Bahtiar Gema duduk terpekur di meja kerjanya.
Sepanjang malam hingga pagi menjelang, pikirannya terus tertuju pada keputusan sang istri untuk putra sulungnya.
Entah ini benar atau tidak, ada sedikit ketidakrelaan di diri Gema berpisah dari sang putra. Tapi merujuk pada ucapan Alara, ada baiknya memang di persiapkan sejak sekarang. Agar ke depannya, tidak menimbulkan kesulitan yang berjubel.
“Abang?”
Adalah vokal istrinya yang mendengung bak lebah di musim kawin. Gema mendongak dan mendapati eksistensi sang istri dengan raut wajah panik.
“Kenapa?” Gema jadi ikut-ikutan tegang sendiri.
“Lihat, deh.” Alara sodorkan seberkas map yang Gema yakini baru masuk pagi ini. “Aku nggak percaya.”
“Kenapa?” Gema ingat. Semalam tak ada tumpukan fail tersisa. Sebelum kembali ke rumah, sudah Gema pastikan bahwa seluruh pekerjaannya selesai. “Jangan di gigit!” Kebiasaan Alara sejak dulu tidak pernah berubah. “Jadi rusak, kan!?” Kuku-kuku cantik Alara yang biasa Gema rawat jadi tidak rapi.
“Ini genting abang.”
“Tahu. Tapi, Yang …” Sampai detik ini pun Gema tidak mengerti dengan cara pikir istrinya. Bertahun-tahun bersama. Mengarungi bahtera rumah tangga dan berada di bawah atap serta ranjang yang sama. Nyatanya tidak menjamin cara seseorang memahami pasangannya. “Ini urusan mereka.”
“Mentari juga tahu ini urusan mereka. Abang nggak punya bayangan?”
“Apa?”
Alara pukul bahu suaminya keras-keras.
“Sakit, Yang.”
“Bodo amat! Dasar nggak peka!”
“Abang, kan, kayak gini, Ra.”
“Gitu terus, iya, gini terus. Terus-terusin sampai abang punya rasa yang baru. Lelah hayati.”
Bengek! ☹
Istrinya sangat tidak berakhlak membuat Gema meringis. Kadang, Alara Senja melontarkan kalimat yang tidak jelas keabsahannya dan Gema hanya bisa maklum.
“Aku tuh mikirin soal anaknya bang.” Ceritanya memulai. “Naomi masih butuh bimbingan walaupun aku yakin salah satu di antara mereka nggak kehabisan akal buat ngerawat anak-anaknya dengan baik. Tapi, mereka yang berasal dari keluarga broken home, bukan nggak mungkin meninggalkan jejak trauma di masa depan.”
Paham ke mana arah obrolannya. Gema membawa tubuh Alara untuk duduk di sofa dekat meja kerjanya. Berkas tadi adalah fail gugatan cerai atas nama Pulung Rinjani untuk Maharaja Askara. Dan nama-nama itu tidaklah asing di telinga Gema.
Maharaja Askara sendiri seorang pengusaha tersohor yang cukup menyita banyak perhatian di Indonesia. Di usia yang terbilang muda, Maharaja sanggup menyabet nominasi pengusaha muda tersukses dengan inovasi yang kreatif.
Sedang Pulung Rinjani, mengikuti jejak dari nama sang suami. Jelas, ibu dari Naomi yang di puja oleh Samudera sungguh menyita khalayak publik dengan surat cerai ini.
“Aku memang nggak lahir dari keluarga yang sempurna.” Alara tatap mata suaminya intens. “Makanya aku cerewet dan tindakan aku terbilang nyebelin karena aku mau keluarga kita baik-baik saja.” Gema paham. “Bukannya aku nggak berani ngebuka pintu yang tertutup. Alih-alih nebak apa isi di baliknya, gajah atau semut. Aku lebih nyaman buat ngejalanin apa yang sudah aku ambil.”
“Pilihan kamu nggak salah, Sayang.” Respons Gema. “Kita sudah sejauh ini jadi anggap saja kalau keinginan Samudera buat ada di dekat Naomi karena ini. Dera ingin memberi dukungan dan bukan sekadar hiburan. Abang setuju kalau gitu.”
Banyak-banyak bersyukur harus Alara lakukan. Senang dan bahagia memiliki dan dimiliki oleh lelaki seperti Bahtiar Gema.
“Abang nggak nyeleweng, kan?” Mulut Gema terbuka dan tertutup lagi. “Aku dengar-dengar Maha itu selingkuh.”
“Engga, Sayang. Pertama, abang nggak ada niatan apa lagi mikir buat selingkuh dari kamu. Kamu lupa abang ini duda?” Bahu Alara mengedik. “Kedua, sebenarnya, Yang … ini salah paham.”
“Apa?” Alara penasaran maksimal.
Gema ambil berkas di map kuning yang tadi di bawa Alara.
“Ini nggak bisa kita proses.”
“Wae?”
“Kebiasaan kamu ini. Anak sudah dua juga.” Masih saja Gema suka protes perihal bahasa Alara yang melenceng dari KBBI.
“Kan artinya ‘kenapa’. Gitu saja abang rusuh.”
“Oke lanjut.” Gema skip dan membuka lembar demi lembar kertas yang tertera alasan gugatan. “Maha nggak ngelakuin hal yang salah semisal istrinya mau sabra.”
“Jangan bikin penasaran deh, bang.” k*****t! Suaminya suka melakukan hal yang demikian guna memancing jiwa kepo Alara.
Ada satu pemikiran yang hingga detik ini Gema pegang. Bahwa: lelaki sering kali merasakan sesal ketika pasangannya benar-benar telah pergi. Dan tidak hanya berlaku untuk si lelaki. Perempuan pun akan mengalami hal yangs serupa. Entah menyesal karena terlalu lama bertahan. Egonya, kesabarannya keyakinannya dan waktu yang perempuan berikan berkali-kali.
Pada dasarnya, kehidupan ini tak ada yang sempurna. Dari mana asalmu, itu tak memberi jaminan terbentuknya sebuah kehidupan yang lengkap. Semuanya memiliki takarannya masing-masing. Ketidaksempurnaan itu selalu ada.
Manusia seringnya tidak pernah puas. Mereka merasa kurang dan mulai merajalela. Tidak ada dekapan syukur untuk di panjatkan sehingga tidak heran banyak yang sakit jiwanya. Itu murni perbuatannya sendiri. Akibat dari ulah yang di ciptakannya sendiri.
“Yang ada di dunia ini semuanya fana, Yang.” Alara suka ketika Gema sudah mulai berpetuah serius begini. Itu benar-benar mengajari dirinya untuk lebih banyak menengadahkan tangan dalam panjatan doa-doanya. “Nggak ada yang Namanya sebuah rasa itu abadi. Bumi saja berputar. Pagi di sini, malam di belahan bumi lainnya.”
Hati berkata, logika menyangkal adanya. Sejajar dengan itu semua, tidak adanya bukti, membuat Maha mengambil keputusan untuk di tuduh. Gema tahu, lelaki itu sedang melindungi apa yang memang menjadi miliknya; keluarga. Yang sudah sepatutnya dilakukan.
“Abang tahu, Ra. Wanita suka sulit buat di tebak—”
“Enggak juga bang.” Potong Alara. Terawangan mendalam nampak jelas di netra matanya. “Dekati kenali, dan pahami. Bakal abang temui yang Namanya baik buruknya. Untuk setelahnya abang ambil keputusan dalam memilih. Tapi jangan lupa …”
“Apa?”
“Nggak semua wanita bisa di samakan. Aku contohnya. Aku kayak begini adanya dan aku ketemu sama abang yang dewasa. Itu bikin semua sisi di diri aku ke luar. Karena aku tahu abang nerima semua kekurangan aku pun dengan keburukannya.
“Kalau kita punya salah, nggak bisa serta merta harus kita yang minta maaf. Cari alasan kenapa kita marah. Bukan berarti semboyan ‘wanita selalu benar’ wajib di terapkan. Tahu bang?” Gema menggeleng. “Kita sedang ingin di sayang dan ada di mode manja. Jadi, nggak bisa abang marah. Nyakitin dengan kata-kata untuk setelahnya minta maaf. Nggak seampuh itu bang. Maaf saja kadang nggak bisa bikin hati kita sembuh.”
Benar juga. Gema baru sadar detik ini.
“Itu alasan kamu manja ke abang, Ra?”
“Dari dulu aku manja bang. Tapi aku nggak punya tempat buat mencurahkan. Beruntungnya aku ketemu abang. Yang mau paham dan ngerti sama posisi aku. Terus gimana soal Maha?”
“Oh …” Ragu-ragu Gema untuk memulai. “Ini pemerasan.”
“Kok bisa?”
“Belum ada bukti lengkap buat laporin ini ke polisi. Abang sudah menyelidiki ini. Hasilnya ke luar minggu-minggu ini.”
***