Bahtiar Gema kembali ke rumahnya di malam yang kian larut. Hujan yang tiada henti membuat jalanan macet. Berjejer mobil terjebak berjam-jam dan Gema hanya bisa menghela napas lega saat tubuhnya bersambut dengan sofa di ruang keluarganya.
“Piii …”
Ah … Gema gemas dengan suara putri keduanya. Mentari Bahtiar sungguh obat dari segala kelelahan di aktivitas hari-harinya.
Bergegas bangun. Gema hendak menghampiri sang putri yang sudah melarikan laju kedua kakinya. Sebelum terhalang oleh sambitan Alara Senja.
“Mandi dulu, ganti baju baru sama anak. Abang jorok!”
Tidak banyak yang tahu, kan, wahai netizen yang budiman.
OWKEY!
Cerita uniknya ialah, Alara Senja semakin cerewet seiring berjalannya waktu. Wanita itu makin cantik diikuti sifatnya yang estetik. Tak terbantahkan lagi bagaimana rupa ayunya yang semakin meningkat seiring bertambahnya usia. Yang dengan itu berkali-kali lipat kerempongan tumbuh di diri Alara.
Selain cinta, apa lagi memangnya yang bisa Gema lakukan.
“Njih ndoro.” Sendiko dawuh begitu macam itulah yang bisa Gema lakukan.
Berbalik badan menuju kamarnya. Gema tinggalkan Mentari yang seolah-olah lupa karena telah fokus dengan tatanan puzzlenya yang awut-awutan.
Begitu memasuki kamarnya. Semua keperluannya telah tersedia. Baju tidur yang akan Maha kenakan pun telah tersaji di atas ranjang.
Alara Senja mungkin orang asing bagi Gema. Di beberapa tahun yang lalu sebelum kehidupannya berubah drastis karena satu permintaan konyol. Untuk membawa ke dalam bahagia yangs sesungguhnya.
Tidak hanya Alara yang pernah terpuruk. Gema juga merasakan kesendirian untuk waktu yang lama. Sebelum memutuskan untuk berada di satu atap.
Telah Gema letakkan bahagia yang sesungguhnya. Dalam stau kali tarikan napasnya. Ada nama Alara Senja di sana. Gema letakkan dalam urutan paling aman dan apik untuk selalu Gema jaga.
Bersama Alara … Gema merasa seberuntung ini menjadi seseorang. Oleh sebab itu, Gema merasa ringan dincintai dengan baik oleh sosok Alara. Tidak pernah merasakan sedikit pun khawatir akan perasaannya yang takkan terbalas atau masalah-masalah yang akan timbul di kemudian hari.
Gema tidak pernah sedetik pun merasakan kesendirian apa lagi berjuan seorang diri. Tidak. Ada Alara di sampingnya. Yang 24 jam penuh memberinya dukungan.
Dengan Alara Senja, Gema seperti melahirkan kebahagiaan-kebahagiaan dengan mudah dan sederhana.
Bahagia yang tanpa mensyaratkan apa-apa selain hanya tersenyum dan tertawa saat Alara mengajak dirinya menertawakan hal-hal yang sederhana.
“Jadi gimana hasilnya?”
Gema selalu suka dengan sekecil apa pun perhatian yang Alara lontarkan. Termasuk menanyai perihal pekerjaannya meski istrinya tahu hasilnya.
“Nihil.”
“Lah kok bisa?”
Gema buka kemejanya. Menaruh di ranjang cucian dan mengedikkan bahu.
“Cara kerja bos suka nggak bisa di tebak, Yang. Sama kayak pak Maha yang mikir kalau ini belum waktunya. Padahal soal bukti-bukti aku bisa ngasih lebih cepat.”
Alara terdiam. Berpikir dengan kedua tangan bergerak melipat kaos Gema.
“Kalau cuma jebakan …” Alara hentikan perkataannya. “Kenapa terkesan melindungi sih, bang?” Gema mengedikkan bahunya. “Aneh.”
“Dia klien abang loh, Yang. Tapi baru kali ini ada masalah yang rumitnya ngelebihin penggusuran pasar.”
Alara meringis. Suka astajim dengan cara pikir suaminya yang yahud sekali. Kalau bikin perbandingan macam nggak punya akhlak.
“Abang punya rahasia?”
Ditanyai begitu, kedua kaki Gema berhenti melangkah.
“Soal apa?”
“Apa pun.”
“Kenapa?”
Diam sebentar. Alara butuh berpikir untuk menimang tentang apa yang dirinya temukan mengenai masalah Maharaja Askara.
“Tiap orang punya seenggaknya satu rahasia.” Benar. Tidak ada yang salah. Tidak juga di sangkal. Seterbuka apa pun seseorang, akan ada satu masalah yang tak bisa diungkapkan. “Bukannya aku nggak percaya ke abang. Tapi ngelihat masalah ini … Aku tahu ini ganjil.”
“Kalau kamu tahu sesuatu, cukup diam. Itu pilihan paling aman saat ini. Sisanya, kita lakukan sesuai prosedur yang berlaku dan ketentuan yang sudah di cantumkan.”
Alara akan patuh dengan perintah suaminya. Karena Alara Senja bukan tipe wanita ribet yang mau bersusah-susah untuk mencari tahu denan detail.
Sekali pun ujung kepala sang klien yang Alara namai dengan ‘gencatan senjata’ sudah di genggamnya, tidak membuat Alara nekat untuk menyebarluaskan.
“Kenapa, sih, dia ngorbanin keluarganya sendiri,” gerutu Alara.
***
Sejak pertama bertemu dengan Pulung Rinjani … untuk sebuah alasan yang aneh, Maha membayangkan dirinya dengan Pulung bergandengan tangan dan menua bersama.
Maha menyukainya.
Takkan pernah itu tertampik dari pengakuannya. Dari hatinya yang terdalam dan segala ketulusan yang bisa mencurahkan segala isinya.
Maha menyukainya karena hanya dengan membayangkan Pulung ada bersamanya di akhir hayatnya.
Itu menenangkan.
Saking menyukainya. Saking membuat hatinya tenang. Maha melakukan kesalahan dengan hal gila seperti ini. Yang parahnya menutupi kebenarannya sampai harus menghancurkan kehidupannya sendiri. Mengakhiri dirinya sendiri yang di dalamnya telah terbentuk sebuah keluarga.
Tapi egonya bertentangan dengan semua yang menjadi topik permasalahannya.
Maha ingin hidup seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Maha katakan ini demi kebaikan Pulung dan keluarganya. Nyatanya alih-alih untuk Pulung, justru Maha telah bertindak dengan semakin jauh tak tersentuh.
Hari-hari yang Maha pikirkan begitu hangat. Tapi orang bodoh seperti dirinya telah mengacaukan susunanya dan tidak pantas menerima pengampunan seperti yang telah Pulung lakukan.
Memberinya maaf padahal tidak patut Maha dapatkan kata-kata itu.
“Papa tahu caranya marah.” Yang datang silih berganti untuk menghakimi Maha adalah Aksara. Pria paruh baya itu duduk tenang dengan raut wajah yang serius. Garis-garis kerutan di wajahnya semakin terlukis dari hari ke hari. Hebatnya, kewibawaan yang mengalir dari tubuhnya tidak luntur termakan usia.
“Tapi gimana caranya papa buat nahan, itu yang paling susah. Papa diam sejenak bukannya nggak tahu apa-apa. Papa tahu dan papa memilih menjadi penikmat.” Maha yang menjadi tokoh utamanya. Tengah memainkan peran penting di serial yang takkan ada habisnya jika terus berkelit. “Kamu diam dan nggak bakal dapetin apa-apa. Kenapa?”
Marah takkan menyelesaikan masalah. Menyesal juga takkan berguna untuk kondisi yang kian genting.
“Jangan bikin rumit dengan mulut bungkammu. Kita berhak tahu dan Pulung harus tahu yang sebenarnya.”
“Papa percaya aku?”
“Kecewa lebih tepatnya.” Aksara selalu berdoa agar kedua putranya tidak menuruni jejak kesalahannya di masa lampau. “Ardika dengan kebodohannya dan kamu dengan kecerobohanmu. Kalian benar-benar darah papa.”
Sindiran halus Aksara cukup menyentak d**a Maha. Ingin menyangkal, tanpa bukti … rasanya sia-sia. Pria seperti papanya menyukai segala sesuatu yang berdasarkan fakta. Bukan hanya janji dan kata ‘nanti’ sebenarnya tidak berlaku sama sekali di kamusnya.
“Kalau papa percaya …” Maha ragu-ragu untuk melanjutkan.
“Semuanya sudah sesuai kinerja yang tertuang. Di atas hitam dan putih, nama Pulung Rinjani tertera dengan cetakan tebal. Kamu nggak bisa berkutik. Papa bisa depak kamu dari sini. Dan lagi-lagi, peran Pulung ada di baliknya. Yakin nggak mau mengakhiri?”
Ingin. Maha ingin melakukannya. Tanpa pihak yang memberinya dukunga, Maha akan melakukan yang sudah seharusnya dirinya ambil sebagai keputusan.
“Jangan menjadi bodoh dengan terlambat menentukan.”
***