[Bagaimana denganmu?]
Ya. Ini mengenai Maharaja Askara. Yang tengah galau maksimal di ruang kantornya. Waktu sudah malma. Sinar mentari yang menemaninya duduk berjam-jam lalu telah beranjak. Berganti dengan kelamnya malam bertabur bintang.
Aneh. Curah hujan sedang tinggi-tingginya. Tapi mala mini kerlipan bintang menghias angkasa. Padahal, siang tadi sempat hujan deras dengan guntur menyambar-nyambar.
[Apakah kamu sungguh baik-baik saja?]
Tidak. Jika boleh Maha jujur.
Tidak ada yang baik-baik saja dari dirinya. Hidupnya kacau. Jam tidurnya tidak tertempat pada waktu yang seharusnya. Makannya tidak lagi berselera seperti sebelumnya. Kini berganti dengan kehampaan yang tiada ujungnya.
[Menduga perpisahan kita adalah ketetapan.]
Ah … lagu lawas ini sangatlah cocok dengan suasana hati Maha yang galau maksimal. Ada tangis tertahan yang hendak meluruh namun bercokol gengsi. Ada kata yang ingin di curahkan. Ada sanggahan demi sanggahan guna membela dirinya bahwa ‘aku tidak berbuat yang demikian’.
Tahu kata percuma?
Begitu kiranya yang Maha rasakan saat ini. Kesalahpahaman yang telah dirinya ciptakan merebak cepat bagai virus. Membuat beberapa orang menilai bahwa memang dirinya pelakunya.
Diam lebih sakit daripada banyak bicara.
[Aku harus melupakanmu tapi itu tidak mudah.]
Karena Pulung tidak pantas mendapat perlakuan buruk seperti ini. Maha tahu dirinya bersalah dan baiknya memang mengakui kesalahannya. Bukan malah memperparah keadaan.
Bisa-bisanya hatinya kepincut wanita lain di saat Pulung sedang berjuang mengandung calon anaknya.
Bisa-bisanya otaknya berpikir sesaat untuk kesenangan semata yang kini baru terasa sesalnya. Bahwa di jauhkan dari tempatnya pulang, sungguh bukan jalan yang bisa dirinya pijaki.
Apa, sih, kelebihan Juni yang tak di miliki Pulung?
Iya, apa?
Apa, sih, baiknya Juni yang tidak menempel di diri Pulung?
Iya, apa?
Sekarang, semua itu lepas begitu saja. Baik yang Maha genggam maupun yang di genggamnya. Semuanya telah pergi dan itu karena sikapnya yang pengecut. Itu karena dirinya yang terlalu egois dalam mengambil tindakan yang tidak semestinya.
Kenapa Maha sangat bodoh seperti ini?
Hujan tiba-tiba turun.
Bola mata Maha bergerak melihat tetes demi tetes yang membasahi kaca tebal ruangannya. Dan gemerlap bintang di angkasa telah hilang tertelan awan gelap.
[Pada hari di mana hujan gerimis turun seperti hari ini … Aku mengingat bayanganmu.]
Senyum Pulung yang lebar dan tulus. Tergambar jelas di kaca ruangannya. Sedetik menatapnya, ingatan Maha melayang pada hari itu. Pulung yang menunggunya dengan sabra. Hujan yang deras tidak membuat mulut mungilnya menggerutu. Serta permintaan maaf yang Maha ucapkan karena terlambat datang. Tidak masalah. Pulung seluas itu dalam menyayanginya.
Jadi, kenapa Maha bertindak nyeleweng sejauh ini?
[Kenangan kita yang diam-diam kumasukkan ke dalam laciku … Aku mengambilnya dan bernostalgia sendirian.]
Maha ingin pulang. Kembali ke dalam pelukan hangat dan bercengkerama pada banyak hal. Untuk di bagi pada Pulung agar semuanya lekas berakhir. Ini bukan kehendak Maha. Bukan juga keinginan Maha secara murni. Tapi … sebelum seluruh bukti yang dirinya kumpulkan dan memasuki rumahnya. Hanya akan meninggalkan kesia-siaan belaka.
[Mengapa aku tidak tahu … tentang beratnya kesedihan yang datang bersama perpisahan?]
Tolong jangan.
Tidak semudah membalikkan telapak tangan atau seenteng kalimat andalan; mati satu, tumbuh seribu. Yang Maha alami justru; hancur satu, tumbuh seribu kesedihan. Karena bagaimana pun Maha tetap memiliki kelemahan bahwa tidak mudah membalas kejahatan mereka yang telah menjadikan dirinya tempat pengambilan uang.
Maha tidak bisa mencurangi mereka untuk kebaikan dirinya sendiri dan keluarganya. Maha memilih mengorbankan apa yang tidak sepatutnya di jadikan sasaran demi keselamatan satu sama lainnya. Maha terlalu mudah menyetujui untuk memberikan maaf sehingga mereka berbuat semaunya. Tanpa sadar telah merobek hati lain yang tidak terlibat sama sekali.
Sudah Maha temukan labuhan cintanya. Tepat dan pas takarannya. Layaknya kita menunggu bus. Menunggu di halte yang tepat dan naik nomor bus dengan tujuan yang tepat. Begitulah cara Maha menemukan cinta.
***
“Mamaa …” Baraja berlari masuk ke dalam pelukan Pulung. “Takut.”
Petir yang menyambar-nyambar adalah ketakutan Bara. Dan sejauh ingatan Pulung, selalu Maha yang menemani putranya tersebut.
“Bobok sini sama mama.”
“Kangen papa, ma.” Rengek Bara. Dan Pulung tak bisa melakukan apa pun selain melungsurkan ponselnya. “Boleh, ma?” Pulung angguki. Bara heboh sendiri.
Mendial nomor dengan panggilan tercepat. Tak lama sambungan nirkabel itu menyuarakan vokal Maha yang serak.
“Papa …”
Pulung tersenyum senang.
“Kangen papa. Takut sama petir.”
“Abang tukang ngadu, ya.” Ejek Pulung.
“Mama dosa kalau nguping.”
“Oh tidak bisa.”
“Papa pulang dong.” Bara abaikan Pulung yang mendengus.
Serius… kadang bingung juga. Bara ini anaknya siapa kok bisa patuh banget sama Maha.
“Yeay. Sayang papa banyak-banyak.”
“Kenapa?”
“Mama kepo.” Begitu seterusnya. “Papa mau pulang bawain abang donat nanti.”
“Idih matre abang mah.”
“Papa, kan, baik mama.”
Iyakan saja dulu. Berdebat capek Bund, butuh tenaga.
“Abang mau nunggu di mana?”
“Sini mama sini. Jadi nanti boboknya sama mama sama papa juga.”
Akan menjadi canggung berkepanjangan jika itu terjadi. Pulung dan Maha sudah tidak Bersama selama beberapa bulan meski sesekali suaminya itu pulang.
Rasanya akan sangat aneh kalau tiba-tiba ada di atas ranjang yang sama walau Bara sebagai penengah.
“Kayaknya bobok di kamar abang saja, deh. Dedeknya suka rewel kalau malam. Mama jadi kebangun. Entar abang keganggu. Kan besok sekolah.”
“Itu beneran?”
“Papa?”
Bara berlari secepat kilat dan di sambut dalam pelukan yang menjadi kerinduannya selama beberapa hari ini.
“Aih, makin berat nih jagoan papa.”
“Mama nggak bisa bobok sama kita.”
“Itu beneran?” Sekali lagi Maha lemparkan tanya.
Tidak ada niat untuk Pulung menjawab. Hanya anggukan dan kelopak matanya lekas terpejam.
“Jadi boboknya di kamar abang?” Bara mengangguk mantap. “Yuk bobok.”
***
Bertahun-tahun bertahan …
Pukul dua dini hari Pulung membuka matanya. Pikirannya carut marut tidak tahu karena apa.
Namun yang lebih membuatnya terkejut adalah sepasang netra bening yang sedang menatapnya intens.
Maha tersenyum dan menjulurkan tangannya. Mengusap dahi Pulung yang berkerut-kerut. Hebat. Belaian seperti itu ampuh mengusir sakit kepalanya yang mendera.
“Kenapa nggak pernah bilang?”
“Apa?” Mata Pulung terbuka kembali setelah terpejam beberapa menit.
“Aku salah banget sudah lakuin ini.” Dari dulu, Maha telah menunggu Pulung untuk mau membuka hatinya. Dan setelah sambutan perasaan yang Maha curahkan terbalas. Justru perlakuan buruk yang Maha berikan. “Aku sadar ini salah. Aku kayak main-main banget soal hubungan kita. Padahal aku yang kekeuh buat meraih kamu. Maaf … maaf, Sayang. Cuma itu yang bisa aku lakuin.”
“Kita serius pisah?”
“Enggak! Jangan. Kita nggak bisa ambil pilihan itu. Aku mohon.”
Bahwa seharusnya Maha paham … dirinya patut mendapatkan perlakuan yang seperti ini dan Pulung berhak mengambil langkahnya. Untuk berpisah, bukan malah bertahan.
***