'Terima kasih.’
Maha ucapkan dalam hati. Seruannya cukup menyayat hati. Hasil obrolan pagi bersama Pulung menemukan titik terang bahwa perpisahanlah yang diingini yang wanita.
Apa lagi yang bisa Maha lakukan selain pasrah?
Diam pun terasa salah. Mengelak dan menyangkal tak menjadi sebuah pembelaan. Pada akhirnya Maha menyerah.
‘Untuk kesempatan mengenalmu. Berada dalam buain cintamu.’
Dari Maharaja Askara untuk Pulung Rinjani.
Yang detik di mana langkah kakinya beranjak dari rumah yang sesungguhnya tempat berpulang. Bumbungan dalam hatinya masih menggaungkan cinta untuk Pulung. Lantang dan kuat. Seruan cinta itu tak berhenti sekali pun Maha mencoba mengalihkan.
‘Bersamamu adalah salah satu anugerah terbesar dalam hidupku.’
Maha menemukan arti kehidupan sejak awal mengenal Pulung.
Perempuan muda yang enerjik dan penuh semangat. Terlalu positif untuk menilai segala sesuatu tentang hal-hal baru. Tak ada nilai minus dalam diri Pulung. Itu mengapa Maha begitu getol memuja sang wanita pemilik hatinya. Yang sayang telah dirinya hancurkan secara perlahan.
‘Cinta memang tidak perlu ditemukan.’
Begitulah kata para pujangga. Pada akhirnya ada gayung bersambut menggenggam jari-jari Maha. Untuk saling bertautan dan cinta yang mempertemukan keduanya.
‘Terima kasih.’
Sekali lagi Maha menggumam. Liquid beningnya jatuh setetes demi setetes mengiringi kedipannya. Ada perih yang tertinggal namun setimpal untuk luka-luka yang menganga.
“Cowok kok nangis.” Vokal Ardika mnegudara di samping kemudinya. “Kalau tahu salah paham, kenapa nggak di kasih penjelasan biar semuanya nggak berlarut-larut.”
Tidak tahu sejak kapan saudara satu ayahnya ini ada di sini. Maha hanya ingat setelah selesai berbicara dengan Pulung, tangannya mendial nomor Ardika untuk diajak berbincang serius. Dan ini yang bisa Maha ungkapkan.
“Belum waktunya.”
Ardika menghela napasnya gusar. “Bakal lama kalau nunggu waktu yang pas. Kalau sampai surat pengajuan cerainya masuk ke pengadilan … Kamu bakal kelimpungan buat ngatur semuanya.”
“Justru itu yang di mau Juni.”
“Gila!” Ardika tak habis pikir. Bagian mana yang harus di perjuangkan untuk wanita semacam Juni? “Awal kisahnya gimana, sih?”
Maha diam. Tidak menjawab secepat laju kereta meski Ardika terus mendesak.
“Aku sama papa bisa ngasih solusi. Tapi kalau cerita awalnya nggak bisa kamu ungkapin, bakal susah ke depannya.”
“Ini sulit.”
Alah! Ardika suka misuh-misuh kalau Maha sudah di posisi paling melownya. Sudah tahu nggak bisa pisah dari Pulung. Tapi tindakannya ngajak gelut.
“Kalau kamu punya bukti dan nggak nabrak suami Juni, lapor saja lah. Kan ada CCTV yang jadi jaminan sebagai bukti. Lapor kalau kamu di peras.”
“Ngomong doang Bara juga bisa.”
“Jangan bawa-bawa anak gue dong.” Ardika nyolot.
“Enak banget itu mulut!” Maha mendengus.
Adu mulut terjadi. Tidak ada yang mau mengalah jika itu mengenai Baraja.
“Gue, ya, yang adzani itu piyek sampai gue namain biar sama namanya kayak punya gue.”
“Amit-amit kalau sampai anak gue ngikutin jejak lu yang b**o itu.” Ardika menyerapah.
“Buset! Mulut lu asli akhlakless bang. Heran gue.”
Speechless. Itu yang Ardika lakukan. Pertama kalinya dalam sejarah hidupnya … di panggil ‘abang’ oleh Maha sungguh suatu kelangkaan yang sayang untuk di lewatkan.
“Harusnya, karena Pulung sudah paling sabra hadapi kamu … bukan begini caranya kamu ngebalas. Ada banyak cara untuk kamu menutupi kesalahpahaman yang berlangsung. Sebab menemukan dan ditemukan adalah dua hal yang berbeda makna,” kata Ardika pelan.
Tahu bahwa masa lalunya pun buruk, Ardika tidak ingin menghakimi. Mungkin nasihat ini bisa juga Ardika terapkan dalam kesehariannya. Agar bisa saling memahami hubungan macam apa yang sedang Ardika jalin bersama Dante.
“Kamu harusnya belajar perhatian dan makin sayang ke Pulung. Kenapa? Dia sudah berusaha sejauh ini untuk menerima kamu yang berarti menyingkirkan segala keluh kesah di masa lalu dan menutup semua traumana. Untuk kamu. Pulung belajar memahami kamu selama ini.”
Tidak Maha tampik. Akan Maha ingat selalu ucapan Ardika di hari ini agar setelah semua masalahnya dengan Juni dan keluarga wanita itu usai. Bisa Maha jaga lebih peran dalam hubungannya dengan Pulung yang sedang berlangsung.
“Makasih bang.”
Senyum Ardika terbit. “Oke. Kamu harus sadar mulai sekarang kalau nggak mau dianggap keterlaluan. Selesaikan dan pulang. Cuma itu jalan paling aman sekarang ini.”
***
Lira datang. Menemui Pulung yang katanya hendak mengontrol kandungan siang ini.
“Berapa lama lagi?” Lira usapi perut besar Pulung dengan mata berbinar-binar. “Mama excited banget nyambut yang ini. Tapi—”
“Ma …” Pulung memotongnya cepat. Tahu ke mana arah lanjutan yang ingin di sampaikan mama mertuanya. “Nggak semua yang kita lihat salah tapi juga nggak benar soal yang kita dengar.” Jeda sejenak. Tatapan Pulung menerawang ke depan. “Ada banyak hutang penjelasan yang akan Maha sampaikan.”
“Mama percaya,” jawab Lira. Tahu bagaimana rasanya hamil tanpa suami? Lira pernah merasakan hal itu dan berdoa agar wanita di luar sana tak merasakan apa yang pernah dirinya rasakan. Sayang … terkadang Tuhan dan rencananya tak pernah bisa sejalan dengan inginnya manusia.
“Kecewa, sakit, luka, dan segala jajaran tentang masa lalu akan berakhir pada waktunya. Ini soal waktu dan tentang dia—” Maha, Pulung sambung dalam hatinya. “Seperti sungai yang mengalir. Aku ambil jalan buat hidup aku ngalir kayak sungai ma.”
“Nggak ada sesal?” Pulung menggeleng. “Mau tahu perasaan terhebat seseorang itu apa?”
Waktu yang tersisa Pulung ambil untuk mendengarkan curahan-curahan sang mama.
“Yaitu saat kamu mencintai seseorang dengan segala rasa tenang dan jauh dari rasa takut untuk kehilanga. Itu adalah hal terbaik di mana hatimu pun bisa menerimanya. Atau ketika ambisi dan egomu bertarung; perasaan yang tumbuh, perasaan yang selalu ingin melihatnya bahagia, meski kamu bukan kamu penyebabnya.”
Bagi Pulung, hidupnya adalah tentang Maha. Jadi dengan adanya keputusan untuk menyudahi semuanya, Pulung berharap ada kehidupan yang lebih layak untuk Maha.
Sesungguhnya, pamit meninggalkan seseorang yang masih kita sayang amatlah sulit.
Seperti pagi tadi yang Pulung lakukan sekadar berkata ‘say goodbye’ terhadap Maha. Sakitnya bukan main.
Teruntuk semua wanita di luar sana. Sedikit ingin Pulung sampaikan:
‘Menikahkah dengan pria yang mencintaimu lebih dari kamu mencintainya.’
Pria yang membuatmu merasa hangat, aman dan terlindungi … maka dialah pria yang patut kamu nikahi.
“Jadi berapa lama lagi buat dedek bayinya lahir?”
Pulung bahkan sudah lupa dengan pertanyaan pertama mamanya.
“Nggak lama, ma. Kalau nggak ada halangan, pertengahan bulan ini.”
“Cewek atau cowok.”
“Kejutan.”
Ya, alih-alih melihat hasil USG yang dokter pun sering menanyakan hendak melihat kelaminnya atau tidak. Pulung memilih untuk membuatnya sebagai bentuk rasa penasarannya. Jauh lebih baik begitu.
***