"Kamu maafin Maha?” Tidak tahu kenapa suara Dante jadi naik sampai beroktaf-oktaf jika menyangkut adik iparnya itu. “Apa artinya menikah kalau gitu?!”
“Jangan ketahuan,” jawaban Pulung santai maksimal. Sedang di tempatnya Dante histeris secara totalitas. Memang ada gila-gilanya pasangan ini.
“Nggak seharusnya Maha ketahuan sewaktu selingkuh. Jadi, aku nggak perlu tahu.”
Mau tahu seperti apa wajah Dante dan Pulung?
Oke.
Pulung menatap ke arah depan dengan pandangan lurus. Jangan berharap ada riak emosi di sana. Karena semuanya tidak terdeteksi dengan mata telanjang. Pulung pandai menyimpan perasaannya. Itu yang Dante ketahui.
Sedang Dante… jangan di tanya. Sudah ingin mencak-mencak. Sejak tadi, u*****n demi u*****n sudah terlontar. Kata-kata kotor yang bergumam ke luar dari mulutnya tak menjadi gangguan untuk rungu Pulung.
Dante ya begitu. Dan selamanya akan seperti itu. Tidak peduli sudah punya status apa dan bagaimana perannya. Dante tetaplah Dante.
“Kalian gila! Lebih gila dari yang aku bayangin.” Apa lagi memangnya sematan yang paling tepat untuk keduanya.
Namun ada sesal yang timbul. Dante diam sejenak. Ingatannya melayang di masa yang telah tertumpuk oleh buku-buku baru.
Jika dan hanya kalau untuk kondisi seperti ini akhir dari hidup seorang Pulung Rinjani. Baiknya Dante tetap mengambil jalannya. Jika dan hanya jika begini segalanya harus berakhir … baiknya memang Dante tak pernah naik tahta.
Layaknya sebuah ketidaksetaraan, Dante menjadi tamak untuk segala hal. Menyangkut tentang hidup, akan banyak yang Dante korbankan. Termasuk merebut posisi orang lain.
“Itu aturan mainnya, Nte. Jadi … arti menikah di sini ya menikah. Dua pasangan yang memutuskan untuk bersama dan sah secara agama serta hukum.” Senyum Pulung benar-benar membingungkan.
Yeah … kenapa jadi kayak gini?
Kenapa seolah-olah semuanya baik-baik saja padahal sedang hancur-hancurnya?
Kenapa harus senyum ‘tidak apa-apa’ yang terpasang padahal tidak demikian?
Nampaknya, filosofi Joker sedang di perankan oleh kakak sepupu Dante.
‘Tersenyumlah, karena itu dapat membingungkan orang.’
Benar sekali. Dante bingung dan di buat kebingungan dengan perilaku tersebut. Orang mana yang dengan santainya masih bisa melebarkan senyumnya di saat bahtera rumah tangganya hampir hancur?
‘Tersenyumlah, karena itu jauh lebih mudah daripada menjelaskan apa yang membuatmu gusar.’
Mungkinkah masih sama saja?
Setahu Dante, Pulung memiliki kesulitan dalam mengomunikasikan apa yang di rasakannya. Dan meski wajahnya terlihat tenang. Tak ayal kegusaran itu bisa Dante tangkap lewat gerakannya tangannya dalam memutar pinggiran mug tehnya.
“Teteh bisa lepasin apa yang memang mau di lepasin.”
“Apa?”
Pulung sedang menyangkalnya. Bahwa hatinya baik-baik saja.
“Setelah beberapa saat, teteh harus belajar mengabaikan. Untuk rasa sakit yang teteh dapat dan di campakkan seperti ini. Buat kembali pada kepercayaan diri teteh kalau teteh berharga dan patut untuk di perjuangkan.”
“Kamu ngomong apa, sih, Nte? Lapar? Mau teteh masakin?”
Pulung yang seperti ini adalah kesayangan Dante.
“Kita di kafe kalau teteh lupa. Tinggal lambaikan tangan, waiters dating.”
“Sok atuh. Kamu katanya mau program hamil buat adiknya Arma. Jadi?”
Terdengar helaan napas. “Aku belum siap teh. Nggak tahu kenapa malah akhir-akhir ini fokus ke Naomi?”
“Naomi oke?”
“Nggak ada masalah. Tapi aku kepikiran soal dengan siapa dia dekat sekarang.”
“Jangan dilarang.” Dante menggeleng. Pulung embuskan napas lega. Takut jika Dante terlalu keras terhadap anak perempuannya. “Namanya remaja. Mereka labil. Memasuki pubertas. Bukan perkara aneh kalau saling mengenal lawan jenis. Dan kalau pun nantinya jadi pasangan, palingan cinta monyet di masa menuju remaja.”
“Masalahnya … Samudera nggak main-main teh. Dia loh anak pengacara kondang.”
“Bukan artinya bahaya buat Naomi. Yang teteh dengar, Samudera punya andil di sekolah buat ngelindungin Naomi. Jadinya aman, kan?”
Dante benarkan lewat anggukan. Gundah gulana masih tertinggal di hatinya. Terasa ada yang mengganjal namun sulit untuk dirinya ungkapkan. Apa, ya, kira-kira?
***
“Mama …”
Panjang umur.
Pulung baru menapaki teras rumah. Di mana hujan baru saja mengguyur Jakarta. Dan sosok Naomi serta Samudera yang tadi jadi bahan gibah dirinya dan Dante ada di depan mata.
“Apa kabar tante.”
Sopan. Begitu Pulung beri nilai.
Ini perdana bagi Naomi pulang membawa teman lawan jenisnya.
“Sudah lama.” Pulung balas salaman Samudera dengan mengusap kepala sang bocah lelaki.
Tampan. Wajar kalau banyak perempuan yang tergila-gila. Dan dari pengamatannya… aigoo. Pulung yang malu sendiri untuk mengatakan bahwa putrinya sedang kasmaran.
“Mama, ih…”
Tuh, benar, kan?
Pulung tidak berbuat apa-apa (hanya menatapnya saja). Naomi sudah sangat kelimpungan dengan semu-semu merah di kedua pipinya.
“Mau makan apa? Samudera ikut makan di sini, ya.” Pulung giring keduanya untuk masuk.
“Kayaknya harus pulang deh, tan. Soalnya mam—”
“Mami sama papi kamu ada pertemuan mendadak dengan klien. Jadi…” Pulung anggukan kepalanya dengan manis. “Kamu di sini. Mungkin sampai malam.”
“Beneran?”
Apa begitu, ya, mereka yang sedang jatuh cinta suka lupa daratan?
Belum-belum, ada binar kegirangan di wajah Samudera yang Pulung tangkap. Dan Naomi yang bergumam ‘yes’ sangat pelan tertangkap rungu Pulung.
“Kalau gitu… mau makan apa?”
“Delivery saja mama. Mama nggak boleh capek-capek. Nanti papa marah.”
“Oke. Mama lagi pengen makan ayam geprek. Kalian mau di samain atau beda.”
“Omi mau bubble tea ma sama zuppa sup. Dera mau apa?”
“Samain kayak punya tante.”
Lewat aplikasi kenamaan dengan logo beken. Jari Pulung berselancar bebas dan cepat.
“Kalian mandi gih. Samudera bawa baju ganti nggak? Atau mau pakai kaosnya papa Omi?”
Apa nggak tenggelam?
“Ada tante.”
“Kamar mandinya di samping dapur, ya.”
Pulung masuk ke kamarnya yang ada di sisi kiri setelah ruang keluarga. Sedang Naomi menuju lantai dua di mana kamarnya berada dan Samudera yang memasuki kamar mandi sesuai interupsi dari Pulung.
***
[Dia pergi …]
Pulung tertegun di tempatnya. Di pinggiran ranjang biasa tubuhnya berbaring. Dan mata gelapnya menatap sebelah sisinya yang kosong. Ada Maharaja Askara—biasanya—di situ karena memang di situ tempatnya berada.
[Dan aku tak bisa melakukan apa pun …]
Hanya diam. Itu saja keseharian Pulung sejak terakhir kali berbincang dengan Maha. Entah sudah benar-benar memberikan maafnya atau sekadar perkataan semata. Tak banyak yang bisa Pulung lakukan selain diam dan menunggu.
[Seperti orang bodoh, aku dengan hampa berdiri di sini.]
Untuk apa sebenarnya tubuh Pulung masih di sini. Bukankah seharusnya pergi menjadi jawaban paling jelas untuk dirinya lakukan?
Jadi kenapa malah bertahan?
[Aku menatapnya, semakin menjauh. Dia menjadi sebuah titik kecil dan kemudian menghilang.]
Ah … jika boleh meminta, Pulung takut akan hal itu. Maha sudah sangat jauh dari jangkauannya. Dan membayangkan tegap tubuhnya yang menghilang dari pelupuk matanya … sepertinya Pulung akan hancur lebur (sekali lagi).
[Akankah ini menghilang setelah berjalannya waktu?]
Tangan Pulung beranjak mengusapi perutnya yang sudah kian membesar. Perkiraan dokter tak lama calon buah hatinya yang pertama bersama Maha akan lahir. Sayang, kehadirannya tak bisa di sambut lengkap layaknya anak-anak lain di seluruh belahan dunia.
Seperti ada yang menyayat ulu hatinya. Pulung merasakan kesakitan tak bertuan. Bahwa anaknya secara tidak langsung telah tertolak.
[Aku mengingat masa lalu. Aku mengingatmu.]
Jika sekali lagi boleh peotes. Pulung ingin kembali ke masa lalunya saja. Sebelum dirinya menikah dan mengenal Maha. Sebelum menjadi janda untuk pertama kali dan mengenal Ardika Aksara. Untuk kemudian menjejaki ruang persidangan.
Itu semua mengingatkan Pulung akan Maha dan bagaimana lelaki itu memintanya.
Menyesakkan.
[Jika kamu … jika tidak terlambat; tidak bisakah kita kembali bersama-sama?]
Mustahil.
Takkan ada hasil yang mengarah pada kebersamaan jika keadaannya sudah segmenting ini. Juni lebih penting di mata Maha sedang Pulung hanya barang bekas yang tak bernilai sepeser pun.
[Jika kamu berjuang sepertiku; bisakah kita membuat segalanya sedikit lebih mudah?]
Cinta itu bukan memakan hati, bukan membawa tangis, bukan membuat putus asa. Tetapi cinta itu menguatkan hati, menghidupkan pengharapan.
Lantas, kenapa Pulung masih segigih ini untuk terus bertahan?
Bukankah tidak masalah dengan status jandanya yang sudah dua kali dirinya sandang?
Sekali lagi … takkan menimbulkan masalah, kan?
[Aku seharusnya memperlakukanmu lebih baik ketika aku memilikimu.]
Pulung hanya manusia biasa yang banyak menorehkan kesalahan. Tidak sempurna dan kekurangan menuju kecacatan tercetak jelas di seluruh catatan kehidupannya. Pulung amat kekurangan dalam segala hal karenanya membutuhkan sebuah pelengkap yang telah mematahkan sayap-sayap harapannya.
Sudah tidak ada jalan baginya untuk melangkah.
Semuanya buntu.
***