Tak banyak yang bisa Maha lakukan selain diam dan menjadi pengamat. Dalam drama, lakon-lakonnya tengah Maha jalankan. Peran-perannya sudah sesuai seperti dalam narasi. Alurnya juga campuran karena mengungkap banyak misteri yang perlu di sibak. Tidak mudah namun menyerah bukan jalannya.
Belum tahu bagaimana hasil garapannya. Tapi mencoba selalu yang Maha lakukan. Kunci keberhasilannya selain memilih bertahan dalam pertarungan, Maha punya jutaan cara untuk tidak pernah berhenti berusaha. Dan di sinilah hasil akhirnya.
Setelah lelah yang mendera menuntut dirinya menjadi seorang sutradara. Maha bisa menikmati dengan napas yang terhela teratur.
“Semua infonya valid. Kemungkinan besar ada campur tangan dari pihak keluarga Mija yang tak kasat mata.” Jelas Mira—asistennya. Wanita paruh baya yang telah bersama Maha sejak berdirinya perusahaan. “Tapi jika ditelusuri lebih detail, buktinya mengarah ke Aksara.”
Kejutan. Maha hendak marah awalnya. Mendengar kata ‘kemungkinan’ yang lebih terkesan kepada ragu-ragu. Sekarang disebut nama Aksara, entah mengapa lambungan dadanya kian membusung ke depan.
“Selain itu?” tanya Maha. Tangan panjangnya mengambil foto-foto lawas yang tercetak di sana. Ada sepasang kekasih yang berbahagia memadu kasih. Senyum keduanya terbit dengan apik. Raut wajahnya terekspresi penuh bahagia. “Ada yang lainnya?”
Potret terakhir sedikit membuat denyutan jantungnya tertikam. Embusan napasnya memberat. Ada dua bayi tergeletak di masing-masing boks yang Maha kenali. Itu adalah tempat tidurnya dulu. Maha pernah melihatnya di gudang belakang rumahnya sewaktu mencari sesuatu. Sekian tahun berselang, yang dulu begitu Maha tanyakan: apakah ini miliknya. Kini terjawab sudah. Hebatnya ada dua. Sedang di gudangnya hanya ada satu.
“Dia kembaranmu.” Mira berganti dengan pengucapan yang lebih santai. Pada dasarnya, sudah Mira anggap Maha seperti putranya sendiri. Dan tahu semua seluk beluk perjalanan kehidupan Maha untuk sampai di titik ini. Bukan berarti Mira melempar tatapan kasihan. Mira peduli. Itu saja.
“Dia perempuan. Yang sayangnya…” Di keluarkannya selembar surat keterangan usang. “Meninggal. Jantungnya bocor. Hanya bertahan sampai dua minggu. Aksara berusaha mencari pendonor namun tidak ada hasil yang bisa di harapkan.”
“Sesayang itu?”
Kepala Mira terangguk. Tahu betul bagaimana cerita selengkapnya. Sejatinya, Aksara bukan lelaki jahat yang bisa menebas nyawa seseorang. Menghentikan kehidupan dari wanita yang Aksara cintai bukan caranya bekerja. Ini murni ancaman yang mengambinghitamkan nama Aksara. Terlepas dari benar tidaknya… Mira tidak bisa mengulik terlalu dalam. Itu bisa saja bagian sensitif di diri Maha.
“Hm.” Tidak tahu bagaimana lagi harus Mira jelaskan. Karena persoalan ini terlihat lebih rumit daripada cara mengungkap faktanya. Di balik semua perilaku Aksara yang tega mengasingkan istri keduanya, diam-diam rasa cintanya tak pernah luntur. Bahkan di detik ini, Mira percaya ketulusan Aksara.
“Jangan pernah kasihan ke orang cuma dari yang kamu lihat.” Perkataan Maha belum Mira pahami maksudnya. Menunggu lanjutannya, Mira diam. “Yang kamu temukan belum tentu benar sepenuhnya. Manusia bisa berubah wujud dan memasang muka sebanyak mungkin untuk menutupi boroknya.”
Ada sorot dendam yang terpancar lewat mata Maha. Mira bergidik ngeri melihatnya. Dendam, sakit hati dan ketidakterimaan bersatu di dalamnya. Meski tahu risiko apa yang harus Mira ketahui berada di bawah naungan Maha, tetap saja ini membuatnya merinding maksimal. Suasana mencekam di ruangan juga melingkupi. Membuat Mira lemas mendadak di tempatnya. Tindakan Maha sepengetahuan Mira sangat tidak bisa di tebak.
Barangkali memang begitu cara kerja dunia. Banyak menyimpan rahasia yang terungkap secara tidak adil di masa mendatang. Karena takaran adil di tiap-tiap masanya memiliki arti dan makna yang berbeda. Jika dulu jalan ini menjadi satu-satunya solusi tanpa berpikir adakah yang terluka atau menentang secara mati-matian. Di zaman sekarang, keadilan bahkan masuk tataran hukum dalam Undang-undang. Yang tidak semua orang bisa berbuat semena-mena. Terlebih bertindak sesuka hati dalam perkara nyawa seseorang.
Pantas jika seringai di bibir Maha kian terlihat jelas. Mira merekam aksi Maha cukup dalam ingatannya. Teruntuk dirinya sendiri agar tidak bertindak melanggar aturan. Bagi Mira, Maharaja Askara adalah seseorang yang sangat humble. Dia sangat ekspresif dalam segala hal baru yang di temuinya. Dia juga berlagak apa adanya meski arogan sangat mendominan di darahnya.
“Menurutmu kenapa Aksara melakukan itu?”
Aduh! Mira kalau boleh jujur di beri pertanyaan serasa tebakan begini nggak akan otaknya nyambung. Di samping umurnya yang sudah uzur, ketimbang menebak, Mira lebih suka aksi yang langsung mengulik semua bukti. Asal arahannya mudah untuk di gali, dalam kurun waktu dua puluh empat jam, memudahkan kinerjanya berjalan.
“Pekerjaan kita mengharuskan mulut dan otak bekerja sejalan. Bahkan tindakan sangat penting untuk di libatkan. Artinya, kamu tidak bisa melibatkan perasaan. Belas kasih terhadap targetmu bukan suatu pilihan yang tepat. Hanya perlakuan kejam dan itu yang paling benar.”
Nah sudah Mira duga. Ucapan Maha akan mengeluarkan bisanya pada waktunya. Otaknya sudah pasti menyusun rencana cantik untuk segera di tindak lanjuti. Taruhan, paling lambat malam ini atau besok pagi. Akan Mira temui inbox di email yang membeludak.
“Aku tunggu.”
Maha tidak suka pertanyaan bertele-tele. Dengan satu penjelasan sudah membuat Mira mengerti. Ada pekerjaan baru yang menunggunya untuk segera di usut.
“Dan soal Pulung…” Langkah Mira terhenti di belakang pintu. “Jauhkan Ardika dari radarnya. Aku melihat batang hidungnya.”
Ah lelaki itu. Saudara seayah Maharaja yang tidak dalam satu rahim. Mira tahu sepak terjang lelaki pemegang perusahaan Aksara. Yang masih tampan di usia pertengahannya dan begitu di elu-elukan oleh seluruh jajaran perempuan.
Menghela napasnya, Mira mengangguk. Beranjak dari ruangan Maha dan pikirannya melalang buana pada sosok Ardika. Pulung Rinjani termasuk perempuan beruntung yang dijadikan pilihan oleh Ardika. Cantik dan kalem. Mandiri dan tegas. Pantas jika Dante—sepupu Pulung—berambisi menyingkirkan Pulung apapun caranya. Pantas jika bocah semenggemaskan Naomi Aksara begitu memuja Pulung.
Masalah utamanya tidak jauh-jauh dari kekuasaan dan posisi.
Ardika Aksara yang merasa paling benar sebagai putra tunggal Aksara inginnya menguasai semua kepemilikan dalam bawahan papanya. Sekalipun tahu ada darah lain yang Aksara alirkan, tak menjadikan Ardika hambatan. Terlebih latar belakang keluarganya yang menjadi faktor pendukungnya. Melawan takkan menghasilkan apa-apa selain dendam tak berujung.
Sama halnya dengan Mija. Darahnya tak tanggung-tanggung. Mengalir keturunan ningrat kondang. Darah biru Mija menjadikan d******i Aksara menguat. Tak sekadar ambisi, Mija menyetting Ardika layaknya robot yang bisa di setelnya kapan pun. Jelas jalan menuju puncak begitu mudah terbuka. Tanpa perlu merangkak apalagi jatuh bangun. Karena hanya dengan satu kedipan mata, semuanya berpindah tempat dalam sekejap.
Bagi Mira penganut ‘jalan ninja’ ribet bukan sesuatu yang dirinya suka. Prinsipnya, apa saja yang hendak di capainya, kejar. Bukan berleha-leha.
Jatuh bangun lagi.
***