Maha sedang bersama Pulung.
Jika biasanya mereka akan menghabiskan malam di ruang kerja Maha, maka mala mini berbeda. Maha membawa laptopnya ke kamarnya dan membawa Pulung untuk menidurkan kepalanya di pahanya.
“Mas lagi sibuk?”
Itu hanya pertanyaan namun Maha merasa jika itu kode. Tangan satunya yang lenggang langsung mengelusi kepala Pulung dengan pelan.
“Kenapa, Yang?” Di balik dengan pertanyaan. Pulung nggak lagi kaget kalau suaminya bertingkah kayak gitu.
“Dengerin, ya. Aku punya kata-kata gini: Simple logic-nya adalah, kalau belum bahagia, ngapain punya anak? (dalam sebuah pernikahan loh ya, mas).” Maha mengangguk sembari menyingkirkan laptopnya dari atas pangkuannya untuk fokus pada obrolan yang akan di bangunnya bersama Pulung.
“Kenapa membuat bayi yang innocent terpaksa ma