Nasi kuning yang Naomi minta sedang di olah oleh Pulung dan Naomi serta Mbak Marni yang mengurusi goreng-menggoreng ayam dan t***k bengeknya.
“Memang kalau pakai bumbu siap pakai itu rasanya kurang ya, ma?” tanya Naomi dengan lemas namun juga penasaran ingin tahu. Ini sedikit ribet—ralat, memakan waktu banyak. Karena Pulung memasukkan bahan-bahan yang benar-benar bukan bumbu instan ke dalam nasi yang akan di masaknya.
“Kurang sedap saja, kak. Kalau pakai yang masih murni gini, ‘kan lebih enak dan aromanya lebih tercium.”
Naomi hanya menganggukkan kepalanya. Mengerti tidak mengerti, nyatanya ini memang ilmu baru. Sewaktu-waktu Naomi akan membutuhkannya terlebih dirinya akan hidup dalam jarak jauh dari kedua orangtuanya.
“Kalau aku ngekost nanti, pasti bakalan kangen sama masakan mama.”