Juni merasa di permainkan. Awalnya biasa saja. Namun lama kelamaan sikap Maha terhadapnya sungguh keterlaluan. Terlampau cuek dan tidak peduli sama sekali. Padahal mestinya, tidak begitu cara Maha memperlakukan dirinya.
“Mas mau videonya aku sebar luaskan.” Benar. Juni mengancam dan hanya cara ini yang tersisa dari dirinya untuk dijadikan alat.
“Kamu ngancam aku?” Meski begitu, Maha pun geram. Sudah cukup semuanya hancur hanya karena menolong wanita ini. Sudah cukup keluarganya lebur hanya karena wanita ini.
Kedua mata Maha terpejam sesaat. Bayangan demi bayangan di malam kelamnya kala kejadian itu menimpa dirinya … bodoh! Itu yang Maha umpatkan untuk sikapnya. Mestinya lebih gesit caranya sadar bahwa ini adalah jebakan yang berujung pada pemerasan.
Kini, sudah hancur semuanya, apa y