nggak perlu gugup.” Pulung paham betul akan hal itu. Dan Maha merutuki kebodohannya. “Ini masih rumah kamu sampai surat cerai di kirim ke tempat Juni.”
“Kita selesai?” Maha mencoba mencerna kalimat Pulung. Dan hanya itu yang Maha mengerti. “Kamu bercanda, kan?”
“Mas juga guyonan saja, kan?”
Asem. Jadi serba salah. Pulung bisa menjawab semuanya dengan lancar dan membalikkan segala pernyataan dengan benar.
“Mas serius Pulung.”
“Aku juga serius mas.” Tatapan Pulung terlihat meredup namun tajam maksimal. “Aku mau bagian perusahaan jatuh ke tangan aku. Aku mau apartemen yang sekarang kamu tinggali, rumah yang kamu kasih buat Juni dan semua aset yang kamu punya. Itu semua jadi milik aku.”
Pemerasan. Jika boleh di katakan begitu. Maha ingin berontak. Namun perkataan Pulung yang selanjutnya cukup membuat rahang Maha mengeras.
“Itu janji kamu sewaktu ngelamar aku. Saat kamu minta aku buat jadi istri kamu.”
“Kamu manfaatin aku?”
“Oh enggak. Sama sekali enggak. Aku nggak selicik itu cuma buat jadi kaya.”
“Jadi?”
“Itu hak aku dan anak-anak aku.”
Tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Maha mengusap wajahnya kasar. Pulung Rinjani sedang mengeluarkan ultimatum untuk menekannya. Pasti dan tidaknya, ada tekanan yang Maha terima dan dukungan dari orang-orang penting ada di belakang Pulung.
Salah langkah … Maha yang akan hancur.
“Seenggaknya, malas pun aku atau seburuk-buruknya aku selama jadi istri kamu, nggak pernah aku biarin kamu berpenampilan buruk kayak gini.”
Maha pandangi Pulung lekat-lekat. Pancaran matanya melukiskan luka yang tak bisa Maha hapuskan. Tindakan dirinya sangat keterlaluan.
“Aku selalu berusaha menjadi baik untuk menghasilkan yang terbaik. Aku berusaha bukan untuk sekali dua kali. Namun berkali-kali dan mencoba memantaskan dengan kamu. Itu nggak gampang. Tapi ketika kamu bisa berpaling dengan begitu mudah … kenapa aku enggak?”
“Maksudnya?”
Sejenak tanpa kata. Pulung beranikan diri setelah mengumpulkan banyak kekuatan.
Menatap ke dalam netra bening favoritnya. Guratan Lelah tercetak di dalamnya. Cekungan matanya yang menghitam, menandakan banyaknya beban yang Maha pikul. Pulung tahu tidak pantas mengatakan ini di saat lelah mendera.
Namun … Pulung coba menguatkan tekadnya.
Untuk mendapatkan kedamaian dan yang terbaik … tidak apa-apa untuk membatalkan komitmen. Tidak apa-apa untuk tidak menjawab pertanyaan yang Maha ajukan. Tidak apa-apa untuk mengubah pilihannya jika selama ini hanyalah Maha yang terbaik. Bukan bualan semata. Rumah tangga mereka berjalan sedikit lebih lama meski takkan sampai menua bersama.
Pikiran Pulung juga tidak jauh berbeda untuk bahwa tidak saling berbicara pun tidak apa-apa. Dan setelah ini untuk pergi dan saling melepaskan juga tidak apa-apa. Tapi kenapa liquid bening Pulung meleleh?
Kenapa ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya?
Kenapa ada menyumbat di hidungnya sebagai jalur pernapasan dan itu menyesakkan?
Kenapa kehilangan sesakit ini?
“Aku nggak mau jadi penghalang kamu. Hidup kamu adalah tentang kamu dan itu milik kamu. Kamu berhak memilih siapa saja yang ingin kamu jadikan pendamping dan kamu jadikan rumah untuk pulang. Aku pikir—”
“Kita berpisah.” Tercekat dengan ucapannya sendiri. Pusing di kepala Maha menjadi-jadi. Rasanya tidak sanggup. “Gitu? Kamu mau kita berakhir?”
Bisakah?
Karena Pulung sudah lebih dari cukup untuk berhenti.
Pulung sudah lebih dari kesakitan untuk terus bertahan.
“Kita terlalu buru-buru waktu itu. Kita yang tidak bisa menahan untuk jangan bersama untuk luka yang tidak ada artinya. Aku kira ini hanya sebentar jadi aku bisa maafin kamu. Tapi berbulan-bulan kamu nyaman dengan yang baru … Aku merasa ini nggak adil.”
Ini mulai membingungkan. Maha tidak tahu pasti apa yang sedang terjadi. Juga kenapa dirinya bisa begitu kejamnya berbuat demikian. Rasanya ini bukanlah karakternya yang asli.
Mestinya Maha sadar jika mamanya pernah di sakiti dan tidak seharusnya tindakannya kelewat jauh seperti ini.
Selayaknya Maha sadari bahwa Pulung telah melepas segalanya untuk hanya bertahan dengan dirinya. Menjadi seorang pendamping yang sempurna dan ibu yang baik bagi calon anaknya.
Bukankah itu wajar bagi seseorang yang sedang hamil?
Hormonnya akan naik turun dengan temperatur mood yang acak-acakan.
Lantas, di mana letak otak Maha hari itu sehingga dengan entengnya memutuskan untuk nyeleweng?
Wah … pantas jika papanya mengambil seluruh fasilitasnya. Ternyata tindakannya sudah sangat jauh menyimpang.
“Aku butuh kesempatan kedua. Aku janji …”
Juga sudah banyak janji yang Maha ucapkan. Pulung sudah muak untuk mendengarnya. Jika maaf Pulung buka sekali lagi. Akankah semuanya membaik?
Dan jika sudah membaik… mungkinkah ada kejadian lain yang akan menimpa?
Sekali lagi … entahlah.
Dunia pernikahan menjadi sangat mengerikan dalam mata Pulung Rinjani. Dan perceraian, terus melambai di pelupuk matanya.
***