Setelah bertemu dengan Dante dan Nanda. Axel merenung. Cukup lama sebelum tangannya memegang pena dan menggoreskan di atas kertas kosong. Mengulang kembali akan apa yang di rasakannya seharian ini. Di bawah temaram lampu kamarnya, Axel bercerita.
Dengan hatinya, lewat isi pikirannya yang rungsing.
Seringkali diriku merasa bahwa perasaanku seprti roller coaster. Naik dan turun begitu cepat.
Bahagia lalu tiba-tiba sedih. Semangat, lalu tiba-tiba malas lagi. Sebentar punya harapan, lalu putus asa lagi. Marah, tapi tidak tahu marah karena apa. Kesal, tapi tidak tahu kesal karena apa.
Kadang diriku merasa iri ketika mengenal seseorang yang bisa mengatur emosinya dengan baik. Dan membuatku merasa, ‘Aku tidak bisa selamanya seperti ini’.
Aku harus bisa mengatur emosiku. Jika sedih, jangan be