Aroma petrichor tercium dengan kuatnya. Merebak masuk ke indera penciuman di hujan turun waktu sore hari.
Pulung sedang duduk santai dengan anaknya sembari menunggu Maha kembali. Memang belum waktunya, tapi Pulung tahu suaminya itu selalu pulang lebih awal di hari-hari tertentu.
“Mama!” panggil Baraja yang berada di dapur. Berlari menghampiri Pulung dengan sekotak es krim di tangannya. “Kakak beliin ini buat abang. Mama mau?”
Pulung tersenyum dan mengangguk. Orangtua mana, sih yang sanggu menolak pemberian sang anak? Bagi Pulung Rinjani, Baraja itu lucu. Suka bertingkah seolah-olah sudah dewasa tapi tak jarang akan menangis ketika di goda.
“Terus kakaknya mana?” tanya Pulung usai menerima suapan pertama Bara.
“Di kamar,” jawaban Bara benar namun fokus matanya terus melihat isi es krim