Samudera membuka kotak bekalnya.
Makan siang kali ini terlewati dengan tenang karena tidak ada kegusaran yang menghimpit rongga d**a Dera. Di hadapannya, duduk Naomi dengan anteng bersama bekal yang siap untuk di tukar dengan milik Dera.
“Kok tumben sushi?”
Iya. Gulungan nasi dengan rumput laut menjadi menggiurkan di mata Dera.
“Mama Dante bawain.”
Dera tidak heran akan hal itu. Tidak juga menjadikan sebuah masalah jika nyatanya Naomi memiliki ibu lebih dari satu. Bagi Dera, berteman dan menjalin hubungan tidak perlu melihat latar belakangnya yang carut-marut. Cukup dengan jangan membicarakan keburukan tentang dirinya di belakang. Dera paling anti dengan orang semacam itu.
“Mami bawain aku sosis. Ini wajib kita mix biar rasanya estetik.”
Naomi tertawa. Teman yang mau menerima dirinya apa adanya tanpa pandang bulu hanya Samudera. Padahal cowok itu popular di kalangan teman perempuan lainnya. Namun tidak tahu mengapa, Dera lebih suka menempel kepada dirinya.
“Jangan mikirin apa-apa. Kamu jelek pas alisnya gabung kayak gini …” Samudera praktikkan kedua alisnya untuk bertemu persis seperti milik Naomi beberapa detik yang lalu. “Kamu juga jangan banyak senyum.”
“Kenapa?”
“Kamu nggak akan di sukai cuma karena senyum. Mereka tetap ngomongin kamu di belakang. Itu kenapa manusia di semati dengan sebutan munafik.”
“Kamu sudah sepaham ini soal kehidupan.”
“Aku belajar ngelihat semuanya dari real life. Jadi nggak semua yang kamu lihat memang kayak gitu aslinya. Ada yang pura-pura di depan kamu tapi ada tujuan lain yang tersembunyi. Ada yang sok peduli ke kamu. Padahal cuma butuh sesaat sebelum ngejatuhin kamu. Intinya, dalam hidup ini, kamu harus lebih hati-hati.”
Noami tatapi Samudera yang ganyem sosis dengan sushi secara bergantian. Ekspresi gantengnya tidak di pungkiri. Sesekali lidahnya menjulur ke luar menggapai sisa nasi yang tertinggal di sudut bibirnya.
Ukhti … Naomi masih SMP tapi sudah membayangkan yang iya-iya saja.
“Kalau aku suka sama kamu …” Naomi hentikan ucapannya. Begitu juga dengan Samudera yang meletakkan garpunya. “Salah?”
“Suka yang gimana?” Sejauh ini Samudera paham arti suka yang di suarakan Naomi. Suka dalam artian memiliki rasa lebih atau sekadar suka sebagai teman. Dan untuk kedua opsi itu, Dera memilih yang pertama. Agar tidak terjadi cinta bertepuk sebelah tangan.
“Nggak tahu,” jawab Naomi mencicit. “Aku kurang paham sama yang kayak gitu. Tapi Omi suka Dera.”
Dan bagian Naomi yang memanggil dirinya sendiri dengan sebutan ‘Omi’ adalah favorit Samudera sepanjang mereka saling mengenal.
“Aku suka Omi. Suka yang menjurus ke arah cinta.”
“Ih kamu.” Respons Naomi kaget dan tidak menyangka jika Samudera akan mengungkapkan perasaannya.
“Aku serius.” Tidak ada riak canda di wajah Dera. Naomi menciut di tempatnya. “Aku mau Omi jadi pacar aku, milik aku.”
Ya Gusti … ini ajaran siapa?
Anak Bahtiar Gema dan Alara Senja sudah senekat ini mengajak anak gadis orang berpacaran?
Kalau orangtuanya tahu, bisa geger dunia.
“Kita sudah saling kenal. Nggak ada alasan kamu nolak aku. Kamu juga suka aku. Kita sama-sama suka.”
“Tapi …”
“Please.”
Karena Samudera tahu persis apa yang hatinya mau. Dan menginginkan Naomi menjadi miliknya adalah Samudera yang sebenar-benarnya.
“AKu janji bakal nemenin kamu terus.”
“Aku nggak kayak yang Dera lihat.”
“Aku tahu.”
Mereka ini masih bocah yang duduk di bangku SMP tapi cara ngomongnya sudah kayak anak kuliahan semester akhir.
“Dera dan aku nggak sama. Maksudnya keluarga kita … Aku punya mama tiga. Aku punya papa tiga. Bisa Dera bayangin gimana—”
“Aku nggak peduli meski aku sudah tahu. Itu bukan penghalang buat kita bareng kecuali kalau kamu memang niat buat nolak aku.”
Di tempatnya, Naomi gelagapan. Tatapan Samudera cukup memberinya intimidasi bahwa tidak menerima penolakan memang selogan baru cowok tersebut.
“Kita jalani ini bareng-bareng.” Ajakan Samudera memang menggiurkan. Cewek mana pun bakal kelepek-kelepek di buatnya. “Aku sudah bilang sama mami dan papi. Mulai minggu depan, bakal kost di dekat rumah kamu.”
“Ngapain?”
“Aku mau lebih ekstra jagain kamu.”
Gayanya bocah zaman sekarang. Makan saja masih minta orangtua. Buku pelajaran saja masih di bawah naungan orangtua. Tapi sok-sok’an mau jagain anak orang.
Damage jatuh cinta nggak ada matinya.
***
Jantung Maha hendak berlari dari tempatnya.
Fail yang di tunjukkan kepadanya cukup menguras energinya meski merespons hanya dengan diam. Alih-alih melampiaskan keskaitannya, nyatanya ada yang lebih tersakiti dari dirinya.
Bukan hanya Pulung pastinya anak-anaknya juga merasakan hal yang demikian.
“Kayaknya harus di perjelas secara singkat dulu, pak.” Saran Bahtiar Gema sama dengan milik Ardika. “Saya jamin akhir minggu ini semuanya terproses. Tapi untuk mencegah kekeuhnya ibu Pulung membawa kasus ini ke siding hijau—”
“Ini yang ditunggu Juni.”
“Ya?”
Rahang Gema ingin geser dari tempatnya.
“Baiknya ini terlaksana untuk mempermudah jalan ke pihak yang berwenang.”
“Soal ganti ruginya?”
“Bisa di atasi. Sejauh ini, bukan keuangan pribadi yang saya keluarkan. Melainkan milik perusahaan kakak saya. Itu bisa memberatkan dengan memasukkan laporan korupsi.”
Ah … uang da kekuasaan masih bermain paling epic di negara ini.
“Segera di laksanakan.”
“Maaf merepotkan terus.”
“Sudah menjadi tugas saya.”
Tidak mudah bagi Gema untuk berada di titik ini. Menjadi pengacara kepercayaan keluarga Maharaja sudah sepatutnya Gema berikan pelayanan yang maksimal. Itu menjadi sarana dan jembatan untuk Gema meraih kejayaannya.
Simbiosis mutualisme. Kira-kira seperti itu.
“Saya pikir masalah ini bisa selesai dengan uang.” Curahan Maha, Gema dengarkan.
Jika di mintai kritikan, akan Gema lakukan. Dan jika tidak, senyum dan diam menjadi jawaban paling melegakan. Karena beberapa orang tak memerlukan saran yang banyak. Asal di dengarkan, sudah sangat melegakan.
“Manusia serakus itu.”
Jika ada makhluk yang paling serakah di dunia ini, jawabannya manusia. Manusia memakan apa saja dan mengambil apa saja yang di rasa memang perlu dijadikan penunjang dalam kehidupan.
“Saya tidak pernah membayangkan untuk berakhir dari Pulung. Dia yang paling sulit untuk saya gapai. Dia yang membuat dunia saya jungkir balik. Senyumannya mampu menyulitkan segala pergerakan yang ingin saya lakukan. Dan berakhir sia-sia seperti ini lewat jalan pengkhianatan … nggak elegan banget, kan?”
Baik Gema mau pun Maha sama-sama tertawa. Bedanya … Gema lebih merasa bahwa ternyata menjaga sebuah hubungan tidaklah semudah kala kita mendapatkannya.
Beberapa orang nyaris lupa pada pengorbanan semacam apa yang telah dilaluinya untuk mendapatkan keinginannya.
Menggenggam miliknya sendiri saja tidak membuat orang itu merasa puas. Padahal penting menghargai sebuah hubungan yang sudah terjalin.
Maka dari itu, menjadikan pasangan sebagai tempat bercerita dan berbagi adalah kunci di mana kelanggengan hidup bisa terjalin.
“Menjaga nggak semudah ngedapetin.”
***