Semuanya sedang berkumpul: Ayana, Dante, dan Pulung. Ketiganya sudah menjadi akrab dan sperti sahabat. Lebih menutup kasus lama, memendam masa lalu dan melihat masa depan. Toh ingin di sesali juga sudah berlalu. Ingin di pijaki kembali—hanya sesekali saja untuk bahan pengingat jika mereka pernah ada di masa itu, masa tersulit dalam hidup—juga bukan sesuatu yang mungkin. Intinya, mereka bertiga lebih mensyukuri apa yang sudah ada dan apa yang sudah terjadi dalam hidup masing-masing.
Selalu ada hikmah di dalam sebuah perjalanan, begitu kata Pulung saat merangkul keduanya dan saling memaafkan.
“Sudah pesan?” tanya Dante yang lebih excited di banding Ayana dan Pulung. “Gue lapar banget,” lanjutnya dengan jari tangan mengabsen urutan menu satu per satu.
Ayana dan Pulung hanya saling berpanda