“Tumben?” tanya Maha.
Melihat Ardika yang mampir ke kantornya di jam sibuk seperti ini. Pasti ada sesuatu yang abang lain ibunya itu pikirkan. Dan sejak 15 menit setelah kedatangannya, Maha cuma jadi patung pajangan yang bernapas. Cuma tangannya yang bergerak di atas keyboard. Selebihnya blur di mata Ardika. Jadi, ya wes porah saja lah. Biar sesuka Ardika hendak bertingkah yang bagaimana.
Tapi, ‘kan njir. Tahu nggak, sih? Bosan? Gabut?
Maha jadi capek menghela napas berkali-kali.
“Cewek tuh kenapa ribet banget, sih, Ha?”
Anjir!
Maha geli kalau di panggil begitu sama Ardika.
“Sudah tua bang. Eling umur.”
“Ya kali umur jadi masuk ke ranahnya.”
“Ya lagian ngapain bingung. Cewek dari zaman zigot juga gitu-gitu saja!”
“Benar juga kata kamu.”
“Benar juga kata kamu.” Maha menirukan de