Januar datang. Adalah sahabat Nanda dengan tingkat kecerewetan yang tiada batasnya. Bersamaan dengan Dante yang membawa putrinya. Tentu Nanda suka. Pulang dari tempatnya bekerja, di sambut dengan dua sahabatnya plus satu anak kecil yang akan menghiburnya.
“Dia lagi rewel,” kata Dante yang tampak menghela napasnya. Ada gurat lelah yang Nanda lihat di wajah ayunya. “Aku juga nggak tahu kenapa tiba-tiba bisa demam terus nangis dari semalam.”
“Lo mah gabut! Anak sakit di bawa nongkrong. Kalau suami lo tahu, kagak di ceramahi juga syukur.” Januar tahu tabiat Ardika jika itu menyoal anaknya. Mulutnya bakal nyinyir nyenyenye lebih-lebih dari gerbong kereta api cuii. “Eh, by the way. Tetangga lo itu apa kabar?”
“Tetangga yang mana?” Nanda pura-pura bodoh. Kan nggak lucu mesti ngomong sejujurnya