Pulung duduk terpekur di sore hari. Setelah satu hari penuh habis waktunya bersama sang mama mertua. Kini, duduk sendiri di temani senja sore yang eksotis … senyum Pulung merekah.
Lantunan lagu lawas milik penyanyi Indonesia yang kondang pada masanya Pulung play. Lembut suaranya membuai ingatan-ingatan Pulung yang tergerus zaman.
[Sejak ia pergi dari hidupku … Kumerasa sepi …]
Sama persis seperti yang tengah Pulung alami saat ini. Maka dari itu, tembang ini sangat pas di dengarnya.
[Dia tinggalkanku sendiri di sini … tanpa satu yang pasti …]
Entah keputusan apa yang akan Maha ambil setelah ini. Pulung masih menunggunya karena ini tak bisa di ambil secara sepihak. Ada banyak yang harus di pertimbangkan termasuk anak-anak mereka ke depannya.
[Aku tak tahu harus bagaimana … Aku merasa tiada berkawan … selain dirimu … selain cintamu …]
Ah, ini benar sekali. Ketiadaan Maharaja Askara di sampingnya sungguh membuat Pulung bingung hendak bagaimana. Semua jalan yang telah Pulung tetapkan menjadi buntu jika itu bersangkutan dengan Maha.
Bahkan kini, sosoknya yang tak hadir pun bisa sangat memengaruhi Pulung.
Bukankah cinta keduanya sudah begitu kuat hingga ke akar?
[Kirim aku malaikatmu biar jadi kawan hidupku …]
Mestinya Maha tidka berbuat demikian. Agar masalah sepelik ini tidak menimpa rumah tangganya. Terlebih telah terbentuknya sebuah keluarga yang diidam-idamkan.
Dan mestinya Maha punya pemikiran yang lebih Panjang sebelum bertindak. Apakah itu berdampak baik atau buruk untuk semua orang yang terlibat dengannya.
[Dan tunjukkan jalan yang memang kau pilihkan untukku …]
Karena maaf yang Maha ucapkan, nyatanya tidak memberi dampak apa pun. Entah untuk waktu yang terbuang sia-sia bisa kembali seperti sedia kala atau untuk hati yang terlanjur tersakiti sembuh seperti sedia kala.
Pun dengan tidak adanya jalan yang Maha pilihkan … Pulung gamang dan kacau ketika hendak melangkah.
[Kirim aku malaikatmu karena kusepi berada di sini … dan di dunia ini aku tak mau sendiri …]
Walau begitu, Maha membuat Pulung sadar atas kemampuan hatinya bila ingin kembali mencintai. Terkadang, berkali-kali terjatuh membuat sebagian orang sadar bahwa tidak perlu memaksakan kehendak atas nama cinta.
Sampai tak terasa—sekali lagi—air mata Pulung kembali menetes untuk Maharaja Askara. Hal yang tak seharusnya Pulung lakukan untuk melukai dirinya sendiri.
Bukan maksud Pulung tidak tahu diri. Sudah disakiti masih saja bertahan. Sudah ditinggalkan masih saja dipikirkan. Tidak demikian inginnya Pulung. Ini murni karena banyaknya pertimbangan yangan harus di pikirkan.
Sayangnya … dari awal Pulung tahu bahwa dirinya dan Maha memang akhirnya akan saling meninggalkan. Itu terbukti dengan Maha yang sudah hengkang sedang Pulung tidak.
Itu sama saja dengan Pulung yang merendahkan dirinya untuk memohon kepada Maha. Akan hal-hal sederhana seperti cinta, perhatian, kasih sayang dan semacam timbal balik.
Berhenti. Jika bisa Pulung lakukan detik ini juga, akan Pulung lakukan. Tapi pengaruh Maha sungguh luar biasa.
Dalam bahagia, Pulung tempatkan Maha di urutan pertama. Bersama Maha, Pulung merasa seberuntung ini ketika menjadi seseorang. Oleh sebabnya, dicintai dengan baik, rasa khawatir yang di jaga, dan tidak pernah Maha biarkan merasa berjuang sendirian.
Itu dulu.
Sekarang tidak ada lagi hal demikian.
***
Bahtiar Gema menatap putranya tajam. Sedang yang di tatap hanya menampilkan cengiran khasnya. Aksinya kali ini benar-benar harus berhasil. Rasanya … Samudera tidak bisa jika tidak Bersama Naomi.
Ugh terdengar sangat bucin sekali, bukan?
Namun begitu kondisinya.
Samudera benar-benar ingin berada di samping Naomi Aksara 7/24 jam. Kalau maminya—Alara Senja—mendengar istilah kayak gitu, habis sudah Samudera.
“Bisa-bisanya kamu, bang,” kata Gema mengembuskan napasnya. Putra sulungnya sungguh tiada akhlak. “Di sekolah, kan, juga ketemu.”
“Beda papi,” sahut Samudera cepat. Gema melototkan matanya tidak menyangka sang putra berani memberi jawaban kepadanya terlampau cepat. “Gimana, ya … Abang tuh maunya dekat-dekat Naomi saja.”
“Mi …” Gema memanggil istrinya yang tengah asik dengan putri kecilnya.
“Apa?” Sahutan dari ruang keluarga tak kalah nyaring. Tak lama sosok Alara dan Mentari Senja mengelilingi ruang siding. “Jangan teriak-teriak.”
Gema berdecak. Melipat kedua tangannya.
“Ada obrolan serius, lupa?”
“Anak papi rewel, lupa?”
Interaksi kedua pasangan beda usia itu terbilang unik. Alara yang enerjik dan Gema yang terkesan mengikuti. Tidak heran jika sematan b***k cinta pun melekat di diri Bahtiar Gema. Yang kini menurun kepada putra sulungnya.
“Abang kenapa lagi?”
Sebagai ibu, peran Alara sangat di butuhkan. Dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Tidak hanya suaminya saja yang memiliki tugas mendayung ke mana perginya kapal berlayar. Alara pun memikul tugas yang sama agar laju kapal tidak oleng. Dan menentukan ke dermaga mana mereka akan memberhentikan pelayaran.
“Mi …” Jeda sejenak. Bukan tidak tahu perangai sang mami. Samudera terbilang lebih dekat dengan Alara ketimbang Gema. Dan tahu sebagai putra kesayangan … takut-takut Samudera membuat maminya kecewa.
“Ngomong saja. Mami bakal setuju kalau memang itu jalan terbaiknya—”
“Mi …” Gema keberatan. Wajahnya sudah sepet ketika Alara menggulirkan kelereng beningnya.
“Kita dengarkan dulu pi. Jangan asal mencegah kalau belum bisa memberi solusi.”
Ini perubahan drastis seorang Alara Senja. Wanita yang Gema nikahi sekian tahun yang lalu nyatanya sungguh sebuah anugerah jika boleh di katakan begitu. Alara benar-benar bertransformasi menjadi sosok yang bijak dan cerdas dalam mengambil keputusan.
“Abang pengen tinggal di dekat Omi.” Oke, Alara tahu siapa Omi—Naomi lebih tepatnya. “Kita satu kelas dan sering jadi satu kelompol dalam belajar. Maunya abang fokus juga buat belajar bareng.”
“Jadi?” Alara serahkan Mentari yang mulai rewel kepada Gema. Putri keduanya ini lebih menempel pada papinya timbang Alara. “Mau kost?” Samudera mengangguk semangat. Alara terlihat berpikir. Sebelum menjawab, “tugas abang sudah jadi?”
“Beres mami.”
“Oke. Sekarang bobok gih.”
“Mami …” Ragu-ragu untuk bertanya.
“Tidur. Minggu nanti kita berangkat ke tempat Omi buat cari kost di dekat sana.”
“Aku sudah nggak ada nilainya ya, Ra?” Gema merajuk namun nadanya terdengar sangat serius.
“Papi harusnya bangga kalau anaknya sudah mau mandiri sejak sekarang. Seenggaknya, itu bekal buat Dera ke depannya. Dia nggak selamanya tinggal sama kita. Dia … setelah ini akan memasuki babak serius menentukan kehidupannya.
“Lagian pi, kita ngasih uji coba ke Dera. Kuat nggak kira-kira hidup sendiri jauh dari kita. Sebulan deh pi. Kalau dia nggak kuat, kita kasih penegasan buat aturan baru di rumah. Tapi kalau dia kuat … jangan halangi yang sudah di jadikan pilihannya. Papi wajib kasih Dera dukungan.”
“Kamu terlalu manjain dia, Ra.”
“Anak sendiri bang. Bukan anak tetangga atau aku pungut dia dari tempat sampah—”
“Amit-amit, Ra.” Gema mengibaskan tangannya tak suka dengan ucapan sang istri.
“Ingat, kan, kayak mana aku menggila waktu hamil Dera.”
Tidak akan Gema lupakan.
“Kirim Dera ke tempat yang dia mau pi. Jangan jadi penghalang. Jangan jadi egois.”
***