"Kamu tahu apa yang hilang?”
Lira tahu ini waktu bagi dirinya untuk berbicara. Diam saja selama beberapa bulan melihat tingkah putranya—Maharaja Askara. Gerah, tentu itu yang amat Lira rasakan. Kecewa, jangan di tanya bagaimana rupa wajahnya saat ini.
“Maaf.” Lirih Maha membalas.
Lira acuhkan. Tidak ada efek apa pun bagi rungu dan hatinya mendengar maaf. Tidak ada gunanya. Maaf tidak bisa merubah segalanya yang sudah retak. Kaca yang pecah takkan bisa di rekatkan lagi meski dengan lem berkualitas tinggi.
“Mama pikir, Pulung sudah menjadi bagian dari dunia kamu.”
Aksara menceritakan semuanya sejak pertemuan mereka kembali. Mulai dari hal-hal kecil hingga pada pernikahan Maha. Lira senang dan mendesahkan syukur secara bersamaan. Setidaknya lega perihal Maha yang membuat pilihan tepat untuk mempunyai jalinan hubungan yang resmi. Bukan seperti dirinya yang dijadikan wanita simpanan.
“Mama pikir kamu bakal lebih paham setelah apa yang mama alami. Mama pikir kamu bakalan hati-hati dan lebih baik menjadi pemilih alih-alih nyakitin perasaan wanita. Mama … wanita. Dan predikat mama sebagai wanita simpanan, di nilai buruk sama masyarakat. Mama, nggak pernah ngebayangin kamu berbuat kayak gini—kegoda sama wanita lain di saat istri kamu hamil. Kalau kamu tahu lelah dan sakitnya hamil, kamu bakal lebih milih terjun ke jurang. Mama jamin itu.”
Masa lalu tetaplah bagian dari kisah lama. Untuk berpijak pada masa sekarang, semua orang memiliki ceritanya sendiri-sendiri. Entah baik mau pun buruk. Semuanya punya pengawalan dan pengakhiran. Ada yang sudah merubah cara pandangnya atau masih tetap bertahan demi melindungi harga dirinya.
Sama halnya dengan Lira. Berpisah cukup lama dari Aksara dan tidak mengetahui pertumbuhan Maha. Ada sesal yang hingga detik ini Lira bawa. Bertumbuh pesat dalam dadanya dan terus mengembang seiring memerhatikan ekspresi wajah milik putranya.
“Kenapa?” cicit Lira putus asa. “Mama nangis … serius ini hampa. Mama kehabisan kata buat mecahin masalah kamu. Kamu …”
“Ini nggak kayak yang mama pikirin. Minggu … kasih aku waktu buat ngelurusin semuanya. Aku punya cara tersendiri buat selesaiin ini semua. Tapi kalau mama juga ngasih aku tekanan—”
“Masalahnya kamu nggak tahu apa yang sudah hilang! Begitu kamu lepasin, semuanya nggak akan sama.”
“Aku tahu, ma. Aku tahu. Yang retak nggak bisa rekat. Sama halnya—”
“Siapa kamu yang kurang ajar mau letakin pecahan kaca di tempatnya?”
Telak sudah. Apa yang di sentakkan Lira memang benar adanya.
Siapa dirinya?
Jika Pulung mengajukan cerai, artinya memang dirinya sudah tak lebih dari baik untuk di tinggalkan. Bahkan di pertahankan pun takkan bernilai apa pun.
Ada yang lebih layak untuk Pulung sayangi seusai Maha menorehkan luka.
Tapi, apakah harus secepat itu?
Di saat Maha tak bisa tidur dengan nyenyak. Di saat jam makannya begitu berantakan. Dan segala aktivitasnya penuh dengan tanggungan beban.
Benarkah semudah itu Pulung mencampakan?
Ah benar. Maha yang memulai. Pulung hanya mengikuti permainannya.
“Sadar?” tanya Lira sarkas. “Itu sebabnya kenapa Pulung nggak perlu berlarut-larut dalam kesedihan. Setelah hilang dan kamu bukan siapa-siapanya. Kalau mama jadi Pulung, akan mama ungkapkan untaian kalimat bahwa mama meletakkan rasa sayang pada orang yang salah. Pada orang yang bahkan tidak bisa menghargai sebuah hubungan. Jadi untuk apa di genggam?”
Maha tidak pantas di tangisi. Baiknya memang begitu. Sudah saatnya untuk Pulung menyudahi.
Sesaat sebelum dunianya berpindah tempat di kaki. Maha tersambar petir tanpa tanda-tanda hujan. Ini terlalu cepat putarannya. Dan seperti tidak pernah ada apa-apa yang terjadi. Senyum manis Pulung yang menghiasi bibir ranumnya. Melekat kuat dalam memori Maha.
“Aku nggak mau cerai.” Buka Pulung setelah sekian lama terdiam. Membiarkan bisu dan desau angin memeluk ruangan di halaman belakang rumahnya. “Aku nggak mau kehilangan lagi dan lebih dari apa pun. Jujur … Aku nggak mau jadi janda untuk ketiga kalinya.”
Betapa jahatnya Maha. Air matanya menutupi netra beningnya. Wajahnya panas karena menahan tangis. Hidungnya memerah dan itu sakit sekali. Padahal yakin, Pulung lah yang paling kesakitan di sini.
Bisa-bisanya Maha tidak memikirkan risiko-risiko ini sebelum bertindak. Kelakuannya yang sok jagoan dalam menolong orang justru menjerumuskan kehancuran pada keluarganya sendiri.
“Kenapa?”
Bahu Pulung mengedik.
“Aku egois kalau nggak jujur. Tapi nama Naomi sudah lebih dulu jelek karena aku menjadi mama sambungnya.”
Bukannya tidak tahu. Nanti akan Maha beri pelajaran pada orang-orang yang memberi penilaian buruk terhadap putrinya.
“Jangan.” Maha semakin ingin menangis. Gogoakan di pojokan malu-maluin, nggak sih? Dirinya ini pria. Calon bapak. Menangis pasti nyebelin banget.
“Nggak perlu dendam. Jangan bikin Omi makin tertekan.”
“Tertekan?”
“Hm.” Mendengar putrinya di olok-olok oleh teman-temannya karena mempunyai mama yang janda, Pulung sudah hancur. Bagaimana dengan Naomi yang menerima semua penghinaan itu secara langsung? “Kita cuma perlu ngasih Omi dukungan dan pengalihan buat jangan mikirin itu semua. Beruntungnya ada Samudera.”
“Samudera?” Kepala Pulung mengangguk. “Aku nggak pernah dengar nama anak ini.”
“Anaknya pengacara kamu.”
“Hah?”
“Mereka satu sekolahan. Satu kelas dan bahkan satu kelompok belajar.”
Sejauh itu perkembangannya. Maha sungguh payah tidak mengetahui apa-apa tentang putra-putrinya. Menyesal? Inginnya begitu. Tapi percuma, kan?
Yang sudah terlanjur terjadi, biarlah. Mungkin memang begini cara Tuhan memperkuat pondasi rumah tangganya.
“Aku minta maaf.”
“Dengan syarat.”
“Apa?”
“Jangan selingkuh lagi.”
“Yang …”
“Aku nggak nerima apa pun itu alasannya. Mas tahu? Orang yang selingkuh itu memperlihatkan tipe pasangan yang sebenarnya. Aku sudah mikirin ini dan berdamai sama pikiran aku kalau aku bukan tipe pasangan yang kamu cari. Kamu tidak bisa nerima apa adanya aku jadi wajar kalau pernikahan pertamaku gagal. Tapi untuk yang terakhir kali ini …” Napas Pulung naik turun dengan riak wajah penuh putus asa. “Aku nggak mau gagal dan nggak bisa kehilangan lagi. Aku nggak bisa berbagi lagi. Aku—”
Maha menumpukan kedua kakinya di hadapan Pulung. Gerakan yang tiba-tiba itu membuat Pulung membekap mulutnya. Terkejut dan merasa bersalah atas ucapannya sendiri.
“Kamu nggak akan kehilangan lagi. Kalau pun harus ada yang kehilangan, itu aku. Aku pantas nerima semua hukuman itu. Aku patut di salahkan buat semua kekacauan yang aku timbulkan. Tapi, Sayang … ini nggak seperti yang kamu pikirin. Bukan karena kamu tidak layak atau pun yang bukan tipeku. Tapi aku yang nggak bisa menghargai hubungan kita alih-alih menjaganya. Aku yang nggak bisa menahan. Please, sekali saja.”
Bagi sebagian orang, mungkin meninggalkan tempat yang sekarang ini di tinggalinya dengan alasan tidak betah dan muak adalah satu-satunya cara yang akan dilakukan.
Cara Maha memperlakukan dirinya anggaplah sudah keterlaluan. Tanpa sadar telah tertancap duri yang terlampau dalam sehingga Pulung amatlah kesakitan.
Namun sebagai manusia biasa, jika Tuhan saja bisa memaafkan dan membuka peluang kesempatan sebanyak-banyaknya, terlalu sombongkah Pulung jika berlaku demikian?
***