Pulung hanya diam. Memandang gelapnya malam yang kian larut. Semilir angin berembus. Berebut dengan dentingan hujan yang menampar tanah.
Kelihatannya saja alam terlihat begitu acak. Namun ketika di keseimbangkan dengan ilmu matematika … penampakannya jauh lebih sempurna dari yang semestinya. Dari hasil paduan ilmu itu, bisa di simpulkan mengapa alam begitu sangat indah dan kuat.
Sejak kecil—karena besar dan tumbuh di pedesaan dan dekat dengan alam—Pulung paham cara menikmati suasana alam agar berbeda dari yang lainnya. Dari sana pula, Pulung mengagumi sesuatu yang berbau sempurna dan seimbang. Pulung memiliki ketertarikan tersendiri tentang alam yang tak banyak diketahui orang lain.
Awalnya tertarik namun lama-kelamaan tumbuh rasa kagum yang tak bisa di tampik begitu saja. Pulung jadi punya cara menilai tidak kepada dirinya sendiri namun juga terhadap orang sekitar setelah paham memandang alam. Ini konyol karena tak memiliki banyak kesamaan. Hanya diri Pulung lah yang bisa mengerti seperti apa rasanya.
“Karena aku jauh dari kata seimbang itu sendiri,” gumamnya pelan. “Jadi aku butuh mengagumi untuk melengkapi dan menjadi satu kesatuan yang sempurna.”
Seduhan pada the panasnya menyelubung di tubuhnya. Matanya terpejam sesaat untuk kemudian terbuka. Eksistensi Dante hadir dengan wajah cemberut. Lucu maksimal membawa memori Pulung pada masa kecil sepupunya itu.
“Abah pernah ngomong ke aku.” Mulai Pulung membuka cerita. “Apa yang membuat seseorang begitu cantik saat di pandang.”
Dan Dante selalu antusias jika itu berkenaan dengan cerita pengalaman hidup Pulung.
“Apa?”
“Bukan pada penampilannya.” Alis Dante bertaut heran. Lantas apa? Bukankah selama ini ada yang mengatakan jika penampilan menjadi penunjang penting kehidupan dan strata seseorang?
Bahkan ada kata-katanya dalam bahasa jawa; Ajining diri soko lathi. Ajining rogo soko busono. Artinya, harga diri seseorang berasal dari lidahnya (omongannya) dan harga diri badan dari pakaian.
“Ekspresinya,” lanjut Pulung. “Karena ekspresi berasal dari hati.”
Jujur … Dante tidak mengerti apa yang di maksudkan oleh Pulung. Tapi lama-kelamaan kepala Dante terpukul secara tak kasat mata untuk menyadari maknanya. Ini murni pengalaman Dante dulu selama masih bekerja.
Berada di lingkup dunia malam, Dante memahami isi hati orang-orang yang berkenalan dengannya secara detail. Saat bekerja, Dante mencoba menggabungkan segala kerumitan yang berujung pada keluhan ketidaksempurnaan hidup seseorang. Dari sana Dante tahu, bahwa tidak semua orang bisa menjadi sempurna hanya karena memiliki uang.
Ironisnya … Dante akan langsung minder dan mundur teratur kala bersisian dengan orang atau rekannya yang mendekati kata ‘sempurna’. Namun detik selanjutnya Dante paham. Tidak semua orang di lahirkan untuk menjadi sempurna.
“Semua itu kembali pada hati. Bukan cuma penampilan. Apa yang kamu miliki, apa yang kamu kenakan, dan apa yang kamu genggam … semuanya menipu.”
Benar. Apa yang Pulung sampaikan memang nyata adanya. Bodohnya Dante baru menyadari hal itu.
Untuk sesaat Dante simpulkan jika mungkin sudah ada kerelaan di hati Pulung. Melepas Maharaja Askara yang ternyata sama berengseknya seperti lelaki di luaran sana. Bukan merendahkan, ini fakta yang beredar. Hanya Maha yang bertingkah seperti orang kesurupan di saat istrinya sedang mengandung besar.
“Di masa yang akan datang nanti … Kamu akan cukup kuat mengikhlaskan apa yang bukan milikmu buat kamu lepasin. Kadang kamu juga mesti di tampar biar sadar kalau ngelihat dia bahagia dan bukan bersamamu, itu seperti lebih dari cukup untuk memukul mundur harapan-harapan kita.”
Mau tidak mau, Pulung harus siap untuk semua kemungkinan itu. Baik buruknya hal-hal yang masuk ke dalam kehidupannya, akan Pulung catat sepanjang sejarah kehidupannya.
“Teteh lemah.” Dante bersuara dan itu bernada ejekan. “Nggak semuanya yang jadi milik teteh bisa di bagi ke orang lain. Teteh harus menghukum pencuri.”
“Termasuk kamu?” Kekeh Pulung. Berlawanan dengan wajah Dante yang tegang maksimal. “Kamu pucat. Jangan bilang isi?”
Dengusan yang Dante perlihatkan. Bisa-bisanya Pulung bercanda di waktu yang segenting ini.
“Justru aku berterima kasih ke Maha.”
“Cih!” Dante kesal pemirsa. “Apa-apaan itu!?”
“Ini serius.” Pulung menghela napas perlahan. “Maha sudah ngasih aku kesempatan buat ngerasain yang Namanya mencintai dan dicintai. Di satu waktu secara bersamaan … Aku nemuin bahagia yang sesungguhnya.”
“Puitis,” balas Dante sarkas.
Pulung tahu Dante kesal. Tidak heran jika jawabnnya pun nyeleneh. Lagi pula … semua orang tahu bahwasannya hidup tidak akan pernah berjalan sesuai dengan keinginan kita. Pun dengan Pulung yang coba merasionalkan segala pemikirannya.
“Aku pura-pura.” Pulung ulaskan senyum segarisnya. Yang Dante balas dengan dengusan. “Nyoba paham sama kesalahan yang Maha buat alih-alih harga diriku diinjak-injak atau enggak.”
“Teteh terlalu sok buat murah hati dengan memaafkan. Tahu sesuatu tentang kata ‘maaf’ dan memaafkan nggak teh?” Semua orang tahu akan hal itu. Tidak akan membuat seseorang menjadi tak bernilai atau pun sebaliknya. “Dan nggak semuanya bisa masuk ke tataran memaafkan di setiap kesalahan. Itu kenapa mempertimbangkan menjadi begitu penting.”
Jangan di tanya. Jangan meminta Pulung untuk menguak isi otaknya sendiri. Karena setiap kali membayangkan tanpa bisa mengungkapkan bagaimana memulainya … Pulung hendak menggila.
Menerawang Maha yang memegang tangan selain milik dirinya.
Menelisik apakah ada tangan Maha membelai wajah wanita itu selain milik dirinya.
Atau apakah Maha berbisik bahwa Maha mencintai wanita itu saat menyentuhnya sama seperti saat bersama Pulung.
Rasanya … letupan demi letupan menggumul ke permukaan kulitnya. Lepuhan panasnya bahkan mengelupas di setiap inci tubuhnya. Pulung tersakiti untuk banyak hal.
Namun memberikan maaf justru dengan ringan Pulung lakukan.
“Aku mikirin hal-hal yang mengerikan—”
“Perceraian.” Tebak Dante cepat.
“Kehancuran.” Pulung raih ponselnya. Menunjukkan lukisan hasil buatan Naomi. “Gambar Naomi makin punya kemajuan. Nggak salah Ardika masukin Omi ke kelas lukis di tiap sabtu sore.”
“Bagus banget.”
“Entah Omi tahu atau enggak kalau lukisannya di mataku punya nilai. Menarik perhatianku membuatku ingin memilikinya dan untuk kuhancurkan daripada tidak menginginkan sama sekali. Sama kayaknya Maha dan Juni. Baiknya memang aku bertindak begitu agar mereka berdua bisa sama-sama aku hancurkan.”
Di tempatnya, Dante tercenung. Terkejut lebih mendominasi gambaran wajahnya.
Entah ini sifat asli Pulung atau sekadar memendamnya sejauh ini. Mendengar apa yang Pulung katakan, bulu kuduk Dante meremang. Nampaknya … kesakitan seseorang tak bisa di sepelekan begitu saja. Pupukan dendam bisa menghasilkan lahar panas yang siap membumihanguskan setiap sendi kehidupan.
“Jadi teteh mau gimana?”
“Pisah.” Dante takkan memberi komentar yang panjang soal ini. “Mungkin.” Terdengar ragu-ragu.
Tiga kali menikah dan berakhir di kasus yang sama; perselingkuhan.
Sebenarnya, apa yang salah di diri Pulung sehingga mengalami kegagalan yang sama seperti ini. Sekejap mata saja, Pulung tak pernah berharap adanya perpisahan bernama perceraian. Haram baginya dan dilarang dalam agama.
Tapi … adakah jalan lain untuk Pulung pijaki?
Selain mengucapkan terima kasih sebanyak yang bisa dirinya sampaikan. Bersama Maharaja Askara meninggalkan kesan tak terlupakan. Tak hanya soal berbagi diskusi dan isi kepala. Banyak hal-hal yang telah keduanya lewati bersama-sama.
Terima kasih sebanyak yang bisa Pulung ucapkan. Untuk Maharaja Askara yang pernah begitu baik menjaga kekhawatiran dan kegelisahan Pulung. Itu adalah masa di mana takdir mencintai dan memiliki Maha menjadi sangat berkesan.
Dan terima kasih untuk pernah menjaga setia dengan Pulung sebelum pengakhiran ini disebut pengkhianatan.
Semoga Pulung semakin lebih beranu dalam memperjuangkan sesuatu yang memang harus diperjuangkan. Jika sudah tidak ada lagi titik terang, maka, doa Pulung hanyalah dukungan dari pilihannya.
Semoga ke depannya, Pulung lebih tegas untuk sesuatu yang memang harus di tegaskan. Ialah hatinya yang harus sekuat baja menghadapi ujiannya.
Dan semoga hatinya lebih kuat untuk meninggalkan karena memang itu patut untuk Pulung lakukan. Sebab, semakin hari semakin mengerti bahwa hidup tentang mengambil pilihan demi pilihan.
“Kalau aku di posisi teteh, nggak akan aku kasih maaf secara cuma-Cuma. Atau semisal aku adalah Maha. Aku mau lebih menghargai kata maaf itu sendiri buat nggak aku ulangi.” Dante menoleh dan menatap ke kedalaman netra Pulung yang jernih. Tersenyum sekilas lekas memandang tetes demi tetes air langit yang turun. “Sebab aku sadar. Suatu hari nanti, ada kata maaf yang aku butuhkan. Entah dari orang terdekat atau pun orang yang berbeda sekali pun.”
Merasa beruntung. Setenang apa pun kita menghadapi persoalan, ada saatnya kita butuh satu orang yang tepat untuk berbagi tanpa harus merasa dihakimi.
***