Maha di bawah tekanan. Bernapas pun kesusahan.
Tidak semua yang terlihat normal-normal saja menampilkan sinema yang baik pula. Maha benar-benar tidak dalam kondisi yang baik. Semuanya memberikan tekanan yang jika boleh Maha ungkapkan … sakit.
Leher Maha tercekik. Kondisi ini tidak membaik dan kian memburuk.
Untuk sesaat Maha memohon.
Untuk sesaat Maha meminta.
Sebentar saja. Sampai semua kondisi membaik seperti semula. Sampai semua kerusuhan yang Maha perbuat kembali normal menempati posisinya masing-masing.
Jujur … tidak hanya Maha yang retak. Tidak hanya Pulung yang berada dalam kerusakan ini.
“Mama sama papa cerai?”
Baraja tetaplah seorang anak kecil. Yang meski begitu, cara pikirnya bisa terkontaminasi dengan berbagai pengaruh yang ada di sekitarnya.
“Kenapa ngomongnya gitu?”
“Kata teman abang kalau mama sama papanya tinggalnya jauhan … Mereka pisah.”
Tidak tahu harus bagaimana lagi Maha berikan jawab. Sedang wajah lain yang tampak lebih tenang adalah Naomi. Bocah kelas 1 SMP itu benar-benar tak beriak. Hingga Maha ketakutan sendiri untuk menelisik netra kelamnya.
Luka milik Naomi sudah lebih banyak dari yang Maha torehkan. Sebelum ini Naomi telah menelan pil pahitnya perpisahan. Mulai dari tidak mengetahui siapa ibu kandungnya dan bertemu dengan Pulung. Yang pada akhirnya singgah sebentar tidak untuk sungguh.
Ah … kenapa para orang dewasa sangat egois tindakannya?
Mereka membuat keputusan secara sepihak tanpa peduli pihak-pihak lain yang tersakiti.
Para orang dewasa punya pilihan di atas pilihan untuk kehidupannya namun memilih bagian menyulitkan untuk kemudian memberikan derita yang tiada ujung.
Kenapa?
Maha pun bertanya-tanya.
“Enggak sayang. Abang nggak perlu dengerin omongan orang. Mereka—”
“Sesekali mendengarkan nggak bikin kita rugi kok, pa.” Suara Naomi menginterupsi. Dentingan sendok yang beradu dengan piring lenyap seketika. “Cara orang lain hidup dengan cara kita pasti berbeda. Bagi papa, mendengarkan pendapat orang lain bukan suatu hal penting yang harus kita lakuin. Jadi, cara kita tumbuh selain dengan mendengarkan, terus apa, pa?”
Di sesatkan oleh jalan yang kelihatannya mulus pun sering kali kita lalui.
Hanya saja, Maha tidak menyangka harinya akan tiba di dalam keadaan dirinya yang tertekan.
Pertanyaan yang Naomi ajukan tidak lekas Maha beri respons. Tahu bahwa mungkin inilah posisi Pulung saat anak-anaknya bertanya ini dan itu. Jawaban rasional tanpa bukti yang membuat mulut mereka bungkam, tak begitu di butuhkan. Mereka para anak-anak punya cara pikir yang tidak biasa. Daya ingat serta keingintahuannya sangat tinggi.
“Bukan untuk memengaruhi pilihanmu, Sayang. Mendengarkan, meminta saran bahkan melakukan perbincangan memang sangat di perlukan. Dan soal bagaimana kita tumbuh, orang lain bukan jaminan—”
“Seenggaknya kita tahu karena mendapat koreksi. Salah, maka akan di katakan salah. Dan benar, bukan untuk mendapat pujian.”
Wah!
Maha tercengang.
Jika saat ini ada di keadaan melawak, akan Maha serukan bahwa Naomi sangat hebat. Untuk memotong ucapan Maha dan memberikan sanggahan yang tak sesuai oleh umurnya (jika boleh Maha sebut begitu).
“Abang nggak mau mama sama papa cerai.”
Maka menunggu harus dijadikan opsi oleh Pulung.
“Papa pulang. Kasih papa waktu.” Di samping itu … Bara ekstrem sekali bicaranya. Nampaknya, teman-teman Baraja memiliki cara pikir yang mudah menerima alih-alih menyaringnya.
Akhir minggu ini. Banyak cerita yang akan Maha buka bersama Pulung. Dan berharap pintunya akan di buka lebar-lebar. Untuk bisa kembali meluruskan semua masalah yang telah dirinya ciptakan.
Maha tahu dari tatapan mata Pulung yang menyiratkan bahwa lebih baik menjadi buruk sekalian ketimbang hanya menjadi agak buruk.
Rasanya tidak mengenakkan sekali di pandang sedemikian rupa oleh orang tercintanya.
***
“Oh …”
Agaknya Pulung merasa kecewa dengan jawaban yang pengacaranya sampaikan.
Pagi-pagi sekali sebelum jam kerja di mulai. Bahtiar Gema membawa kembali berkas-berkas surat gugatan yang Pulung ajukan.
“Pak Maha menolak.”
“Atau karena saya yang tidak punya kuasa untuk melakukan—”
“Bukan begitu.”
Menjadi rumit ketika Gema harus memilah kata-katanya. Salah sedikit akan meninggalkan tanya sepanjang jawabannya.
“Pak Maha punya jaminan.”
Gema ingat untuk memberikan jawaban ini sebagai ultimatum terakhir jika Pulung terus mendesak.
“Ada banyak kekacauan yang terjadi di perusahaan. Baik pusat mau pun cabang. Dan—”
“Apa kabar dengan bu Alara?” Serangan Pulung tepat mengenai sasaran. Mata Gema terpejam sejenak dan mengulaskan senyumnya. “Saya iri.”
Tidak banyak yang Pulung minta dalam hidupnya. Mungkin salah karena terlalu memaksakan kehendak dalam membentuk keluarga yang bahagia. Namun … wanita di belahan dunia mana pun ingin melakukan hal yang demikian.
“Pak Gema begitu setia.” Pulung tidak tahu saja seperti apa dunia Gema sebelum mendapatkan Alara Senja. “Anak-anak yang sehat dan … oh saya baru ingat. Samudera tinggal lebih dekat dengan Naomi. Mereka sering berada di satu tim yang sama.”
Kebahagiaan di luar yang terlihat baik-baik saja. Tidak semuanya mencerminkan hal yang demikian. Sebelum berada di kondisi yang bahagia dan tenang. Gema pernah hancur—lebih hancur dari ini. Di campakkan pasangan jauh lebih baik daripada tidak di hargai oleh pasangan. Tidak mempunyai nilai jauh lebih berharga ketimbang di perolok-olok.
“Ini nggak pantas buat di dengar, kayaknya,” ucap Pulung. Sembari menghela napasnya dan racauan pikirannya menyerukan kata ‘berhenti’.
“Akan saya pertimbangkan.” Barangkali akan menjadi informasi yang bisa di pertimbangkan. “Jika itu penting, akan saya sampaikan ke pak Maha.”
Hubungan suami istri tidak serta merta dalam sebuah status saja. Tidak juga berjalan lurus dan terus berada di jalurnya.
“Terima kasih.”
Bagi Pulung, Maha adalah cerita dalam hidupnya dengan versi yang paling baik. Sepanjang sejarah dalam panjatan doa-doanya. Akhirnya bisa Pulung temukan rumah yang bisa untuk dirinya singgahi, Rumah yang sesungguhnya tempatnya berpulang. Merasakan kehangatan sebuah pelukan, merasakan nikmatnya teh hangat di sore bersama senja, dan berbagi cerita selayaknya pasangan lainnya.
Satu hal yang hingga kini sangat Pulung syukuri. Adalah kehadiran Maha di sertai doa-doa. Maka hari ini, tidak banyak yang ingin Pulung pinta. Selain jangan ada jarak yang memisahkan dirinya dari Maharaja. Jangan lagi ada kata pisah yang menorehkan luka berkepanjangan. Untuk cinta kita … Pulung sematkan terima kasih untuk Maha yang sudah membuatnya merasa menjadi orang paling beruntung karena telah memiliki Maha.
“Menurut pak Gema …” Gerakan tangan Gema yang hendak memasukkan semua berkas-berkasnya tertahan. “Perceraian, ah enggak, bukan. Tapi masa mediasi, selalu punya titik terang untuk mundur?”
“Maksudnya?” Gema belum paham apa arti yang Pulung ucapkan. Menebak bukan sesuatu yang Gema sukai.
“Membatalkan perceraian, apa bisa?”
“Oh itu.” Wajah Gema semringah. “Berkas yang ibu ajukan belum masuk ke pengadilan. Jadi semuanya aman.”
“Kalau gitu, saya tarik semuanya.”
***