Tidak pernah Maha rasakan jarak sejauh ini dengan Pulung. Setelah hengkang dari rumah di hari itu dan memilih jalannya sendiri. Maha tidak diizinkan menebak atau pun mengetahui teka-teki apa yang sedang di rancang oleh Pulung.
Asal jangan perpisahan yang menyedihkan. Itu saja harapan dari panjatan doa-doa Maha.
Karena sudah cukup untuknya di hokum dengan rasa sedih, kehilangan, serta bersalah atas apa yang telah dirinya lakukan.
Maha menyesal telah melakukan ini. Menyakiti dan meninggalkan Pulung yang masih tetap bertahan untuk berharap serta mendoakan yang terbaik untuk dirinya.
Tapi … bukankah begitu yang Namanya pengorbanan?
Ada perasaan yang rela untuk terluka dan di sakiti. Mereka menyebutnya cinta.
Meski ini terdengar kejam, Maha akui kebenarannya. Letak atau level dari seseorang yang mencintai tentu luka yang mengiringi.
Atau begini:
‘Ketika kamu mencintai seseorang terlalu dalam maka setiap masalahmu juga luka yang mengiringi akan sama dalamnya. Sebab kamu menggantungkan semua harapan yang tahu artinya itu percuma.’
Tidak selamanya orang bisa membalas sama besarnya dengan apa yang kita lakukan.
Tidak selamanya orang yang berada di sisi kita akan selalu bersama kita dan menjadi milik kita.
Nyatanya … dari sekian banyaknya arti cinta dan mencintai. Ada satu perasaan yang di namakan ketenangan dan kenyamanan di mana keberadaan kita diakui dan dihargai. Bukan sekadar ada untuk diapresiasi semata.
“Nggak seharusnya mas terlalu sibuk.”
Kepala Maha menoleh. Semalam, kembali ke tempat tujuan yang sebenarnya ternyata masih melingkupi ruang dingin di hatinya. Dan kehadiran Pulung di pagi hari dengan perut besarnya … sungguh keajaiban tak bertepi untuk Maha syukuri.
“Anak-anak mana?”
Oh, lupa. Ini hari sekolah dan Maha bangun terlalu siang.
“Mereka bergilir buat tidur di sini.”
Ekspresi Pulung ini baiknya Maha beri nilai berapa?
Pulung masih tetap tersenyum meski perilaku Maha kepadanya tidak benar-benar baik. Pulung masih mau membukakan pintu untuknya meski tak jarang Maha kembali. Pulung tak mengungkit perihal sikapnya yang pengecut meski itu tak bisa di benarkan.
Bukan Maha yang bertindak. Tidak ada juga niatan menyeleweng seperti yang terjadi beberapa bulan ini. Ini murni tindakan defensif Maha untuk sementara dalam melindungi keluarganya.
Salah?
Maha tahu itu tak bisa di benarkan. Namun sekali lagi, bertindak terlalu gegabah, hanya akan membawa dampak buruk bagi keluarganya.
“Juni gimana? Kandungannya?”
Maha diam. Bibirnya terkatup rapat. Itu adalah sumber masalahnya. Bukan milik Maha sama sekali bukan.
“Ada yang harus mas omongin. Tapi …” Mata Maha terpejam. “Ini nggak kayak yang kamu pikirin.”
“Aku dengerin.”
Selalu sebijak itu Pulung dalam menanggapi omongannya.
“Maaf,” kata Maha. “Bikin keributan kayak gini.”
“Ayo kalau mau cerai.”
“Yang …” Mata Gema membesar. “Please.” Mohonnya.
“Kita nggak berhasil. Lebih tepatnya hubungan kita nggak berhasil. Kita nggak di jodohkan buat bareng. Mas sadar nggak?” Pulung beri jeda dengan menyesap the hangatnya. “Kita gagal.”
“Dan aku minta satu kesempatan. Satu kali saja, Yang. Aku mohon.”
Bahu Pulung mengedik. “Mungkin aku cuma sekadar datang buat ngasih sedikit pelajaran biar bisa kamu ambil dan begitu sebaliknya. Jadi, ayo akhiri saja.”
“Enggak!” Maha terus bersikeras. “Kita nggak seharusnya pisah. Kita nggak boleh pisah kayak gini bahkan sesudah masalah aku selesai. Aku mohon.”
Senyum Pulung berubah menyeringai. “Mau tahu sesuatu? Meminta dua kali sama halnya dengan mengemis. Jadi berhenti saja. Mas nggak perlu memohon atau mencoba pertahanin apa yang sudah kita bangun. Kita nggak cocok. Percaya deh, mas bakal baik-baik saja tanpa aku atau pun anak-anak. Jangan lemah.”
Ucapan Pulung tidak ada nada menyakitkan yang mengharuskan ada jejak tertinggal. Tapi tetap saja di rungu Maha itu sangat kejam.
“Aku sudah di posisi paling buruk ketika mas tinggalin. Kesepian dan pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi otakku: ‘kenapa? Salahku di mana? Aku mengandung anaknya dan ini murni terjadi pada semua wanita hamil di luar sana. Bagian mana yang salah?’
“Itu nyakitin kalau mas mau tahu. Lebih sakit lagi waktu anak-anak lihat perilaku kamu yang nggak patut buat di lihat. Kamu ingat dan yang selalu bilang kalau mereka nggak boleh mencontoh apa yang sudah kakek dan om-nya lakuin. Tapi mas …?”
Sejenak mengambil napas untuk kemudian Pulung lanjutkan, “Aku pernah mau bilang kalau sampai kapan pun bakal di sini. Nunggu kamu pulang dan sadar akan semua yang kamu lakuin. Terus aku ingat … Kamu tahu aku di sini, kamu ngelihat aku di sini. Tapi milih buat nggak peduli. Yang lebih di sayangkan lagi, ternyata aku juga manusia biasa yang punya batas kesabaran dan kekuatan. Makanya sekarang aku lepasin kamu. Kamu bisa bebas memilih buat bareng sama siapa dan mau ke mana.
“Asal untuk kita mas (terutama kamu) aku bisa lebih bersabar dan melapangkan dadaku seluas samudera. Asal untuk kita (terutama juga kamu) aku letakkan ego di bawah kakiku. Asal untuk kita (dan itu juga masih berlaku buat kamu) maafku nggak ada batasnya.”
Self reminder yang selalu Pulung terapkan akhir-akhir ini cukup memukul mundur segala pertahanannya. Bahwa mungkin:
‘Maha tidak mencintainya. Namun hanya membutuhkannya. Mungkin Maha tidak mencintainya. Hanya terbungkus perasaan nyaman sesaat untuk lekas mengambil keputusan menikahinya. Maha tidak mencintainya. Hanya senang dengan cara dirinya bercanda dan mencari topik pembahasan. Maha tidak mencintainya. Hanya sedang kesepian ketika sedang menunggu sesuatu. Maha tidak mencintainya. Tidak!’
“Kamu anggap aku apa selama ini?”
Apakah tidak salah?
Maha melontarkan tanya yang jelas-jelas lebih pantas mulut Pulung yang mengucapkan.
“Anggap saja … yang aku lakuin kemarin-kemarin dan sebelum perkara ini mencuat, semata-mata buat bikin mas bahagia. Soalnya, pada akhirnya kita memang harus saling berjauhan. Maaf mas kalau ternyata aku lalai mengemban tugas. Maaf karena memberikan kehidupan yang nggak layak dan jauh dari kata nyaman. Sekarang, aku cuma bisa diam dan nerima semua keputusan mas.”
“Walaupun banyak luka?” Pulung angguki dengan mantap. “Kamu nggak mau dengar penjelasan aku?” Tidak Pulung jawab entah untuk menolak atau pun menerima. “Oke.”
Begitu saja. Semuanya berakhir dalam satu tarikan napas. Dan seolah semesta memberi dukungan untuk doa-doa yang telah di panjatkan. Pulung melonggarkan dadanya yang sesak maksimal.
‘Aku memblokirmu (Maha) dengan satu ketukan jari. Tapi sejak hari ini aku putuskan untuk melepaskan … saat itu juga aku merindukan dan terus memikirkanmu. Aku seperti sekarat setiap malamnya kala di mana otak ini membayangkan ‘apa yang tengah kamu lakukan’. Rasanya perih sampai aku tak mampu untuk menahannya lagi.
‘Tetapi egoku yang menggunung serta merta menjadi masalah. Di mana aku enggan untuk membebaskanmu dan aku memilij untuk tetap memenjarakanmu di susunan pikiranku. Bukankah aku amat bodoh?
‘Takutnya … jika aku benar-benar membebaskanmu, aku pun ketakutan untuk semakin kecanduan terhadapmu. Menjauh darimu bukan keahlianku. Meninggalkanmu juga bukan tujuanku selama ini. Aku selalu ingin egois dengan menyimpan dirimu hanya untukku. Aku sungguh-sungguh tidak bisa bergerak jika itu tidak bersamamu.
‘Dan meneteskan air mata setiap harinya dengan penuh kebimbangan untuk akhirnya memutuskan ini semua. Lagi dan sekali lagi … Aku kuatkan hatiku bahwa ini yang paling benar. Memelukmu seperti menancapkan duri di dadaku sendiri. Memiliki ternyata semenyakitkan ini. Entah aku yang sudah kebal untuk kata cinta. Entah kamu yang terlalu sulit untuk aku miliki atau memang Tuhan tidak menjodohkan kita.’
Dari Pulung Rinjani untuk Maharaja Askara.
***